141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Lebam


__ADS_3

Hamna berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Jantungnya seperti ikut berlari keluar begitu pihak rumah sakit mengatakan bahwa Haidar kritis.


Panggilan dari Shafiya tak dihiraukannya, kakinya terus menjejaki lantai rumah sakit yang dingin. Dinding rumah sakit turut jadi saksi biksu tangis putus asa dari mata Hamna, yang sejak tadi terus mengalir.


Sesak dan sesal terus menghimpit dadanya, menguras semua perasaan yang dipunya. Tatapnya terus mencari ruang yang dimaksud. Hatinya mencelos sakit begitu mendapati sekujur tubuh yang terbaring lemah. Dengan selang infus di tangan kanannya.


Monitor di sisi tempat tidur menunjukkan bahwa tubuh itu masih hidup. Isaknya tertahan di ujung pintu. Tak sesiapa boleh masuk ke dalam, hanya Dokter dan Perawat yang memiliki akses tak terbatas. Hamna memelas memohon pada Dokter yang baru saja keluar.


"Dok, bagaimana keadaannya?" tanyanya langsung. Di belakangnya, Shafiya terengah mengejar langkah. Dokter itu menggeleng lemah.


"Cukup memprihatinkan, kecelakaan yang dialaminya cukup parah. Sekarang pasien masih dalam kondisi kritis, dua orang lainnya mengalami luka-luka yang cukup serius," jelas dokter itu singkat.


Hamna dan Shafiya saling pandang. "Maksud Dokter, pasien yang terluka dalam mobil itu bukan hanya seorang?" Hamna lebih dulu bersuara.


"Ya, mereka bertiga. Menurut keterangan saksi. Pengendara membawa mobil itu secara ugal-ugalan, lalu karena kehilangan kendali jadi menabrak pembatas jalan. Salah satunya terluka sangat parah, wajahnya bahkan sulit diiidentifikasi polisi."

__ADS_1


Setelah memberi penjelasan, Dokter itu pergi demi melanjutkan tugasnya. Sedang Hamna dan Shafiya kian bingung. "Fiya, bukankah kamu bilang Pak Haidar mencariku seorang diri?" Shafiya mengangguk pasti.


"Mungkinkah Pak Haidar mengajak temannya, Na?" Hamna terduduk lemah, memangku resah bersamaan dengan tanya kian membuncah. Di sampingnya, Shafiya turut merasakan ketidakpastian ini.


"Hamna!" panggil seseorang dari kejauhan. Tampangnya lusuh beserta pipi lebam membiru. Rambutnya kusut masai, lingkar hitam membayang di bawah mata. Jalannya terseok, sakit. Di belakangnya sepasang orang tua mengikutinya gusar berbentur kalut.


Apalagi hati seorang Ibu langsung terkoyak begitu kabar burung anak laki-lakinya terluka.


Dengan digandeng Fawwaz, perempuan setengah baya itu bersandar mencari kekuatan.


"Pak Haidar?" Hamna berkali-kali mengedipkan mata, takut pandangannya salah mengira. Atau matanya mengabur lantaran menangis.


Hamna memeluknya begitu saja. "Saya kira, saya kira..." gagapnya tertahan isak. Kembali bulir-bulir itu mengaliri pipinya tanpa ijin.


Ia menangis. Shafiya, Fawwaz dan Hannah juga ikut berderai air mata. "Ceritanya panjang, Na. Kamu baik-baik saja, kan?" alih-alih memerhatikan dirinya, Haidar justru mengkhawatirkan gadis di dekapnya.

__ADS_1


"Seharusnya saya yang bertanya begitu, Pak. Pak Haidar terluka, luka ini" lirihnya berlelehan air mata. Jemarinya menyusuri jejak darah yang dari dahi hingga ke pelipis pipi Haidar.


Hannah dipeluk Fawwaz, hati orang tua itu juga tak kuasa menahan pilu. Shafiya sejak tadi menghapus bening yang luruh ke pipi.


Siapa yang mampu menahan tangis melihat Haidar yang kondisinya membiru dan luka-luka? Hamna tak kalah mengiba. "Apa yang terjadi? Kenapa jadi begini, Pak?" tanyanya kembali merabai luka-luka itu.


"Aww, jangan disentuh, Na. Sssh terasa ngilu," ringis Haidar. Hati Hamna kian teriris.


"Sebaiknya kita obati dulu lukamu, Pak."


"Iya, setelah itu ceritakan kepada kami apa yang terjadi," Fawwaz yang sejak tadi diam, kini berujar saran, menyetujui Hamna.


Setelah itu, Haidar digiring keempat orang untuk melakukan pemeriksaan. Mengobati luka-luka tak lupa membasuh diri.


Dalam hati, Hamna bersyukur ternyata bukan Haidar yang terkapar di ranjang pasien kritis sana. Namun ia juga terus merutuki dirinya. Jika ia tak lari, mungkinkah Haidar akan mengalami semua ini?

__ADS_1


Semakin diingat Hamna, semakin meleleh air matanya. Di hadapannya, Haidar sedang dibalut lukanya dengan perban. Laki-laki itu tersenyum.


"Akhirnya saya menemukanmu, Na" batinnya. Tak sia-sia usahanya mencari semalam suntuk hingga dihadang preman dan berakhir mengenaskan.


__ADS_2