
"El-Ghazy, kamu sembunyi di mana? Aku tidak akan berhitung 1-10. El-Ghazy di mana kamu? 1,2,3 aku datang." ujar Hamna bernyanyi, matanya tertutup. El berlarian riang ke sana kemari saat lengan Hamna menggapai-gapai udara kosong. Keduanya tengah bermain 'Cari dan Tangkap Aku'
"Kakak, Kakak, El di sini. Ayo tangkap, ayo tangkap" jawabnya sambil menepuk-nepuk tangan mungilnya.
El terus membuat suara-suara agar Hamna bisa menemukan posisinya. Namun alih-alih ditangkap, El terus saja berpindah-pindah tempat, membuat gadis itu kesulitan.
Haidar masuk dengan mendorong koper milik El. Ia memerhatikan kedua orang yang tengah asyik bermain itu. Tak pernah ia melihat Hamna sebahagia itu. Tawanya menyihir Haidar, dengan perlahan lelaki itu berjalan menghampiri Hamna.
"El, kamu di mana, sih?"
"El di sini, El di sini, ayo tangkap!" seru El bersembunyi di belakang Haidar, membuat laki-laki itu terdorong ke depan.
"Aku menangkapmu!" Hamna berujar senang sambil memeluk sosok di hadapannya, namun bukan El yang dipeluknya. Merasa dipeluk tiba-tiba, lelaki itu terdiam kaku dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Tunggu dulu, ini bukan El" pikirnya, dengan cepat ia membuka penutup matanya. "Oh ya ampun, Pak Haidar!" matanya mengerjap-ngerjap tak percaya.
"Maaf, maaf, maafkan saya. Saya tidak tahu, ta-tadi mata saya ditutup. Jadinya saya tidak tahu kalau Pak Haidar di sini" ujar Hamna panik.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Na. It's okay, tidak masalah" ujarnya seraya tersenyum penuh arti. El yang memerhatikan keduanya pun berseru "Kakak kok peluk Uncle sih bukannya peluk El?" lalu ketiganya tertawa.
"El kok mainnya kayak gitu? Kalau nanti El atau Kakak terluka gimana?"
"Maaf Uncle, El cuma ajak Kakak main. El tidak nakal kok, Uncle. El tidak bohong"
"Tidak apa-apa. Kita makan malam dulu, yuk?" ajaknya yang diangguki oleh Haidar dan El bersamaan.
Setelah itu, mereka duduk dan makan malam bersama. Dengan penuh perhatian, Hamna menyuapi El yang makan dengan lahap. Hal itu membuat Haidar iri, ia mengetuk-ngetuk piringnya dengan sendok hingga menimbulkan bunyi 'ting' yang keras, ia jadi kesal sendiri.
"Kenapa tidak makan, Pak? Tidak enak?" tanya Hamna saat dilihatnya Haidar hanya memainkan makanannya.
"Kakak, mungkin Uncle mau disuapi juga kayak El" seloroh El asal yang membuat Haidar tersedak seketika.
"Uhuk-uhuk, El!" Hamna memberinya segelas air, Haidar meminumnya dengan cepat seraya tangannya menepuk-nepuk pundak Haidar pelan. "El, Uncle sudah besar, Uncle bisa makan sendiri" tak peduli, El melanjutkan makan ayam gorengnya dengan santai.
"Sudah lebih baik, Pak?" Haidar mengangguk, "ya, terimakasih"
__ADS_1
"Lanjutkan makanmu, Pak"
"El sudah selesai belum? Kalau sudah yuk cuci tangan dulu sebelum tidur" dengan patuh El mengikuti Hamna.
Di meja, Haidar tengah mengeluh, "Cih! kenapa jadi El yang dapat perhatian, sih? Seharusnya mereka tidak menyuruhku menjaga El. Kalau begini, apa bedanya El dengan saingan cinta?"
"El mau baca cerita atau nonton kartun?" tanya Hamna, kini mereka bertiga ada di ruang keluarga. "El suka baca cerita" Hamna tersenyum. Lalu ia memberi El buku-buku cerita yang dimilikinya.
"Oke, El baca cerita sama nanny dulu, ya. Kakak sama Uncle mau kerja dulu. El baik-baik di sini sama Nanny, ya. El dengar Kakak tidak?" El mengangguk seraya tangannya yang mungil memberi tanda ibu jari.
Di ruang kerja, Haidar tengah sibuk melakukan video konferensi. Suara ketukan di pintu menghentikan fokusnya. Sejenak, ia menatap sosok yang ada di ambang pintu. "Saya mengganggu?" bisiknya.
Haidar lalu mengakhiri video konferensinya, "tidak, saya sudah selesai. Masuklah dan tunjukkan kepada saya sudah sampai mana pekerjaannya?"
Hamna masuk sembari membawa dua cangkir kopi, ia meletakkan satu cangkir tepat di samping laptop Haidar laki-laki itu menggumamkan terima kasih.
"Oh, ya, saya sudah membaca skripsi milikmu. Secara keseluruhan semuanya sudah bagus, kamu hanya perlu mengoreksi bagian typography dan daftar pustaka saja. Saya mau kamu memperbaikinya besok, bisa kan?" Jelas Haidar panjang.
__ADS_1
Hamna mengangguk, "tentu saja bisa, besok juga bisa saya selesaikan" jawab Hamna seraya membuka laptop putih miliknya. "Santai saja mengerjakannya, tidak perlu buru-buru, bagaimana pun kamu harus istirahat yang cukup. Jangan terlalu kelelahan" celotehnya, ia menyandarkan punggungnya di kursi.
Dilihatnya Hamna sudah fokus mengetik, ia berdecak pelan "ck, aku tidak didengarkan lagi" ia hanya bisa bernapas kasar. "Kapan aku bisa mendapatkan perhatian darimu, Na?" gumamnya lagi, lalu menutup mata, pergi ke alam mimpi.