
"Mana Haidar? Kenapa belum datang juga?" tanya Hayan gusar, sampai jam 10 malam, Haidar belum juga datang menunjukkan wajahnya. Itu membuat semua orang merasa resah. Hayan bahkan sudah merasa tak enak hati dengan rekan bisnis yang diundangnya malam ini.
Fawwaz menghampiri Hayan, ia memintanya untuk duduk dan menunggu dengan sabar, "mungkin Haidar masih dijalan atau dia ada pekerjaan jadi agak terlambat, tenanglah, Hayan" ujarnya memenangkan, meski sebenarnya ia tahu bahwa Haidar pasti sengaja melakukannya untuk membuat Hayan kesal sendiri.
Tak lama setelah perbincangan singkat mereka, Haidar masuk disusul oleh Hamna. Semua pandangan tertuju pada Hamna yang melangkah dengan begitu anggun. Untuk beberapa detik, semua mata yang berada di ruangan itu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Hamna. Dengan santai, ia menyapa semua orang yang berdiri menatap ke arahnya. "Assalamualaikum. Selamat malam semuanya. Maaf telah menunggu lama" Hamna menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Selamat malam, Ayah dan Ibu, Paman, Tante, semuanya. Maaf, tadi Haidar ada sedikit pekerjaan mendesak. Maaf sekali sudah membuat semuanya menunggu" Haidar melanjutkan, ia juga turut menundukkan kepalanya hormat.
"Haidar! Dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru datang? Kamu tahu tidak, kamu sudah tidak menghormati para paman dan tamu?" Youssef bertanya lebih dulu. Haidar menatap paman keduanya itu. "Paman, sudah Haidar katakan tadi, Haidar ada pekerjaan yang mendesak" jawab Haidar santai. Youssef tampak memerah, kesal.
__ADS_1
"Sudah, sudah, harap maklum. Akhir-akhir ini Haidar sangat sibuk. Karena Haidar sudah datang, mari kita pergi ke ruang makan, semuanya silahkan" Fawwaz menengahi.
"Tunggu dulu, Kak! Sebelumnya aku mau bertanya kepada Haidar, siapa gadis yang Haidar bawa ini?!" sentak Hayan. Ia melirik ke arah kolega bisnisnya, Pak Han, yang juga bertanya-tanya.
"Iya, Nak Haidar. Perkenalkanlah gadis itu kepada kami" ujar Pak Han berusaha ramah. Padahal dalam hati, ia benar-benar merasa tersinggung. Beruntung istri dan anak perempuan Pak Han berada di atas sehingga tidak menonton ketegangan di antara mereka.
Hamna yang merasa gilirannya untuk tampil pun turut unjuk diri, "halo, paman-paman semuanya, perkenalkan, saya Hamna" tidak seperti tadi, kali ini, Hamna menegakkan kepalanya.
Karena merasa malu, Pak Han marah. Wajah yang semula ramah seketika berubah merah padam. "Apa-apaan ini, Hayan? Kau mencoba mempermalukan putri dan keluargaku?" katanya dengan marah.
__ADS_1
Hayan dan Youssef mencoba menjelaskan situasinya. "Tidak, Pak Han. Tolong dengarkan penjelasan kami, ini pasti hanya kesalahpahaman saja ... " alih-alih mendengarkan, Pak Han semakin marah. "Cukup! Aku tidak butuh penjelasan. Kerja sama atau apapun yang ada diantara kita, aku batalkan!" lalu ia memanggil istri dan anak perempuannya untuk pergi dari kediaman Musyaffa.
Hayan berusaha mengejar Pak Han yang meninggalkan ruangan dengan amarah tapi dicegah oleh adiknya, Youssef. "Sudah, Kak. Percuma mengejar mereka"
"Itu benar, Hayan. Sudahlah, keluarga Musyaffa bukanlah keluarga yang selemah itu hingga harus mengemis dan mengiba kerja sama pada keluarga lain" jelas Fawwaz santai seolah tidak ada yang terjadi.
Hayan menghela napas, ia menggerutu dalam hati. "Tapi, Kak ... " Fawwaz berdeham menyela Hayan yang akan berbicara "sudah hampir lewat makan malam. kita akan bicarakan masalah ini nanti. Apakah kau tidak malu, Hayan?" mata Fawwaz memandang ke arah Hamna. Jika Fawwaz sudah berkata demikian, maka ia tak akan bisa apa-apa lagi, Hayan dan Youssef mengikuti Fawwaz ke ruang makan.
"Kamu baik-baik saja, Na?" Tanya Haidar saat Ayah dan para pamannya itu sudah pergi. Hamna mengangguk, "ya, saya baik-baik saja, Pak" Lalu keduanya turut mengikuti yang lain pergi ke ruang makan.
__ADS_1