141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Kakak Cantik


__ADS_3

Sejak jam 6 sore, Hamna sudah bersiap untuk hadir di acara ulang tahun pernikahan orang tua Haidar. Hannah dan Fawwaz. Dengan diantar supir, ia datang ke acara yang megah itu. Orang-orang dengan setelan jas mahal dan gaun mewah rancangan designer tampak memenuhi pintu masuk, tak terkecuali Hamna yang sudah berpakaian serapi mungkin. Mengenakan gaun berwarna hitam dengan corak emas di sekitarnya, membuatnya tampak elegant malam ini.


Senyumnya merekah begitu disambut hangat oleh Tuan dan Nyonya rumah itu. "Hamna, kamu juga datang, Nak. Sebuah kejutan sekali," sapa Hannah ramah seraya memeluk Hamna senang. Fawwaz pun melakukan hal yang sama, bagi pasangan suami istri itu, Hamna sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Tentu saja aku datang, Bu. Bagaimana mungkin aku tidak datang? Selamat ulang tahun pernikahan, untuk kalian. Aku harap kalian tetap harmonis dan langgeng sampai tua." Hannah dan Fawwaz tampak tersenyum dan menerima hadiah dari Hamna dengan senang hati.


"Aamiin, aamiin, aamiin. Terima kasih, ayo masuk, Nak!" ujar Fawwaz penuh perhatian. Hamna lalu memasuki ruangan yang penuh dengan tamu undangan itu.


Ruangan luas itu tampak indah, dihias dengan dekorasi-dekorasi pita dan lampu yang tampak cantik. Para tamu undangan sibuk berbincang satu sama lain. Hamna berdiri dengan kikuk, tak tahu harus melakukan apa. Ia tak bisa membaur dengan tamu undangan lain karena ia tak mengenalnya.

__ADS_1


"Kakak Cantik!" sebuah panggilan memaksa Hamna untuk menoleh. Di sana, di dekat tangga seorang anak kecil sudah berdiri seraya memegangi satu buket bunga mawar.


Anak kecil itu tersenyum begitu melihat Hamna memandangnya. Seketika saja El langsung berlari kegirangan. "Kakak Cantik! El bawa bunga untuk Kakak Cantik!" teriaknya lalu memeluk Hamna erat.


Di belakangnya, Haidar berjalan mendekati keduanya, tersenyum penuh arti. Setelan jas hitam formal dengan vest yang dikenakannya menambah aura ketampanannya. Beberapa perempuan bahkan sempat mencuri pandang padanya.


"El sangat baik, Kakak. El juga senang bisa lihat Kakak Cantik di sini. Ya kan Uncle?" mata anak kecil itu terlihat lebih berbinar dari biasanya. Hamna tersenyum, ia meraih buket bunga mawar itu dari tangan mungil El. Lalu menghirup aromnya, harum.


"Bunga yang cantik untuk perempuan tercantik malam ini," puji Haidar yang berhasil membuat gadis itu tersipu. Haidar bahkan tak mengalihkan pandangannya jika saja El tak hadir di antara keduanya.

__ADS_1


"Uncle tidak boleh, tidak boleh seperti itu," protes El pada Haidar. Laki-laki itu tertawa. "El, Uncle gak jahat sama Kakak Cantiknya El. Uncle cuma puji Kakak Cantiknya El. Memangnya El tidak lihat kalau Kakak bertambah cantik?" tanya Haidar.


El tampak menelisik Hamna dari atas sampai ke bawah. Membuat Hamna semakin gugup saja. "Ya, Uncle. Kakak Cantik tambah cantik, ya" puji El dengan polosnya.


"Kamu sudah bertemu orang tua saya, Na?" Hamna mengangguk, tanpa berani menatap Haidar. "Iya, baru saja" jawabnya singkat.


Suara lucu El kembali terdengar di sela-sela percakapan mereka. "Uncle, acaranya sudah mau mulai," katanya seraya menarik-narik celana lelaki itu.


"Iya, El. Ayo ajak Kakak Cantik ke sana." El menggangguk paham, lalu tangan kecilnya meraih tangan Hamna dan Haidar bersamaan, menuntun keduanya untuk ke podium. Tempat di mana Fawwaz melakukan sambutan hangatnya.

__ADS_1


__ADS_2