141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Jangan Takut, Ada Saya


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Haidar langsung masuk ke dalam rumah Hamna yang pintunya sedikit terbuka, seisi rumah itu sangat berantakan. Rak-rak lemari terbuka pintunya, beberapa vas dan piring pecah, beling dan kaca pecah berserak di lantai.


Ia berteriak-teriak memanggil nama Hamna berulang-ulang "Hamna ... Hamnaaa ... Kamu di mana? ... " hatinya dilingkupi kepanikan saat tak mendengar sahutan apapun. Ia memeriksa ruangan di lantai bawah satu persatu. Namun sama seperti ruang tamu dan dapur, kesemua ruangan itu berantakan. Beberapa barang berharga seperti televisi dan pajangan mahal hilang dari tempatnya.


Haidar beranjak ke lantai atas, masih dengan terus meneriakkan nama Hamna berkali-kali, nihil, tak ada sahutan. Hingga ia sampai pada pintu yang terkunci dari dalam, tanpa berpikir, ia menendang pintu itu hingga terbuka sepenuhnya. "Hamna? Kamu di sini?"


"Sial, kenapa Hamna tidak ada di manapun? Apakah para pencuri itu menangkapnya? Oh tidak ... Telepon, ya, coba kutelepon ponselnya" suara dering ponsel terdengar dari dalam lemari di samping Haidar. Ia langsung membuka pintu, dan betapa kagetnya Haidar saat menemukan Hamna terkulai lemah di dalam.


"Tidak ... Tidak ... Jangan bunuh saya ... Jangan bunuh saya ... Lepaskan saya ... huhuhu" Hamna mengigau ketakutan. Bagai diremas, hati Haidar mencelos sakit. Ia mengusap pipi Hamna yang basah oleh air mata. Dalam hati, Haidar terus merapal kata maaf. Gadis itu pasti sangat ketakutan sampai ia mengigau, lalu Haidar membawa Hamna dalam pelukannya.


"Jangan takut, ada saya di sini. Kamu sudah aman, Na. Maaf, maafkan saya. Saya pastikan kamu tidak akan pernah mengalami kejadian seperti ini lagi, saya janji" ucapnya masih dengan memeluk Hamna.

__ADS_1


"Haidar, apa Hamna sudah ketemu? ... Ya ampun! Hamna kenapa? Apa yang terjadi?" teriak Hannah yang baru saja masuk bersama Fawwaz, mereka terkejut melihat Hamna yang terkulai lemah dalam pelukan Haidar.


"Ibu, Ayah. Haidar sudah menemukan dia dalam keadaan pingsan di dalam lemari. Ibu sudah memanggil dokter?" ujarnya. Hannah mengangguk, "iya, sebentar lagi Fatih datang. Ya ampun bagaimana bisa begini?" lirihnya, lalu turut mengambil duduk bersama Haidar.


Ia hendak mengambil Hamna dari pelukan Haidar namun Hamna memeluk Haidar begitu erat.


"Ibu, Haidar rasa Hamna sangat shock, dia sangat ketakutan tadi, dia bahkan mengigau 'jangan bunuh aku', Bu ... " lirih Haidar. Hannah mengangguk lemah, "ya, tetap peluk Hamna sampai dokter datang, berikan ia rasa aman"


Hannah memeriksa keadaan Hamna laksana seorang Ibu yang mengkhawatirkan anaknya, ia menyeka dahi Hamna yang dipenuhi keringat dengan ujung hijabnya.


Ia membopong Hamna lalu membaringkannya di kasur, Hannah menyelimuti gadis itu. Tak lama Hamna sadarkan diri dan berteriak, "pencuri! ... pencuri! ... " yang membuat Fawwaz, Hannah dan Haidar panik.

__ADS_1


"Hamna ... Hamna ... Buka matamu, tenang, ya" ujar Haidar sembari menggenggam tangan Hamna. Berharap semoga genggamannya itu dapat menenangkan Hamna.


Syukur Fatih datang lalu memeriksanya dengan cepat. Ia memberikan Hamna suntikan penenang dan obat tidur. Hamna terlelap setelah beberapa saat meronta.


Fawwaz dan Hannah beranjak dari sana, memberikan waktu bagi Hamna untuk beristirahat dengan tenang. Dengan diikuti beberapa polisi Fawwaz memulai investigasi dan mencari para pelaku pencurian itu.


Haidar duduk dengan gelisah, saat Fatih telah selesai membuat laporan medisnya, Haidar bertanya, "bagaimana keadaannya?" tanyanya. Fatih melepaskan stetoskop yang dipakainya.


"Dia baik-baik saja, tekanan darahnya menurun karena shock lalu pingsan. Setelah istirahat, dia akan lekas membaik. Jangan khawatir" jelasnya sambil tersenyum.


Haidar bernapas lega mendengarnya, "syukurlah dia tidak apa-apa" Ia duduk di sofa, lengannya mengusap kepalanya frustasi. Fatih hanya menggelengkan kepala, lalu mengambil duduk di sebelah Haidar.

__ADS_1


"Something wrong?" Haidar bergumam, "hmm"


"Can u tell me, dude?" Haidar menatapnya lesu, seolah mengerti, Fatih menepuk pundak Haidar pelan. "Take your time, okay? Tenangkan dirimu, semuanya akan membaik. Hubungi aku kalau ada apa-apa, aku akan keluar sebentar" lalu Fatih pergi dari sana. "Oke"


__ADS_2