141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Sebuah Penjelasan


__ADS_3

Setelah Alice dan Erick keluar, suasana begitu hening, hanya deru napas Hamna yang terdengar jelas. Haidar beranjak mengunci pintu seolah berjaga takut sesiapa mengganggu obrolan mereka.


"Jadi, apakah Pimpinan Zuhayri Group memiliki sebuah penjelasan?" tanya Haidar langsung. Kakinya duduk menyilang, sorot matanya tajam. Haidar yang kini berada di hadapan Hamna jauh berbeda dengan yang ia kenal. Haidar yang sekarang bertanya padanya terkesan arogan.


"Katakan sesuatu, Hamna!" sentaknya, Hamna terperanjat.


"Ap-apa yang bisa saya jelaskan? Bukankah Tuan Musyaffa sudah menandatangani kontraknya barusan?" Hamna berkilah. Mengalihkan pandangan, enggan menatap Haidar yang kelihatannya sudah berang.


"Kamu mau menguji kesabaranku berapa banyak lagi, Na? Aku lelah. Aku lelah terus mencarimu. Apakah sekarang kamu juga mau bersikap begitu tak peduli?" lirih Haidar. Nada bicaranya mulai melemah. Tatapannya tak setajam tadi, kini ia memandang Hamna dengan memelas.


"Setidaknya jelaskan mengapa kamu pergi 3 tahun lalu agar aku, laki-laki yang mencintaimu tidak hancur berkeping-keping oleh harapan itu." Diam. Hamna membisu. Tak tahu dari mana seharusnya ia menjelaskan.


"Maaf ... " ucap Hamna pada akhirnya. "Maaf jika aku menyakitimu ... " lanjutnya lagi, setitik bening luruh juga di matanya. Setitik bening itu berubah jadi derai yang memeras hati Haidar. Di hadapan laki-laki yang dicintainya, rasa cinta perempuan berubah jadi deras air mata.

__ADS_1


"Jangan menangis ... Jangan menangis lagi Na. Aku yang seharusnya minta maaf." Ia tak pernah bisa melihat Hamna menitikkan air mata. Ia merogoh sapu tangan di saku jasnya dan menghapus air mata Hamna yang luruh membasahi hijabnya.


"Maaf, kamu pasti sangat terluka oleh ucapan Paman Hayan waktu itu makanya memilih pergi. Maaf, aku yang tidak bisa memahami keadaanmu waktu itu," ucap Haidar lagi. Ia harap tangis Hamna bisa mereda.


Hamna menggeleng sambil menyeka bekas air matanya. "Tapi ucapannya benar, Pak Haidar berhak mendapat wanita yang lebih pantas. Keluarga Musyaffa harus mendapatkan perempuan yang lebih baik, bukan gadis yatim sepertiku," kata Hamna sambil terisak.


"Apa yang kamu katakan, Na? Jangan berkata seperti itu. Bagiku, kamulah yang paling pantas untukku. Kamu saja sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tak memerlukan kesetaraan atau apapun itu. Karena sejak awal yang kuingin hanya kamu," terang Haidar sungguh-sungguh. Kemarahan yang semula seolah lenyap ditelan angin.


Deg. Hamna mencelos. Apakah selama 3 tahun ini orang-orang begitu kehilangannya?


"Maaf ... Sekali lagi maaf. Aku memang egois, aku memang pantas disalahkan ... " ujarnya, hatinya telah dihajar kenyataan pahit berkali-kali. Tangisnya luruh lagi. Tapi tangis saja tak akan mengubah waktu dan apa yang terjadi.


Haidar menggeleng. "Bukan salahmu sepenuhnya. Kamu berhak menentukan jalan hidupmu sendiri, kamu yang paling berhak atas hidupmu. Hanya saja, Na, jika sebelumnya kamu menceritakan impianmu denganku, bukankah kita bisa meraihnya bersama? Percayalah, aku akan terus mendukungmu sampai akhir. Kamu selalu bisa mengandalkan aku."

__ADS_1


Hamna menggeleng keras. "Tapi bukan itu yang kumau. Aku ingin berhasil atas usahaku sendiri, aku tidak ingin jadi perempuan yang mengandalkan pria untuk meraih mimpiku. Ini tujuanku sejak awal, entah Pak Haidar datang atau tidak, aku akan tetap menempuh jalan ini. Seorang Hamna akan jadi wanita yang mandiri," lugas Hamna.


Meski hatinya terasa tercabik-cabik, ia tetap mempertahankan logikanya. Ia harus bisa berdiri sejajar agar orang-orang tidak meragukan posisinya, agar orang-orang tidak bisa menghinanya lagi.


Selama 3 tahun terakhir di antara mereka mungkin banyak hal yang berubah. Tapi kebijaksanaan Haidar saat menghadapi keras kepala Hamna tetap sama. Laki-laki itu tetap bersedia mengambil langkah mundur untuk memberi Hamna jalan.


"Baik. Sekarang aku mengerti. Entah dulu ataupun sekarang. Sepertinya kamu memang sangat sulit untuk bisa kuraih, Na. Dulu Ibu berkata padaku, jika aku mencintai seseorang, aku harus bisa menghormati keputusannya. 3 tahun lalu begitu, dan sekarang pun tetap sama," Haidar menatap ke luar. Menatap lalu-lalang kendaraan di tengah teriknya mentari.


"Yang perlu kamu ingat baik-baik, Na. Jangan mempermainkan ketulusan seseorang demi ambisimu seorang. Yang menyukai dirimu dan mengagumi dirimu mungkin sangat banyak. Tapi, yang mencintaimu dan bersedia menunggumu selama bertahun-tahun hanya aku orangnya." Haidar tersenyum getir.


"Aku harap kamu bisa menyingkirkan sedikit keras kepalamu untuk mencoba menerimaku sekali lagi. Hanya kali ini aku memohon padamu, jika jawabanmu tetap tidak, aku tidak berani mengharapkan apapun lagi."


Setelah mengucapkan kata-kata yang menohok Hamna itu, Haidar berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Hamna yang terdiam dalam kecamuk pikiran dan kebimbangan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2