141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Awal Baru


__ADS_3

Haidar mengendarai mobil Mercy hitam miliknya menuju kawasan perbelanjaan. Siang ini ia sudah berjanji pada Hamna untuk menemani gadis itu berbelanja kado untuk ulang tahun pernikahan orang tuanya.


Ia sendiri sudah berkata tidak perlu membeli apa-apa, kedatangan Hamna saja sudah lebih dari cukup. Tapi Hamna tetap bersikeras untuk membeli sesuatu sebagai bentuk penghormatan kepada Tuan dan Nyonya Musyaffa.


Haidar merogoh sakunya, menjangkau gawai dan menekan nomor untuk menghubungi Hamna. "Kamu masih di mana?" tanyanya begitu telepon tersambung.


"Pak!" seru seseorang yang tak jauh dari tempat Haidar berdiri. Ia lantas menutup teleponnya, sebab seseorang yang ia cari ada di belakang.


"Dari tadi, Na?" tanya Haidar saat Hamna berdiri tepat di hadapannya. Hamna menggeleng pelan. "Baru saja sampai, Pak"


Kemudian keduanya berjalan memasuki area perbelanjaan tersebut. Keduanya langsung menuju toko yang menampilkan display tas-tas local brand. Hamna tertarik untuk membelinya. Hamna berpikir Ny. Musyaffa seharusnya menyukai sebuah tas lokal, bukan?


Setelah keduanya memilih sebuah tas yang Haidar jamin akan disukai Hannah, Ibunya.


"Sudah selesai?" tanya Haidar saat keduanya berjalan ke luar dari toko. Hamna tampak menimbang. "Ya, saya rasa sudah, Pak. Pak Haidar sendiri tidak membeli sesuatu?"


"Tidak, kalau kau sudah selesai, bagaimana kalau kita minum kopi sebentar?" ajak Haidar. Ia ingin menghabiskan waktu dengan Hamna sebelum ia kembali ke kantor.


Pria itu menunda pekerjaannya begitu saja saat Hamna menghubunginya. Jika Haidar ingat-ingat, ini adalah kali pertamanya Hamna berinisiatif meminta bantuannya. Maka dari itu Haidar tak ragu sedikit pun untuk menunda pekerjaannya.

__ADS_1


Kini keduanya berada di sebuah kafe, duduk dalam kebisuan yang seringkali terjadi saat keduanya bersama. Hamna lebih menyukai diam, sedang Haidar lebih gemar menatap Hamna bersama sunyi yang mengitarinya.


Seorang pramusaji mengantarkan pesanan mereka 15 menit kemudian.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Haidar saat pramusaji itu selesai menata kopi keduanya lengkap dengan dessert kesukaan Hamna.


Gadis yang tengah mengaduk cangkirnya itu seketika menoleh, keningnya berkerut. "Pak Haidar tanya apa tadi?"


Lelaki itu tersenyum. "Bukan sesuatu yang penting, sih, hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu. Maksud saya setelah kamu berbicara dengan Zayyan kemarin itu. Are you okay, hm?"


Sebenarnya sejak kemarin Haidar ingin bertanya hal itu, tapi ditahannya karena Haidar tak mau merusak suasana kemarin. Saat di mana Hamna datang padanya dengan senyum yang merekah. Sangat cantik, sampai Haidar tak sadar telah menjatuhkan buku yang tengah dipegangnya.


Hamna membenarkan posisi duduknya, karena ini pertanyaan yang serius baginya. Ia menatap lekat kepada Haidar seraya tersenyum.


"Pertama-tama, saya ingin ucapkan terima kasih kepada Pak Haidar. Jika bukan karena nasihat Pak Haidar waktu itu, mana mungkin saya bisa serela ini sekarang? Terima kasih," ujar Hamna tulus.


Degup jantung Haidar berdebar kencang. Bukan hanya sekali, tapi setiap kali ia melihat Hamna tersenyum padanya, jantungnya seolah memompa lebih cepat. Debar yang Haidar suka.


"Ya-ya, saya ikut senang akhirnya kamu bisa melepaskan rasa sakitmu. Tak ada yang lebih indah dari ikhlas, kan? Saya bahagia jika kamu bahagia."

__ADS_1


Kini, jantung Hamna yang berdebar merdu. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia melihat sosok Haidar dalam kacamata yang berbeda. Jika dulu Haidar orang yang seringkali membuatnya jengkel. Kini ia menganggap pria yang di hadapannya sebagai sosok yang bijaksana dan memesona!


Haidar tampak meminum kopinya pelan. Dan Hamna tampak serius memerhatikannya.


"Oh, ya, Na. Bagaimana dengan Zayyan?" tanya Haidar tiba-tiba membuyarkan lamunan Hamna. "Hah? Oh, ya-" Hamna tampak gelagapan.


Ia berdeham pelan untuk menetralkan rasa canggungnya. "Ya, soal itu. Awalnya dia bersikeras mengatakan bahwa dia masih mencintai saya dan meminta kesempatan, paling tidak untuk membuktikan bahwa dia tulus meminta maaf." Hamna tampak meminum kopinya pelan.


"Lalu?"


"Apa lagi? Saya katakan dengan jelas bahwa hubungan antara saya dan dia sudah berakhir sejak 5 tahun lalu. Tak ada yang tersisa kecuali rasa sakitnya. Dan, ya, saya memaafkanya. Saya memaafkannya, menurut Pak Haidar apakah itu adil untuk saya?"


"Hmm, mungkin tidak bagimu. Saya tahu kamu yang paling terluka di sini. Dan memaafkannya begitu saja terdengar tak adil. Seseorang seharusnya menghukum dia, ya kan?" Hamna mengangguk setuju. Jauh di lubuk hatinya, ia memang ingin lelaki itu mendapatkan balasan atas rasa sakit yang diterima Hamna.


"Tapi, Na. Menurut saya memaafkannya jadi adil bagimu jika alasanmu adalah tidak mau terus terbelenggu rasa sakit itu. Sekarang, bukankah kamu merasa lega setelah menyelesaikan semuanya?" Hamna tersenyum.


"Iya, Pak. Sekali lagi, terima kasih telah membantu saya untuk mencapai titik terikhlas ini dan memulai sebuah awal yang baru."


Haidar mengangguk pelan dan tersenyum. Tak sia-sia usahanya membantu Hamna untuk pulih. Kini, ia dapati Hamna yang baru. Yang telah ikhlas dan lebih bahagia. Tak ada hal yang membuat Haidar bahagia selain melihat orang tercintanya bahagia juga.

__ADS_1


__ADS_2