141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Kenang yang Mengusik


__ADS_3

Malam beranjak meninggalkan senja dalam ingatan. Desau angin seolah menjadi teman setia Hamna tiap hatinya terusik.


Gadis itu terduduk di tepi jendela, menatap titik-titik air yang mulai jatuh. Angin sejuk berembus memainkan beberapa anak rambutnya. Di tangan kanannya, sebuah buku usang tergenggam.


Sesekali ia membuka lembar buku yang mulai menguning secara acak, membacanya sekilas lalu menutupnya kembali. Rintik hujan semakin deras, ia beranjak dari duduknya dan menutup jendela itu cepat.


"Aduh, kenapa mendadak hujan, ya" gerutunya setelah menutup jendela. Lalu, diletakkannya buku itu dengan pelan. Tangannya beranjak mengambil secangkir kopi hangat yang sempat dibuatnya.


Rasa pahit mengaliri tenggorokannya seketika. "Setidaknya rasa pahit kopi ini tidak sepahit hidupku, ya kan?" Ucapnya bermonolog. Meski pahit, kopi hitam adalah pilihan yang tak ia lupa kala gundah menyapa.


Suara petir mengagetkannya, lantas gadis itu lirih beristighfar. Ia kembali termenung menatap bulir air yang menampar kaca jendela kamarnya.


"Kenapa? Kenapa di saat aku mulai melupakannya, kenangan itu justru mengusik kembali ingatanku tentangnya?"


"Apakah hidupku memang sebercanda ini?"


Ditatapnya lagi buku usang itu. "PERGILAH KAU DARI HIDUPKU!" Hamna melempar buku itu dengan keras ke tembok. Lembarannya berserakan di lantai.


Dengan pedih, ia mengumpulkannya kembali. "Jangan mengusik hidupku seperti ini, kumohon. Aku lelah, jika harus terus menata hatiku. Ini tak mudah, apakah kau tahu itu?"


Bergetar hatinya tatkala kembali membaca rangkaian tulisan usang di sana. Puisi-puisi itu. Sajak yang ia tulis tentangnya. Tentang perasaan, cinta, luka, kekecewaan dan kerinduannya akan sosok itu.

__ADS_1


Seseorang yang pernah menjadi alasan Hamna untuk bangkit setelah badai kedukaan menghantamnya dengan keras, ialah sosok penguat Hamna saat ia kehilangan orang-orang tercintanya.


Sosok yang sangat dicintainya, namun siapa sangka? Orang yang paling dicintainya itu jugalah yang menyebabkan luka tak terperikan di hati Hamna. Derasnya hujan seolah menjadi melodi yang bersenandung untuk Hamna.


Dadanya terasa sesak, sesuatu menusuknya begitu dalam dan Hamna belum bisa menyembuhkannya. Ia tak bisa berdamai dengan kenangan-kenangan pahit itu.


Meski ia telah mencoba menerima apa yang terjadi bertahun-tahun lalu. Dada Hamna tak bisa lapang. Trauma itu terus menikamnya lebih dalam.


Suara ketukan di pintu mengalihkan lamunan Hamna untuk sesaat. Ia mengusap pipinya yang basah lalu mengenakan hijabnya.


Seorang ART berdiri di depan pintu kamarnya, memberitahu. "Maaf, Mbak mengganggu waktu istirahatnya. Itu di bawah ada seseorang. Katanya mau bertemu dengan Mbak Hamna"


"Terus siapa? Bilang saja saya sedang sibuk jadi tidak bisa menerima tamu"


"Sudah, Mbak. Tapi tamunya bersikeras ingin bertemu dengan Mbak."


Hamna semakin penasaran siapa yang begitu bersikeras ingin bertemu dengannya. "Bibi ada tanya namanya?"


"Sudah ditanya, tapi tamunya hanya jawab kalau Mbak Hamna pasti kenal"


Hamna tampak menimbang. "Ya sudah, Bibi suruh tamu itu tunggu 15 menit, nanti saya ke bawah" ujar Hamna akhirnya. "Baik, Mbak"

__ADS_1


Hamna mengganti pakaiannya dengan agak kesal. "Siapa sih yang bertemu di tengah hujan seperti ini? Mengganggu orang saja!" gerutunya sambil berjalan.


"Bi, buatkan aku kopi, ya" pintanya sesaat sampai di dapur. Lalu dengan tegas ia menghampiri sosok yang tengah menghadap jendela itu.


Tubuhnya basah kuyup oleh air hujan dan meninggalkan jejak air di lantai. Membuat Hamna semakin geram. "Bawakan handuk dan lap lantainya sampai bersih" bisiknya pada ART.


Laki-laki itu berbalik dan mengusap wajah lusuhnya. Hamna melengos, tak mau menatap seseorang itu. Seorang ART memberinya kopi, ia mengambil cangkir kopi yang uapnya masih mengepul.


"Maaf jika aku telah mengganggu waktumu malam-malam" ujarnya dengan suara bariton yang tinggi.


Deg! Bagai dihantam badai, Hamna membeku di tempat, cangkir kopi di tangannya sampai terjatuh dan hancur berkeping-keping. Seperti hatinya sekarang.


"Kau?"


•••


To be continued...


Kira-kira siapa ya laki-laki itu?


•••

__ADS_1


__ADS_2