
"Sekarang Pak Haidar sudah tahu kebenaran dari masa lalu Hamna... Akankah Pak Haidar?" Shafiya menggantung ucapannya.
Haidar yang tengah menatap langit malam pun seketika beralih kepada Shafiya. "Boleh saya jujur padamu, Fi?" Shafiya mengangguk.
Haidar membenarkan duduknya, menatap cangkir kopinya yang telah habis sepenuhnya. "Saya tidak pernah merasakan perasaan jatuh cinta sebelumnya. Apa itu cinta? Saya juga tak tahu. Sejak saya berusia 18 tahun, saya terus sibuk dengan belajar, belajar dan bersekolah."
"Saya tidak pernah mengenal cinta itu dengan baik, bahkan saat teman-teman seusia saya berpacaran, mencoba jatuh cinta, menjalin hubungan dengan beberapa wanita, saya menganggap hal itu hanya bagian dari masa muda saja."
"Singkatnya, saya benar-benar tidak paham seperti apa cinta itu, selain cinta adalah perasaan yang mungkin ada di hati manusia. Tapi... Saat saya bertemu Hamna waktu itu, saya tahu saya sudah jatuh rasa. Saat saya menatap matanya waktu itu,"
"Saya merasa dibalik tatapan tajamnya, ia menyimpan banyak luka. Dan semakin menatap mata itu, saya semakin penasaran, luka apa saja yang pernah di terimanya hingga ia sebegitu acuh terhadap orang di sekelilingnya."
__ADS_1
"Dan hal itu justru membuat saya ingin mengetahuinya, mengetahui lebih jauh tentangnya. Hingga kini, saya akui, rasa penasaran itu berubah jadi perasaan ingin terus menjaganya. Katakan pada saya, Fi, apakah itu termasuk cinta?"
Shafiya terdiam, ia juga tak tahu harus menjawab apa. Perasaan Haidar terhadap Hamna bukan saja cinta, tapi lebih daripada cinta itu sendiri. Ia salah meragukan Haidar.
"Saya tahu kamu pasti meragukan saya, kamu pasti bertanya-tanya apakah setelah mengetahui semua masa lalunya, saya akan menjauh. Iya, kan?" Shafiya tampak mengangguk ringan, membenarkan dugaan Haidar.
Haidar tersenyum tipis, jujur, hatinya sedikit terluka, tapi wajar bagi Shafiya untuk meragukannya. Setelah apa yang dialami oleh sahabatnya, Hamna, Shafiya hanya ingin berhati-hati.
"Jawabannya tidak, saya akan tetap menemaninya dalam keadaan apapun. Bahkan jika dia mendorong saya untuk pergi, saya akan tetap ada di sana, menunggunya." Haidar terkekeh, ini adalah sebuah kebodohan, Haidar! Tapi, apa artinya itu di hadapan cinta? batinnya.
"Saya semakin percaya, dengan Pak Haidar, Hamna akan kembali menemukan kebahagiaannya. Hanya saja, Pak, mungkin akan sulit bagi Hamna untuk membuka hati,"
__ADS_1
"Maksud saya, setelah apa yang ia alami dan sifat keras kepalanya itu, tak mudah baginya untuk dapat percaya dan jatuh cinta kembali, saya harap Pak Haidar dapat mengerti hal itu."
Haidar terkekeh. "Hei, apakah ini Shafiya yang berbicara?" ejeknya, lalu keduanya tertawa. Setelah Shafiya menceritakan segalanya, ia merasa sedikit lebih lega sekarang.
Begitu pula Haidar, ia merasa senang bisa mengungkapkan perasaannya terhadap Hamna kepada gadis itu. Paling tidak, satu orang mengetahui ketulusannya.
Malam kian larut, Shafiya pamit untuk pulang.
"Hati-hati di jalan, Shafiya. Kabari saya kalau butuh sesuatu," kata Haidar sedikit menunjukkan rasa pedulinya.
Shafiya mengangguk sambil menyampirkan tas di bahunya. "Siap, Pak Dosen! Kalau saya bingung sama mata kuliah saya, bimbingan Pak Haidar masih berlaku, kan?" ujarnya basa-basi, membuat Haidar tertawa.
__ADS_1
"Hahaha, ya, tentu. Berlaku sampai kapan pun," balasnya serius, Shafiya tampak senang.
"Oke, Pak. Saya pamit, ya, beri tahu saya kondisi Hamna, ya. Kalau memungkinkan saya ingin menjenguknya," Haidar mengangguk, setelah itu Shafiya langsung berlalu dari sana.