141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Menjadi Dewasa


__ADS_3

"UNCLE!!!" teriak seorang anak kecil berusia 5 tahun, anak laki-laki itu menghentakkan kakinya dengan marah, matanya yang kecil menatap Haidar penuh kekesalan, Haidar menepuk jidatnya. "Gawat, gawat, gawat, aku lupa ada El di mobil" batinnya.


Ia tersenyum kepada El, lalu menggendong anak kecil itu. "Keponakan Uncle yang ganteng dan baik, maaf ya, Uncle lupa" ucapnya, satu tangannya menyentuh kupingnya. "Hmph!" ketus keponakan Haidar itu, bersedekap. Hamna menatap keduanya tak berkedip.


Haidar membujuk anak kecil itu dan memintanya mengucapkan salam kepada Hamna. Dengan patuh, El-Ghazy Musyaffa Shaifullah turun dari gendongan dan menyapa Hamna dengan wajah lucunya. "Assalamu'alaikum, nama aku El-Ghazy Musyaffa Shaifullah. Kakak cantik panggil aku El, ya" ucapnya, lalu menghambur ke dalam pelukan Hamna.


Hamna terkejut dipeluk tiba-tiba oleh El. Melihat El yang begitu tiba-tiba memeluk Hamna, ia pun kembali menggendong El. "El, jangan begitu, El bikin Aunty jadi kaget. Ayo minta maaf" ucapnya.


El meronta minta diturunkan. "El mau peluk Kakak cantik, El mau peluk" El mulai menangis, namun Haidar belum kunjung melepaskan anak kecil yang malang itu. "Tidak apa-apa, Pak. Biar saya gendong"


"Hati-hati, Na, El agak berat, lho" dengan segera, El memeluk Hamna erat. "Wah, El anak baik, ya" Puji Hamna sambil menjawil hidungnya yang mungil, El tersenyum menggemaskan membuat Hamna tanpa sadar mencium pipinya.


Di samping Haidar menahan geram. "El!" geramnya, menatap El sinis. "Uncle, kok matanya melotot kayak Hulk gitu?" tanya El seraya menunjuk dan memperagakan bagaimana Hulk ketika marah, tingkahnya membuat Hamna tertawa.


Haidar menggaruk tengkuknya tak gatal, salah tingkah. "Mana ada sih, El? Uncle gak melotot gitu, kok" elaknya. Melihat Hamna yang tertawa oleh tingkahnya El, ia melunak. Ia jongkok dan berbisik. "Kali ini, Uncle maafin El. Tapi kalau nanti El dicium sama Kakak Hamna lagi. Uncle bakal kirim El kembali ke Amerika, mau?" mata kecil El menatap Haidar tak peduli, ia menjulurkan lidahnya sambil bergumam "Uncle jahat!"

__ADS_1


El lalu berlari ke luar membuat laki-laki itu kembali gemas, "EL-GHAZY!!!" teriaknya, hendak berlari namun Hamna menahannya. "Dia masih anak-anak, Pak" ujarnya kembali duduk, "biarkan El bermain" Haidar menatapnya.


"Saya harus cari Nanny-nya dulu" Haidar lalu bergegas pergi mengejar El. Melihat itu, Hamna menggelengkan kepalanya tak percaya. Haidar selalu membuatnya terkejut. Dering ponsel mengalihkan perhatiannya untuk sesaat. Di layar pipih itu tertera nama 'Shafiya' dalam sekali geser, ia menjawab panggilan itu.


"Hamna!!! Pak Haidar bilang rumahmu ada pencuri masuk? Are you okay right now? Ada yang sakit?


Atau ada yang terluka gak? Tell me something, please!" suara melengking Shafiya terdengar, Hamna segera menyingkirkan ponselnya dari telinga.


"Aku baik-baik saja, kok. Semuanya sudah ditangani dengan baik. Jangan khawatir" balas Hamna lembut. Di ujung telepon, Shafiya menarik napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik, ya, Na. Aku akan sedih kalau ada sesuatu yang terjadi padamu. Oh ya, tadi aku kirim bunga untukmu, lho" Shafiya berujar.


Di seberang, Shafiya tengah mempersiapkan dokumen-dokumen perceraian milik Ibunya. "Bunda baik-baik saja, hari ini kami mau pergi ke pengadilan, sidang pertama" bisiknya di akhir kalimat.


"Benarkah? Aku ikut, ya?" tanya Hamna menawarkan diri. Namun, Shafiya menggeleng keras. "Tidak, tidak, tidak perlu. Kamu istirahat saja baik-baik di rumah. Lagipula ini hanya sidang mediasi. Aku juga bisa menanganinya sendiri. Kalau ada apa-apa aku akan mengabarimu nanti."


"Baiklah, hati-hati ya. Aku akan berdoa saja, semoga prosesnya berjalan lancar. Sampaikan salamku pada Bibi Ayuna" ujarnya, lalu setelah itu, telepon ditutup sepihak. Hamna melempar ponselnya ke sembarang tempat.

__ADS_1


Jemarinya memijit-mijit kepalanya yang terasa pening lagi. Entah berapa banyak beban pikiran yang ditanggungnya. Seiring waktu, orang-orang akan berubah bersama masa. Beberapa berubah karena beranjak dewasa, beberapa lagi berubah karena didewasakan oleh waktu. Betapa waktu dapat merubah segalanya.


•••


PREVIEW EPISODE BERIKUTNYA...


"EL-GHAZY, ENOUGH!" teriak Haidar yang sedari tadi masih sibuk mengejar El di taman. Anak kecil itu berlarian dengan riang, tak memedulikan pamannya yang sudah kewalahan. "Tak mau, tak mau. Kejar El kalau Uncle bisa" ejeknya, lalu ia berlari ke dalam.


Tak memerhatikan jalan, El justru menabrak Hamna dan membuat gadis itu terlonjak kaget. "Aduh, El, kok lari-lari?" tanyanya seraya mengangkat El yang terjatuh. El menangis kencang, kakinya terkilir. Dengan panik Haidar menghampiri keduanya.


•••


HAPPY READING...


With Love, Author

__ADS_1


— HK


__ADS_2