141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Sebuah Keputusan


__ADS_3

"Oh ya kata Pak Haidar skripsimu sudah hampir selesai?" tanya Fiya, usai melepas semua kesedihannya, gadis itu kembali menjadi sosok yang periang dan banyak bertanya. Hamna mengangguk sambil mengaduk kopinya pelan.


"Tinggal sidang dan revisi saja. Doakan aku semoga bisa segera selesai, ya"


"Tentu dong, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, tahu?" cetusnya bersedekap. "kapan sidangnya, Na?" tanyanya lagi.


"Hari ini jam 1 siang" jawab Hamna santai, namun lain halnya dengan Shafiya, gadis itu menggebrak meja dan berteriak, "apa?! Sidangnya hari ini tapi kamu masih santai di sini? Oh My God Hamna!!!" ucapnya, matanya membelalak tak percaya.


Hamna menarik kembali gadis itu untuk duduk, pasalnya pandangan orang-orang di resto itu mengarah kepada keduanya. "Pelankan suaramu, Fi. Setelah Dzuhur temani aku bersiap-siap, ya?" Fiya mendengus kesal, ia menyilangkan tangannya di dada.


"Shafiya... " panggil Hamna dengan nada membujuk. "Aku... " ucapannya terpotong oleh dering ponselnya. Perempuan itu langsung mengecek ponselnya, nama dosen pembimbingnya tertera di sana. Shafiya yang merasa penasaran pun mencuri lihat.


"Oh sudah sedekat ini ya sekarang. Aduh Pak Haidar sweet banget ya" godanya yang membuat Hamna agak salah tingkah. "Dia pasti mau tanya soal sidangku" jawab Hamna mengelak.


"Eh kok ditolak? Aku bisa pergi kok kalau kalian mau mengobrol berdua" Shafiya mulai beranjak.


"Tidak, Shafiya, aku sedang tidak ingin mengobrol dengannya, sudah kubilang, Pak Haidar pasti hanya ingin bertanya bagaimana sidangku. Duduklah, kita pesan makan sekarang, aku sudah lapar" Hamna mulai memesan makanan. Diikuti Shafiya, keduanya memesan makanan yang sama.

__ADS_1


"Kamu yakin, Na, tidak akan menelepon Pak Haidar lagi?" tanya Shafiya kembali, ia takut mengganggu hubungan keduanya. Hamna menatapnya serius, "tidak Shafiya. Dia sibuk, untuk apa aku menelepon, aku kan sedang mengobrol denganmu di sini. Lupakan dulu hal itu, oke? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu"


"Baiklah, apa itu? Kenapa kamu tampak serius sekali?" Shafiya mulai penasaran. Hamna menghela napas panjang.


"Ya, aku mau melanjutkan magisterku di Inggris" Shafiya tampak terkejut. "Apa?! Inggris? Kamu bercanda, kan, Na?" tanyanya dengan nada yang meninggi. Ia menatap tak percaya pada sahabatnya itu.


Hamna menggeleng, "aku serius, Fiya, aku sudah mendaftarkan diriku. Tahun depan aku pergi" jelasnya. "Kamu mau meninggalkan aku di sini, Na?"


"Tidak, bukan begitu Shafiya. Aku mana mungkin meninggalkan kamu, tapi untuk mencapai hal-hal besar, keputusan yang kita buat juga harus besar, pasti akan ada sesuatu yang harus kita korbankan. Kamu mengerti apa maksudku, kan?"


"Kamu tahu kan apa tujuan hidupku sejauh ini? Apa yang membuatku tetap bertahan? Aku ingin mengambil alih kembali apa yang menjadi hak dan tanggung jawabku. Dan untuk itu, aku membuat keputusan sulit ini. Kau tahu, ini juga sulit bagiku, Fi" lanjut Hamna, membuat Shafiya tampak terdiam.


"Kamu tidak usah khawatir, di sana aku akan tinggal di apartemen milik keluarga Zubair, kebetulan mendiang Ayahku memiliki beberapa properti di sana. Aku akan mencoba mengelolanya sekaligus belajar lebih banyak tentang bisnis dengan relasi mendiang Ayahku. Semuanya sudah kupikirkan baik-baik, Fi" jelas Hamna kembali, ia meneguk kopinya hingga tandas.


Shafiya menarik napas merasa lega, jika Hamna sudah mempersiapkan segalanya dengan baik, tak ada yang bisa ia lakukan selain mendukung dan mendoakannya.


"Baiklah kalau begitu. Tapi berjanjilah jangan pernah melupakanku, oke?"

__ADS_1


"Mana mungkin aku melupakanmu. Ayo kita makan siang dulu. Setelah itu temani aku, ya"


Setelah itu keduanya mulai memakan makanan siang mereka yang sudah datang sedari tadi.


Baru beberapa menit keduanya menikmati makan siang mereka, ponsel Hamna berdenting, tanda sebuah pesan masuk.


"Selesai sidang jangan kemana-mana, saya akan menjemputmu."


•••••


Hai, selamat membaca. Semoga suka, ya.


Jangan lupa vote cerita ini, dan bagikan kepada teman-temanmu agar mereka bisa membacanya juga.


Salam Cinta,


Author.

__ADS_1


— HK


__ADS_2