141 Hari Mencintaimu (Tamat)

141 Hari Mencintaimu (Tamat)
Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Keesokan harinya Hamna bekerja seperti biasa, senyumnya mengembang cerah, secerah mentari yang terbit pagi ini. Atmosfer yang sama juga dirasakan karyawannya.


"Pagi Bu Nana," sapa seorang staff. Hamna tersenyum. "Ya, selamat pagi. Semangat bekerjanya, ya!" ujarnya menyemangati. Sang staff itu langsung tersenyum riang.


Hamna bernyanyi kecil hingga saat sampai di ruangannya, Alice muncul tepat di depannya. "Alice! Kamu mengagetkanku!" Alice terkekeh.


"Tampaknya ada yang sedang jatuh cinta lagi nih," goda Alice. Hamna tersipu. Apakah raut wajah bahagianya begitu kentara?


"Kamu ini, pandai sekali menggoda!"


"Tapi jujur lho, Bu. Aura bahagia Ibu itu serupa mawar yang mekar. Indah dipandang mata."


"Wah, wah, wah sejak kapan Alice jadi manis begini?" lagi Alice terkekeh. "Alice senang kalau Ibu senang. Jadi ... " Alice tampak menaik turunkan alisnya, berusaha menggoda Hamna lebih jauh.


"Sudah, Alice. Mana kopiku dan laporan yang kuminta semalam?" Alice tampak merungut kecewa. "Yah Ibu ... "


"Sebentar Alice ambilkan dari Natasha dulu, ya. Kopinya seperti biasa, kan?" Hamna mengangguk. Lalu mulai fokus pada pekerjaannya hari itu. Mempelajari proyek barunya di kawasan Santa Monica.


Tak lama Alice kembali dengan sebuah laporan dan secangkir kopi buatannya sendiri. "Ini laporannya dan ini kopinya." Alice meletakkan laporan itu tepat di samping Hamna.


Hamna membaca laporan itu dan mengernyit. "Kenapa, Bu? Laporannya ada yang salah?" tanya Alice melihat Hamna yang begitu serius.


"Di mana manajer keuangan, Alice?"


"Eh, di ruangannya Bu. Mau Alice panggilkan?" Hamna mengangguk. "Ya, cepat panggil dia." Lalu, Alice pergi memanggil manajer keuangan sesuai perintah Hamna.


15 menit kemudian, Alice dan Manajer keuangan datang. "Bu Nana memanggil saya?" tanya Edward — Finance Manager.


Hamna yang sedang duduk bersandar sambil memijit pelipisnya itu mengangguk lalu meminta Edward untuk duduk. "Kamu yang bertanggung jawab untuk membuat laporan pendanaan ini, kan?" Edward mengangguk.


"Coba baca lagi laporan itu, saya rasa kamu keliru." Edward mulai membaca laporan itu dengan tangan gemetar.


"Total pendanaan proyek itu seharusnya $2.000.000 tapi kenapa di sana tercatat lebih? Dan lihat, biaya konstruksi serta bahan bangunan ini kenapa sangat murah?" Edward tampak tak bisa berkata-kata.


"Ingat Edward, ini proyek besar kita. Jangan membuat kesalahan apalagi membuatku kecewa. Buat ulang laporannya sekarang!"

__ADS_1


"Ba-baik!" Setelahnya Edward pergi meninggalkan ruangan Hamna.


"Ya ampun, ada apa dengan Edward hari ini? Dia kelihatan sangat gugup tadi," ujar Alice menunjukkan kebingungannya.


"Alice, kamu masih belum mengerti juga? Awasi Edward dan cari tahu apakah keluarganya ada masalah? Aku tak akan membiarkan siapapun untuk menggelapkan dana perusahaan," terang Hamna.


Alice mengangguk, meski tak sepenuhnya mengerti. "Eh? Ba-baik Bu! Ada yang harus Alice lakukan lagi tidak, Bu?"


"Tidak ada, kembalilah bekerja."


Setelah Alice pergi dari ruangannya. Hamna kembali fokus pada pekerjaannya. Ia terus duduk di depan komputernya hingga mendekati jam makan siang.


***


Di lobby, Haidar sudah duduk menunggu Hamna turun. Resepsionist bilang pada jam makan siang, Hamna pasti akan turun untuk pergi ke luar ataupun makan di kantin perusahaan bersama staff yang lain.


Haidar melirik arlojinya. "Sudah waktunya makan siang tapi dia belum turun?" katanya pada dirinya sendiri. "Erick!"


"Ya, Tuan?"


"Presdir!" sebuah panggilan mengalihkan keduanya. Di dekat lift seorang gadis tampak berjalan cepat ke arah keduanya. "Tuan, itu sepertinya asisten Nona Zubair."


Haidar mengangguk. "Alice?" tanya Haidar begitu Alice berdiri tak jauh dari keduanya.


"Iya, Presdir pasti mencari Bu Nana, kan? Bu Nana masih bekerja di ruangannya, beliau tampak sibuk hari ini. Presdir kenapa menunggu di sini? Kenapa tidak langsung ke ruangannya saja?" Alice berucap panjang.


"Banyak pekerjaan?" Alice mengangguk. "Presdir langsung ke ruangannya saja. Bu Nana pasti senang kalau tahu Presdir datang." Haidar mengangguk.


Setelahnya Haidar pergi ke ruangan yang tadi sudah diberitahukan Alice. Sedangkan Alice dan Erick ditugaskan untuk membeli makanan.


Haidar mengetuk pintu ruangan itu pelan, terdengar sahutan dari dalam. "Masuk!"


"Hai, aku mengganggu tidak?" sapa Haidar.


Hamna sedikit terkejut. "Pak Haidar!" pekiknya lalu menyambut kedatangan Haidar dan mengajaknya untuk duduk.

__ADS_1


"Kok tiba-tiba datang? Kenapa gak kasih kabar dulu?" Hamna tampak senang dengan kehadiran Haidar di sana. Sedikit mengusir rasa peningnya akan masalah yang melandanya.


"Surprising my future wife," jujurnya seraya menggenggam jemari Hamna yang terasa dingin. Hamna tampak tersipu. Namun sedetik kemudian kepalanya yang terasa pening.


"Hei, Na. What happen? Are you okay, hm? Ini pasti karena kamu belum makan! Kamu nih kebiasaan ya, lupa makan terus." Haidar terus mengoceh.


Meski lisannya terus mengomeli Hamna tanpa henti. Ia tetap membantu Hamna berbaring di sofa. "Berbaring dulu sampai makanannya datang. Aku sudah pesan makanan tadi." Hamna mengangguk saja.


Haidar menatap Hamna sedih. "Na, please. Sesibuk apapun kamu, perhatikan kesehatanmu. Itu lebih penting dibanding pekerjaan. Kalau kamu sakit bagaimana kamu bisa mengurus perusahaan yang besar ini hm?" Haidar berpetuah panjang.


Di depannya, Hamna tampak terkekeh. Wajahnya berubah sedikit pucat tapi sama sekali tak melunturkan kecantikannya. Haidar memandangnya lama.


"Pak, kenapa, sih? Kok lihatnya kayak gitu?"


"Kamu sadar gak, sih, Na? Kalau kamu itu bisa bikin aku merasa jatuh cinta lagi dan lagi?"


"Ha?" Hamna bingung. Pak Haidar lagi gombal atau apa, sih? Hamna bertanya-tanya dalam hati.


Haidar terkekeh melihat wajah Hamna yang kebingungan. "Kayak sekarang. Kamu yang bingung kayak gini aja bisa bikin aku merasa jatuh cinta."


"GOMBAL!" Haidar tertawa keras disertai pukulan kecil dari Hamna.


"Cukup, cukup. Kali ini aku serius," Haidar menggenggam jemari Hamna. Menatapnya dalam. Hal yang sama dilakukan Hamna.


Bertahun-tahun, Hamna bisa merasakan bahwa cinta itu tetap sama. Meski banyak hal berubah, ia dapat merasakan bahwa cinta laki-laki itu untuknya tak berubah, masih begitu besar. Mungkin ini memang takdir mereka.


"Loving you was never in my plans before. But when I realized it, I really couldn't stop. Even as the years pass, you can still make me falling in love again." Haidar makin erat menggenggam Hamna. Seolah-olah jika ia melepasnya sebentar saja, Hamna akan pergi lagi darinya.


Hamna merangkai senyumannya. Perasaannya kian membuncah. Meledak-ledak dalam dada. Entah kapan pastinya ia menyadari bahwa perasaan jatuh cinta lebih mendebarkan dari sekadar mendapat tantangan.


"And you are the best part that God gave me, you are the best thing that is in my mind and heart. I don't know when I falling in love with you. But in future, Im sure to loving you day by day," balas Hamna tak kalah menyentuh.


Siang itu, keduanya seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Suara ketukan di pintu mengalihkan keduanya.


"Sepertinya makananmu sudah datang. Makan siang dulu, nanti kita lanjut lagi balas gombalnya, ya." Haidar beranjak membuka pintu. Mengambil makanan yang diantarkan langsung oleh Alice dan Erick. Kemudian, memakannya berdua.

__ADS_1


__ADS_2