
Hamna menggeliat lalu matanya mengerjap-ngerjap. Telapak tangannya dengan refleks memegangi kepalanya yang terasa berat. Dia menoleh pelan ke arah sofa, di sana seseorang terbaring lelah. Semalam suntuk, Haidar terus menjaga Hamna dan baru bisa tertidur selepas Subuh menghantar pagi.
Suara ketukan di pintu membangunkannya. Ia merentangkan tangannya menghilangkan pegal lalu mengucek matanya dengan ibu jarinya. Tangan kanannya meraih ponsel yang di nakas. Pukul 8 pagi, suara ketukan terus mengganggunya, dengan gontai ia membuka pintu. Sama sekali tidak memerhatikan seorang gadis yang tengah menatapnya.
"Selamat pagi, Pak. Saya bawakan bubur untuk sarapan" Haidar mempersilahkan ART itu untuk masuk. "Simpan saja di nakas sebelah sana, nanti jika Hamna ... Lho? Kamu sudah bangun, Na?" Hamna mengangguk lemah lalu bersandar ke dipan.
Haidar menghampirinya dengan cemas. "How your feeling, hm?" tanyanya. "Saya baik-baik saja ... Apa yang terjadi semalam? Kepala saya terasa sakit" Hamna bertanya sembari memegangi kepalanya, ia tidak mengingat dengan pasti kejadian semalam.
Haidar tak menjawabnya, ia mengambil mangkuk yang berisi bubur lalu menyuapi Hamna. Tanpa berpikir, Hamna membuka mulutnya, menerima suapan bubur dari Haidar. Setelah beberapa suapan berhasil ditelannya, Haidar baru membuka suaranya. "Pencurinya sudah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Kamu harus lebih banyak istirahat mulai sekarang, Na. Saya akan memindahkan jadwal bimbinganmu sepenuhnya di rumah."
"Hah? Kenapa begitu, Pak? Saya baik-baik saja, kan? Tidak ada luka serius atau apapun" protes Hamna. Ia tak mau berada di rumah terus-menerus.
__ADS_1
Haidar menarik napas, gadis keras kepala di depannya akan berulah lagi. "Aih, patuhlah, Na. Semalam kamu pingsan dan kondisimu lemah sekali, tahu tidak?"
Hamna membuka mulutnya, "hah? Saya pingsan?" Haidar mengangguk, "di dalam lemari, sambil menekuk lututmu seperti anak kucing."
"Oh My God, really?" Haidar terkekeh melihat ekspresi Hamna yang terkejut. "Habiskan buburmu lalu minum obatnya dan istirahatlah!"
"Tapi, saya masih penasaran, Pak. Bagaimana Pak Haidar tahu dan bisa datang ke sini? Seingat saya, saya memanggil panggilan darurat" Hamna bertanya penasaran. Haidar mengangkat bahu. "Mana saya tahu soal itu?" ucapnya acuh tak acuh. Apakah penting untuk mengetahui apa alasannya bisa datang ke sini semalam?
"Oh ayolah, Pak. Setidaknya beritahu saya, kenapa Pak Haidar bisa ke sini semalam?" Haidar menyeraj, gadis di depannya tak akan berhenti sebelum ia menjelaskannya dengan baik. "Baik, saya beritahu. Semalam, saya mendapat teleponmu yang sedang meminta tolong, kamu bilang di rumahmu ada pencuri dan kamu sangat sangat sangat ketakutan. Coba katakan, alasan apa lagi yang saya butuhkan untuk menolongmu semalam?"
Haidar mengangkat dagunya. "Kamu kenapa sih, Na? Kenapa minta maaf? You didn't wrong." bujuknya tak tahan melihat Hamna bersedih.
__ADS_1
"Saya hanya sendirian di rumah. Sebelumnya ada Bi Ina, tapi Bi Ina juga pergi meninggalkan saya. Apakah saya harus selalu sendirian selama hidup saya?" ia meracau saat menangis. Kejadian semalam benar-benar memukul batin Hamna telak. Rasa kesepian yang dipendamnya menyeruak berbentuk derai air mata.
Haidar membiarkan Hamna menangis meluapkan semua perasaannya. Ia pergi berlalu keluar meninggalkan Hamna yang tengah berduka. Sekali lagi, ia menatapnya sebelum benar-benar keluar. "Kenapa kamu tidak pernah jujur soal rasa kesepianmu itu, Na? Kenapa kamu selalu menyembunyikan kesedihanmu? Apakah kamu tidak tahu? Kamu yang bersedih seperti ini membuat hatiku sakit? ... "
"Jika saja kamu bersedia mengatakannya, aku akan terus berada di sampingmu. Menemanimu, menghapus air matamu dan menjadi sandar yang akan menguatkanmu. Kamu tidak pernah benar-benar sendiri, Na. Ada aku yang mencintaimu"
batin Haidar merana. Setelah itu, ia menutup pintu, membiarkan seorang Hamna tergugu di sana.
***
Happy Reading. Jangan lupa terus dukung author supaya lebih semangat update, ya!
__ADS_1
Salam Cinta
— HK