A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 10


__ADS_3

Samudera mempercepat weekly meeting yang baru saja dilakukannya bersama para perwakilan dari setiap departemen yang ada.


Dia penasaran, apakah Venus masih di ruangannya atau tidak lagi. Fikirannya sudah tidak bisa lagi diajak untuk berkompromi. Daripada tidak fokus, lebih baik segera diakhiri.


Robby yang membukakan pintu dan masuk terlebih dahulu tampak terkejut melihat seorang perempuan cantik dan seksi yang sedang duduk manis di kursi kebesaran Samudera.


Sontak membuat Robby menundukkan pandangan kemudian berbalik dan berusaha memberi kode kepada Sam melalui tatapan matanya.


Terlambat, Sam sudah terlanjur ikut masuk ke dalam ruangannya dan menyaksikan pemandangan yang sebenarnya sudah biasa di dapatinya.


"Apa anda membawa pesan dari ibuku, nona?" Tanya Sam tanpa basa-basi. Dia benar-benar sudah malas mendapati situasi seperti ini.


Sam sudah hafal diluar kepala kebiasaan ibunya mendatangkan perempuan cantik di kantornya setiap kali ada maunya.


Sebenarnya, ini sudah keterlaluan bagi Sam karena bagaimanapun ini adalah kantor, bukan tempat untuk melakukan tindakan asusila. Sebejat-bejatnya Sam, dia tidak akan melakukan itu di kantor dan sebanyak-banyaknya perempuan di kantor yang cantik dan menarik bahkan siap melayaninya, Sam masih cukup waras untuk menjaga norma dan etika yang dijunjung tinggi oleh perusahaan.


Samudera tidak ingin terlibat urusan lain selain pekerjaan dengan karyawannya karena itu akan berpengaruh pada kinerja karyawannya dan bisa jadi kelak itu akan berbalik menjadi bumerang baginya.


"Ibu anda dan kedua orang tuaku sudah mengatur makan malam keluarga kita malam ini di restoran A. Ibu anda meminta anda mengantarkan saya ke salon terlebih dahulu kemudian ke butik miliknya." Jawab perempuan tersebut dengan nada sensual.


Tidak ingin terlalu banyak mendengar bualan tak berguna perempuan tersebut, Sam langsung memberi kode kepada Robby agar segera menanganinya. Sam berlalu masuk ke dalam ruang pribadinya tanpa memperdulikan pemberontakan perempuan tersebut yang ditarik paksa oleh Robby keluar dari ruangannya.


"Sam... perintahkan anak buah kamu ini melepaskan saya atau aku laporkan ke ibumu sikap kurang ajar kalian kepadaku." Teriak perempuan tersebut namun tidak ada yang peduli. Samudera benar-benar menulikan telinganya.


"Pulanglah atau saya panggilkan satpam!" Ancam Robby menghentakkan tangan perempuan itu setelah keluar dari ruangan Sam.


"Saya tidak terima perbuatan kalian, tunggu saja pembalasanku!" Perempuan itu mengancam balik namun segera menuju lift meninggalkan Robby yang masih menatapnya dengan wajah garang.


Robby menghela nafas lega. Satu urusan teratasi, tetapi dia juga tahu, setelah ini Nyonya besarnya pasti akan terus meneror dirinya sebelum Sam datang menemuinya.

__ADS_1


"


"


Entah kenapa Sam merasa sedikit kecewa karena tidak menemukan Venus lagi di ruangannya.


"Aku kenapa? Kenapa harus peduli perempuan itu? Sudah cengeng tidak ada seksi-seksinya lagi. Tapi menarik!" Monolog Sam.


Sam bergedik sendiri mendapati dirinya yang merasa seperti bukan dirinya yang selama ini tidak pernah peduli kepada perempuan manapun. Sam membasuh wajahnya berkali-kali kemudian menatap pantulan dirinya dari cermin. Sam menelisik jauh ke dalam pandangannya. Kembali Sam membasuh wajahnya.


"Ini tidak boleh dibiarkan!" Monolognya lagi.


Sam menyeka wajah dan tangannya kemudian merapikan penampilannya. Dia ingin kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.


Saat keluar dari kamar pribadinya, ternyata Robby masih menunggunya. Sam berjalan mendekati meja kerjanya kemudian duduk di kursi kebesarannya.


Sam menyandarkan tubuhnya kemudian melakukan beberapa peregangan pada jari- jemarinya dan batang lehernya.


Ibu tetaplah ibu, seburuk apapun adanya, Samudera tetap menyayanginya. Itu tidak bisa dibantah.


"Sudah 20 panggilan tak terjawab dari Nyonya semejak perempuan itu masuk ke dalam lift." Jawab Robby sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Sam.


Sam menghela nafas kasar. "Sepertinya aku harus mencari perempuan yang bisa aku jadikan istri jadi-jadian agar ibu tidak lagi mengirim perempuan-perempuan murahan itu ke sini. Aku sudah lelah menghadapinya."


"Maksud bapak, istri jadi-jadian?" Robby benar-benar tidak mengerti jalan fikiran Sam.


"Ya istri.. istri yang bisa diatur-atur, tunduk dan patuh kepadaku tanpa menuntut apapun!" Jawab Sam datar.


"Kalau masih ada cewek di dunia ini yang seperti itu, aku ikhlas kuras Samudera pasifik pake sendok, pak!"

__ADS_1


Pletak...


Sebuah pulpen melayang ke jidat lebar Robby.


"Tentu saja masih ada, dan itu hanya milik saya!" Ucap Sam tidak ingin kalah.


"Posesif banget, orang ceweknya belum ada juga, bagaimana kalau sudah ada." Monolog Robby dalam hati.


"Memangnya ceweknya sudah punya, pak?" Tanya Robby memicingkan mata. Ia curiga, atasannya itu sedang memiliki ide gila di kepalanya.


"Belum!" Jawab Sam datar. Dia baru sadar kalau ternyata tidak punya satu pun list perempuan di kepalanya yang bisa diajak menjadi istri. Istri-istrian apalagi.


"Ooooo..." Robby hanya bisa membulatkan mulutnya. Padahal dia sudah sempat berfikiran buruk.


Bagaimana pun Robby merasa lega karena ketakutannya hanya sebatas fikirannya saja. Kasihan sekali nasib perempuan yang menjadi istri Sam kelak. Samudera memang baik, tapi tidak baik untuk dijadikan suami.


Samudera adalah laki-laki egois, tidak peka pada perasaan perempuan, mulut kasar, lebih suka menghabiskan waktu luangnya di dunia malam dibanding tinggal di rumah. Perempuan mana yang akan bahagia mempunyai suami seperti itu?


"Apa yang kamu fikirkan? Kenapa masih bengong di situ?" Sarkas Sam melihat Robby yang sedari tadi masih berdiri bengong di tempatnya.


"Aku hanya berfikir, sebenarnya bapak memang sudah cocok untuk menikah, tapi nikahnya sama serigala!" Ucap Robby yang langsung dilempari Sam dengan kotak tissue.


Namun kotak tissue itu hanya berhasil mengenai pintu karena Robby sudah lebih dulu kabur.


Seperti itulah Robby, dibalik wajah garangnya, dia sungguh pandai mencairkan suasana bahkan selalu sukses membuat emosi Sam naik turun karena tingkah konyolnya.


Robby sendiri adalah anak dari sopir pribadi ayah Samudera. Saat ini Robby sudah berusia 32 tahun dan belum menikah. Robby merasa belum bisa melepas masa lajangnya selama Samudera belum ketemu sama pawangnya.


Selepas sekolah, Robby melanjutkan pendidikannya masuk Tentara, namun setelah ayah Sam meninggal, Robby memutuskan membaktikan hidupnya untuk medampingi anak majikan ayahnya itu.

__ADS_1


Keluarga Robby adalah orang-orang yang pandai membalas budi baik meskipun Samudera tidak pernah memintanya.


Kalau Robby mau, Samudera bisa memberinya satu cabang perusahaannya untuk dia pimpin. Namun Robby menolak, dia lebih senang memastikan Samudera aman dan nyaman menjalani pekerjaan dan hidupnya.


__ADS_2