
Venus membelalak ketika mengetahui siapa yang telah memojokkannya dengan paksa seperti sekarang. Ia ingin melawan, ingin mengumpat dan banyak lagi yang ingin dilakukannya kerena tidak terima dengan perlakuan lelaki tersebut.
"Sssssstttt... aku tidak akan menyakiti kamu," lelaki itu mencoba bernegosiasi. "Aku hanya ingin membicarakan hal penting dengan kamu, tetapi aku sama sekali tidak bisa mendekati kamu, orang-orang Samudera tidak pernah benar-benar meninggalkan kamu sendirian.
Aku akan melepaskan kamu tetapi kamu harus berjanji tidak berteriak. Sungguh, aku benar-benar tidak punya niat jahat. Aku hanya ingin tahu keadaan kamu. Apa kamu tersiksa menikah dengan Samudera? Dia menculik kamu? Dia mengancam kamu, bukan?"
Jangan tanya aku tau darimana, aku tau segalanya, aku tau bagaimana kamu bisa sampai menikah dengan Samudera.
Aku tidak punya banyak waktu, sebentar lagi anak buah Samudera akan curiga dan datang mencarimu. Aku hanya ingin kamu tau kalau kamu bisa mengandalkan aku dan bisa membantumu pergi dari kehidupan Samudera kapanpun kamu mau.
Satu hal lagi, bunda Aisyah sudah aman di tempat yang tidak terjangkau oleh Samudera. Pikirkanlah dan bersikaplah biasa-biasa saja jika kita bertemu di kantor atau dimana pun itu."
"Mas Bintang???" Ucap Venus dengan gerak bibir ketika Bintang pergi dan menghilang di balik pintu belakang cafe tersebut.
Venus merasa linglung, hampir saja ia tidak bisa menahan berat bobot tubuhnya, sejenak menyandarkan punggungnya di tembok, bagaimana Bintang bisa tahu semuanya?
Lelah bertanya di dalam hati, Venus pun sudah merasa sedikit tenang meski kinerja jantungnya masih memompa dengan cepat.
Venus mendekati meja tempatnya bersama Muthia sebelumnya. Jika sebelumnya wajahnya tampak lesu, sekarang malah ditambah dengan wajahnya yg kelihatan pucat.
"Kamu baik-baik saja kan, Ve?" Tanya Muthia tampak khawatir melihat Venus yang pucat, tatapannya seperti kosong dan tidak bersemangat.
"Ve...!" Muthia melambaikan tangan dekat ke muka Venus. "Are you okay?" Tanyanya lembut dan penuh perhatian.
Venus sedikit terkesiap karena sempat tidak terlalu peduli dengan Muthia yang ada di hadapannya.
"Sorry mbak," Venus menyesal dan tidak enak.
"Ada apa? Cerita kalau ada sesuatu yang mengganjal fikiranmu atau apapun itu."
__ADS_1
Venus menggeleng cepat, "enggak ada kok mbak, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedikit lemas dan sakit perut.
Kalau mbak sudah selesai makannya kita balik kantor yuk." Venus melihat piring dan gelas Muthia sudah kosong.
"Kamu gimana? Ini makanan kamu belum habis."
"Ah..iya, aku udah enggak selera lagi, dibungkus aja." Venus melirik sedih melihat isi piringnya yang belum setengah dihabiskan. Dibungkus dan dibawah pulang adalah cara yang paling bijak agar bisa meminimalkan makanan yang terbuang.
Mereka segera kembali ke kantor, Venus sudah tidak bisa lagi fokus dengan Muthia yang terus mendominasi pembicaraan, hingga mereka berpisah di dalam lift, Muthia turun di lantai tiga sementara Venus lanjut ke lantai empat.
Sepanjang hari ia habiskan tanpa melakukan apa-apa. Fikirannya terlalu sibuk mencerna fakta yang baru saja diketahuinya dari Bintang tadi.
Jika memang apa yang dikatakan Bintang tadi bahwa bunda Aisyah sudah aman, maka alangkah bersyukurnya dirinya saat ini. Namun, Venus tidak bisa percaya begitu saja. Terlalu beresiko baginya mempercayai sesuatu hal yang belum terkonfirmasi kebenarannya.
Venus hanya bisa berdoa, dimana pun bunda Aisyah berada, semoga beliau dalam keadaan baik-baik saja. Perempuan paruh baya itu sudah banyak berkorban untuk dirinya, tidak mungkin baginya mengabaikan keselamatan beliau begitu saja.
"
"
Bukan Venus yang ingin berada di sini, tapi itu adalah permintaan Samudera sendiri. Ingin dijemput istri katanya, biar kesannya sama seperti pasangan yang lain.
Yang membuat Venus kesal, ternyata Samudera mengerjai dirinya. Katanya kedatangan pesawatnya pukul delapan pagi, ini dirinya sudah menunggu hingga dua jam tetapi pesawat yang ditumpangi Samudera belum juga tiba kedatangannya.
Fixed! Samudera mengerjainya.
Ditengah rasa bosan dan lelah menunggu, akhirnya Venus memilih menunggu di salah satu kedai roti yang cukup terkenal di sana, sembari menyesap kopi panasnya. Tentu saja dirinya tidak datang seorang diri ke bandara, ada Alex dan Max yang siap menjadi bayangannya dua puluh lima jam sehari.
"Kalian pasti tau kan jam berapa tepatnya pesawat Samudera datang?" Venus menatap tajam penuh curiga dua laki-laki muda tersebut.
__ADS_1
Alex dan Max saling pandang, mulut keduanya mengatup enggan menjawab pertanyaan Venus.
"Kalau kalian diam aku anggap dugaanku benar."
Venus berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Tubuhnya ia sandarkan ke sandaran kursi dengan kedua tangan ia lipat di dada.
Alex dan Max sendiri masih memilih bungkam namun dari mata mereka yang menyipit dan bibir yang melengkung ke atas seolah meminta dimaklumi sudah semakin mempertegas bahwa dugaan Venus benar, mereka tahu dan mereka mau-mau saja ikut seperti orang bodoh berjam-jam menunggu di bandara.
"Otak kalian ini kurang se-ons yah? Bisa-bisanya kalian tau tapi mau-mau saja nurut sama perintah si tuan bosss kalian itu. Males banget tau udah berjam-jam di sini seperti pencari suaka yang terlantar di negara antah berantah.
Lain kali kalau kalian dapat perintah aneh-aneh begini, ngomong dong biar tau begini kita bawa tikar bawa bekal sekalian bawa tenda terus kita piknik di parkiran sono." Tangan Venus menunjuk ke arah parkiran saking kesalnya dibuat dua bodyguardnya itu.
"Idenya bagus juga," ucap Max kemudian menyeruput cappucinonya melalui sedotan yang ada di dalam paper cup miliknya.
"Anj*rrrrrrrrrr!!! Panas banget!!!" Max tidak bisa menahan umpatannya karena lidahnya yang terasa terbakar sampai ke ulu hatinya.
Venus dan Alex terbahak-bahak melihat nasib sial Max.
Max mengambil sedotan kecil yang ada di paper cup tadi, "sialan ini barang, udah kecil tapi bikin sakit hati."
"Mestinya kamu bersyukur sedotannya kecil, coba kalo sebesar sedotan boba, yakin itu lidah masih aman? Yang ada bisa mati rasa sampe kamu mati." Timpal Alex membuat wajah Max semakin ditekuk.
Sementara lagi-lagi tawa Venus pecah. Bukannya tidak ingin bersimpati, tetapi ia juga tidak bisa membayangkan andai sedotannya sebesar sedotan boba.
"Itulah, makanya sedotannya dirancang sekecil ujung lidi seperti ini biar sensasi menyeruput kopi panas layaknya dari gelas tetap terasa. Seruputnya dikit-dikit, diujung lidah." Pungkas Venus kemudian.
Sengsara membawa nikmat, setidaknya kejadian sedotan kopi panas Max tadi mengembalikan keceriaan Venus dan melupakan kedongkolannya sejenak kepada suaminya itu.
Dan tidak berapa lama, pesawat yang ditumpangi suaminya sudah dinyatakan mendarat dengan sempurna di bandara Soekarno-Hatta.
__ADS_1
'Thanks God'