
Samudera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dirinya mencuri-curi pandang ke arah Venus yang sedari tadi menghindari bertemu tatap dengannya, bahkan seolah enggan ia sentuh. Ia sadar kalau Venus saat ini sedang marah kepadanya dan sebagai bentuk marahnya adalah dengan diam.
Venus terus menatap ke arah jendela yang sengaja ia buka kacanya. Tatapannya jauh namun kosong.
Saat mobil berhenti di lampu merah, Venus seperti tidak terganggu bahkan mungkin tidak menyadarinya. Samudera menoleh kepadanya, tetapi seketika wajahnya mengeras karena kesal. Emosi Samudera hampir meledak karena seorang pria muda pengendara mobil di sebelahnya begitu terkesima memandangi istrinya. Jelas tatapan itu adalah tatapan memuja kecantikan istrinya itu. Sementara Venus seolah tidak terganggu sama sekali dengab kelakuan kurang ajar pengendara di sampingnya.
Gerakan kaca mobil yang tiba-tiba bergerak naik menarik perhatian Venus untuk menoleh ke arah Samudera, siapa lagi pelakunya kalau bukan dia. Venus menatap suaminya yang raut wajahnya sangatbtidak enak dipandang itu dan ternyata tatapannya tajam ke arah belakang Venus.
Venus menoleh ke arah pandang suaminya, masih dapat ia lihat seorang pria muda masih menatap ke arahnya seperti kecewa karena kaca mobilnya yang sudah tertutup.
Mobil kembali melaju, sementara Venus melebarkan senyumnya. Tentu ia menyembunyikan senyumnya dari Samudera dengan tetap memalingkan wajahnya menghadap ke sisi jendela di sampingnya.
'Cemburukah ia?' Tanya Venus dalam hati.
Namun seketika pikiran itu Venus buang jauh-jauh. Tidak mungkin Samudera cemburu, ia hanya tidak suka miliknya dipandang orang lain.
Samudera mengemudikan mobilnya bukannya kembali ke rumah, tetapi ia melajukan mobilnya ke salah satu pantai yang ada di pinggir kota.
Mood-nya sedang tidak baik-baik saja, masalah pekerjaan di cabang dan juga sikap cuek Venus kepadanya.
Dalam harapannya, Venus akan menyambutnya dengan senyum manis dan tangis haru setelah hampir satu minggu berpisah dengannya. Mungkin juga dengan sedikit tambahan ungkapan betapa Venus sangat merindukannya. Tetapi semua itu hanya ada di dalam angannya.
Venus mengabaikannya. Samudera tidak suka itu.
"Kenapa kita ke sini? Kamu tidak capek?" Tanya Venus membuka suara setelah sepanjang kebersamaan mereka di dalam mobil hanya diam saja.
Samudera tidak menjawab, tetapi langsung keluar dari mobil dan langsung berjalan ke arah pantai.
Venus pun ikut turun dari mobil kemudian menyusul Samudera yang berdiri bertelanjang kaki dan celana panjangnya sudah digulung selutut.
Venus tidak berniat membasahi kakinya seperti Samudera, ia tidak ingin kaos kakinya basah.
__ADS_1
Angin yang berhembus cukup kencang, ujung jilbab di bagian kepalanya mungkin sudah monceng kemana-mana, beruntung tadi pagi ia sempat memilih memakai jaket outer muslimah miliknya sehingga ujung bawah jilbabnya tidak melambai-lambai karena tertiup angin.
"Ayo kesini..." panggil Samudera membuka kedua tangannya.
Venus menggeleng, "enggak, aku enggak mau kos kakiku basah." Tolak Venus karena benar-benar enggan bermain air laut di tengah terik seperti ini. Mereka belum sholat dhuhur, ia tidak ingin pakaiannya kotor.
"Buka saja kaos kakinya," Samudera masih berusaha membujuk Venus.
"Kita belum sholat dhuhur, Sam. Nanti pakaianku basah dan kotor." Venus masih kekeh menolak permintaan Samudera.
"Ya udah, kita sholat dulu kalo begitu, itu di sana sepertinya ada musholla." Venus mengikuti arah telunjuk Samudera dan benar saja, sekitar seratus meter dari mereka ada musholla.
Samudera mengaitkan jemari mereka kemudian berjalan menuju musholla. Tidak ada percakapan diantara mereka di sepanjang perjalan ke sana, namun seolah banyak kata yang mengalir dari hati keduanya melalui pertautan jari jemari itu.
Setelah sholat, Samudera benar-benar tidak lagi mau mendengar alasan Venus yang masih tidak ingin ikut bermain ombak.
Mereka yang awalnya hanya saling mengejar dan berlari kecil di bibir pantai, lama-lama nyemplung juga bermain air.
Sudah lama sekali ia tidak ke pantai, bahkan ia sudah lupa kapan terakhir dirinya ke pantai.
Suasana pantai yang cukup sepi membuat mereka sangat menikmati kebersamaannya. Saling menyiram bahkan saling melempar pasir hingga kejar-kejaran yang berakhir Samudera akan menangkap tubuh Venus kemudian melemparnya ke dalam air sudah berlangsung berkali-kali.
Atau Venus akan melompat naik ke atas punggung Samudera serupa anak gadis kecil yang menyukai punggung lebar ayahnya.
Air pasang yang cukup besar membuat air naik hingga ke pepohonan di dekat sisi jalanan. Hal itu menjadi berkah tersendiri karena mereka bisa bebas bermain air di tempat yang teduh.
"Udah, Sam. Capek!" Ungkap Venus ketika lagi-lagi Samudera ingin menangkap tubuhnya.
"Udah yah.. please!" Wajah Venus sudah memerah, selain karena panas, ia juga memang sudah lelah.
Samudera mengalah lalu ikut duduk di sisi Venus. Tangannya memperbaiki jilbab Venus kemudian menyembunyikan rambut Venus yang tampak keluar sedikit dari jilbabnya.
__ADS_1
Hati Venus menghangat mendapatkan perlakuan manis tersebut.
"Haus enggak? Lapar?" Tanya Samudera kemudian. Tatapannya dalam namun jelas menyiratkan kepedulian.
"Haus, laper, capek!" Venus menghela nafasnya, satu tangannya mengusap perutnya yang rata.
"Ya udah, kita bersih-bersih dulu di musholla tadi."
"Tapi pakaian kita basah begini, bagaimana dong?" Venus tampak gelisah karena pakaian mereka sudah basah dan tidak punya pakaian ganti.
"Tenang saja, semua udah aku siapkan." Samudera kemudian menarik kedua tangan Venus untuk berdiri bersamanya.
Samudera tidak bohong, dia memang sudah menyiapkan pakaian ganti untuk mereka. Sesaat setelah sholat dhuhur tadi, Samudera meminta Alex untuk mencarikan mereka pakaian ganti dan membawanya ke pantai.
Venus menyambut tangan Samudera kemudian mengikuti langkah suaminya itu.
Setelah bersih-bersih, mereka mencari tempat makan terdekat, pilihannya tentu saja rumah makan yang menghidangkan hasil laut yang segar-segar.
Aroma cumi dan udang bakar membuat perut Venus semakin kelaparan. Tidak sabar menunggu, ia malah memilih ikut berdiri di dekat pembakaran. Samudera sendiri sibuk memeriksa ponselnya dan larut dengan benda pipih tersebut.
"Udangnya jangan terlalu gosong yah, pak. Terus ini cuminya, enggak gosong tapi dibuat agak kering." Celoteh Venus memberi instruksi ke bapak-bapak yang bertugas di bagian pembakaran.
"Iya neng, siap. Cumi bakar itu memang paling enak kalau dibuat agak sedikit kering dagingnya." Bukannya tersinggung, si bapak-bapak itu malah meladeni celotehan Venus.
"Bener pak, apalagi kalau nanti disiram pake sambel matah.. wuihhhh... meleleh pak, meleleh air liur saya." Venus terkekeh diikuti si bapak-bapak.
"Udah neng, ini udah hampir siap!" Ucap si bapak yang diangguki Venus.
Venus kemudian bergabung dengan Samudera di meja yang sudah mereka pilih tadi.
Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk menikmati hidangan favoritnya itu.
__ADS_1