
Aku meninggalkan ruangan Samudera dengan membawa rasa penasaran, sepanjang jalan aku berusaha mengingat siapa laki-laki paruh baya itu. Aku merasa familiar dengan wajahnya, dan tatapannya kepadaku pun seperti orang yang juga berusaha mengenali atau mungkin wajahku mengingatkannya pada seseorang.
"Selamat pagi bu Ve." Sapa Rizky yang datang dari arah lift, berbeda denganku yang datang melalui arah tangga.
"Pagi, Ki."
"Apa kabar bu? Ibu gak di apa-apain kan sama pak Sam malam kemarin?" Tanyanya menyelidik dengan suara agak dipelankan setelah kepalanya melirik kiri kanan memastikan bahwa tidak ada orang lain di koridor bersama saat ini.
"Aman, aku juga langsung diantar pulang kok, gak kemana-mana."
"Syukurlah, aku akan merasa bersalah banget kalau sampai terjadi sesuatu sama ibu." Ucapnya menyesal.
"Alhamdulillah, gak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayok masuk, kerja!"
Aku tidak ingin memperpanjang pembahasan itu dengan Rizky, lagian memang tidak ada sesuatu yang terjadi dan tidak ada juga hal penting yang dibahas.
Aku menyapa semua staf yang sudah pada siap di meja kerja masing-masing kemudian aku lanjut masuk ke dalam ruanganku.
Tidak lama kemudian Ervi masuk membawa laporan yang sudah kuminta sejak minggu lalu.
"Permisi, bu!"
"Duduk, Er.. gimana? Udah selesai?"
"Ini bu dokumennya. Semua laporan dari bebeqrapa divisi sudah saya kumpulkan, tinggal ibu evaluasi lagi. Di situ juga ada informasi rencana jangka panjang dan rencana tahunannya."
Kubuka laporannya dan sekilas sepertinya data-data yang aku butuhkan sudah lengkap di sini.
"Oke, nanti tolong dibuatkan bahan meetingnya dalam bentuk power point yah. Besok pagi sudah harus siap."
"Baik bu, Ve. Saya permisi!" Pamitnya yang hanya kuangguki saja.
Dan seperti hari-hari yang sudah berlalu dan hari-hari yang akan datang, pekerjaanku akan selalu berkutat dengan semua laporan dari semua departemen untuk dievaluasi, mengawasi setiap progres kerja mereka dan bertanggung jawab membuat semua laporan dari divisi lain menjadi sebuah summary laporan yang berbentuk angka-angka dan grafik untuk menjadi pegangan para petinggi perusahaan sehingga mudah dibaca dan dipahami oleh para stakeholder.
__ADS_1
"
"
"Siapa Sam?" Tanya pak Hendro setelah dipersilahkan duduk di sofa oleh Samudera.
"Orang baru, Om!" Jawab Sam datar.
Pak Hendro menatap lekat kepada Samudera merasa tidak puas dengan jawaban singkat Sam.
Mengerti dengan maksud tatapan pak Hendro, Samudera pun kembali menambahkan.
"Itu Venus, kepala perencanaan yang baru pindahan dari cabang Maluku Utara."
Pak Hendro pun mengangguk, sejenak fikirannya mencoba menggali-gali sesuatu di memorinya.
"Kamu tidak ada main kan sama dia pagi-pagi begini?" Tanya pak Hendro curiga. Dia sudah hafal betul kelakuan Samudera yang suka bergonta-ganti wanita.
"Enggak lah om, ini di kantor, rezeki bisa menjauh kalo mesum di sini, lagian dia bukan tipeku, dia juga bukan gadis seperti itu!"
"Bukan ditolak, Om. Tapi langsung kena gampar!" Jawab Samudera mengelus pipinya seolah tamparan itu masih terasa baru di sana.
Sontak pak Hendro tertawa besar melihat reaksi Samudera yang menurutnya sangat konyol.
"Pepet terus, Sam. Cewek seperti itu yang cocok dijadikan ratu di rumah kamu." Saran pak Hendro setelah menyelesaikan tawanya.
"Mana mau dia, Om. Dia benci banget sama aku. Kerasa banget loh dari caranya dia menatapku." Keluh Samudera.
Pak Hendro menepuk pelan bahu Samudera, "perempuan itu seperti tanaman. Kalau disiram terus dengan perhatian, pasti tumbuh juga rasa sayangnya. Beda kalau siramnya pake racun.. ya matilah."
"Ah, om ada-ada saja. Jadi gimana om, ada urusan apa setelah sekian lama tidak pernah menginjakkan kaki di sini akhirnya ke sini lagi?" Tanya Samudera menghentikan pembahasan nyelenehnya bersama pak Hendro.
Samudera memang cukup dekat dengan pak Hendro, selain karena ayahnya bersahabat dengan beliau, pak Hendro juga adalah bagian penasehat hukum ketika perusahaan baru dirintis oleh ayahnya bersama satu sahabatnya lagi.
__ADS_1
Menurut informasi, sahabat ayahnya yang bernama Aryan Sanjaya itu terlibat kecelakaan naas yang merenggut nyawanya bersama anak dan istrinya.
Dan dari cerita ibunya, Samudera amnesia karena dipukul oleh anak pak Aryan di sekolah. Samudera sudah lupa nama anaknya karena dia mendengar cerita itu saat masih kecil.
Oleh karena itu kepemilikan perusahaan akhirnya berpindah sepenuhnya ke tangan ayahnya dan pak Hendro lah yang membuat semua dokumen-dokumen pengesahannya.
Hanya saja, ada yang aneh menurut Sam, pengalihan kekuasaan itu dilakukan pak Aryan 3 hari sebelum kecelakaan naas itu bahkan tanpa sepengetahuan ayahnya karena sedang bertugas di Sulawesi kala itu.
Sebenarnya, ayah Sam hanya punya 30% kepemilikan sahamnya, pak Hendro mendapatkan 10% sementara 60% lebihnya dikuasai oleh pak Aryan.
Pak Aryan adalah inisiator pertama dan pemodal utama sebelum kemudian mengajak ayah Sam dan pak Hendro untuk membantunya mendirikan perusahaan ini.
"Tidak, kebetulan om ada urusan di dekat-dekat sini dan om bawa ini." Pak Hendro menyerahkan sebuah kartu undangan pernikahan.
"Siapa yang mau nikah, Om? Si Ferdi atau Ayu?" Tanya Sam tidak sabar membuka kartu undangannya. Samudera cukup dekat dengan kedua anak pak Hendro.
"Ayu, calon suaminya sudah tidak bisa menunggu lagi, ya sudah.. dinikahkan saja daripada berzina nantinya."
"Salam buat Ayu, Om. Akhirnya nikah juga tuh anak, udah gede dia. Aku sm Ferdi kalah!"
"Kamunya saja yang banyak main, padahal tinggal pilih. Bagaimana ibu kamu?"
"Sekarang sudah mulai membaik, Om. Satu minggu kemarin dirawat di rumah sakit karena jantungnya kumat." Jawab Samudera mendesahkan nafasnya.
"Syukurlah kalau kondisinya sudah membaik. Masih suka dia jodoh-jodohin kamu?"
"Aku sampe pusing, Om. Tiap ketemu yang dibahas itu-itu saja. Sakit kemarin aku sampe bikin janji sama dia kalau aku akan bawa calon istri pilihanku sendiri kepadanya."
Pak Hendro tertawa sumbang menggelengkan kepalanya. "Kamu yang sabar menghadapi ibumu. Kamu harus ingat, seburuk apapun perlakuan kedua orang tua kamu, ada hutang yang mustahil mampu kamu bayar, yaitu hutang kepada ibu ayahmu. Selama itu untuk kebaikan kamu, jangan menentangnya. Jika pun harus menolak, lakukanlah tanpa harus menyakiti perasaannya. Banyak anak-anak sekarang ini paling jago bernegosiasi dengan klient, kontrak besar mudah dia dapatkan dengan kepawaiannya bernegosiasi, tetapi ketika bernegosiasi dengan orang tuanya, hanya sedikit yang sukses tanpa menyakiti perasaan orang tuanya. Padahal, kesuksesan terbesar seorang anak adalah ketika dia berhasil bernegosiasi dengan orang tuanya tanpa membuat orang tuanya meneteskan air mata."
"Terima kasih atas pencerahannya, om. Ini yang aku senang sama om, selalu diingatkan, nasehat-nasehat om ini yang sering dirindukan."
"Uang kamu lebih banyak dari om, jadi yang bisa om berikan hanyalah nasehat, itupun kalau kamu sudi menerimanya. Soalnya banyak orang yang lebih senang diberi materi dibanding nasehat."
__ADS_1
"Ah, om bisa saja."