A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 28


__ADS_3

Febby datang dengan tergopoh-gopoh membawa peralatan kesehatan bersama dua orang perawat perempuan lainnya.


Febby menatap garang ke arah Samudera yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


"Aku tidak melakukan apa-apa!" Elak Sam mengerti dengan tatapan Febby yang menghakiminya.


"Kalau kakak tidak bikin apa-apa terus ini kenapa bisa begini?" Desak Febby mengangkat tangan Venus yang kelihatan sedikit membengkak.


Venus meringis mendapati tangannya disentak begitu saja.


Awww...


"Sorry, sorry kakak ipar. Aku obati yah!" Febby merasa bersalah karena membuat Venus kesakitan.


Venus hanya menggeleng pasrah, dia tidak ingin terlibat dengan perdebatan kakak dan adik sepupu itu.


Sam memilih menjauh ke arah balkon kamar inap Venus. Ia ingin melakukan panggilan telepon kepada Robby.


Tidak lama Febby menyusulnya ke balkon. Sam yang sedari tadi berdiri memegangi pagar pembatas balkon hanya menoleh sebentar kemudian kembali fokus pada arah pandangnya sebelumnya.


Febby menarik wajah Sam agar menoleh kepadanya dengan dua telapak tangannya merangkum wajah Sam.


"Ini bibir bisa tidak seksi lagi kalau tidak segera diobati." Sindir Febby membersihkan bibir Sam dengan kapas yang sudah diberi cairan alkohol.


Rasa dingin bercampur perih membuat Sam memejamkan matanya.


"Calon kakak iparmu bar-bar sekali!" Ucap Sam terkekeh setelah Febby selesai membersihkan dan mengobati bibirnya.


"Kan sudah aku bilang, tidak semua perempuan itu silau dengan ketampanan dan kemapanan finansial yang kakak punya. Aku aja ogah banget dekat-dekat sama kak Sam, laki-laki angkuh, pemaksa, tidak peka dan player. Di bagian mananya coba perempuan seperti kak Venus mau tertarik sama kak Sam?"


"Masih ada perempuan yang tidak begitu meletakkan banyak syarat untuk mencari pasangan. Punya suami kerjaannya bagus, penghasilan tinggi, ganteng, rumah seperti display IKEA, mobil BMW, terus kalo liburan mesti keluar negeri... aduh..kalau mau pake standar itu, bisa gak nikah-nikah sampe mati. Lagian sudah banyak juga cewek yang bisa punya itu semua tanpa mengharapkan pemberian suami. Jadi enggak usah terlalu percaya diri." Ucap Febby menutup kalimatnya dengan menepuk-nepuk bahu Samudera.

__ADS_1


Aawww..awww..


Febby mengerutkan keningnya melihat reaksi Samudera yang menurutnya berlebihan mengadu kesakitan padahal tepukannya sangat pelan.


Sontak Febby tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Dia mulai paham, lukanya bukan hanya di bibir, tetapi di bahunya juga.


Febby menarik paksa kerah kemeja Sam yang kancingnya sedari tadi sudah terlepas dua kancing di bagian dadanya.


Bisa Febby lihat bekas gigitan yang cukup dalam  di bagian bahu atas Samudera.


"Wow... rupanya si singa betina sudah mulai menancapkan taringnya." Ucap Febby menyeringai nakal menggoda Samudera yang wajahnya mulai ditekuk.


"Kalau hanya mau mengejek, sana pergi!" Kesal Samudera. Sebenarnya ini memalukan, sudah ditolak, ditampar digigit pula. Kurang apa lagi penderitaannya?


"Kak Sam sih, aku juga kalau mau dilecehkan, kalau bukan dia yang mati, lebih baik aku yang mati!"


Deg...


"Aku kan sudah bilang, nikahi dia atau lepaskan dia!" Febby benar-benar kesal dan tidak faham dengan langkah yang diambil Sam.


Sam cukup terusik dengan kalimat terakhir Febby, melepaskan Venus tidak ada di dalam rencananya. Tidak, sampai semuanya jelas dan terang benderang.


Satu rahasia yang hanya Febby dan Robby yang tahu bahwa sebenarnya satu-satunya ingatan Samudera yang tidak hilang adalah ingatannya tentang satu nama, yaitu Venus.


Samudera tidak bisa melupakan nama itu. Karenanya, ketika mendapati berkas Venus yang masuk sebagai salah satu kandidat calon kepala departemen perencanaan yang baru, tanpa pikir panjang Samudera langsung memilih nama itu, meski belum yakin bahwa Venus yang ia kenal belum tentu Venus yang dipilihnya, tetapi perasaannya sudah yakin. Karena itu juga dia sudah menyiapkan kontrak terselubung yang bisa ia pakai sewaktu-waktu untuk menekan Venus apabila dugaannya benar.


Samudera belum bisa menyimpulkan apa motif dibalik munculnya Venus kembali. Apa karena memang sudah takdir, atau itu sudah direncanakan. Tetapi jika itu memang sudah direncanakan, apakah Venus bergerak sendiri atau ada orang lain yang membantunya?


Samudera juga tidak bisa menebak apa informasi apa saja yang dipegang Venus, semuanya masih samar-samar, masih sulit memastikan, apakah Venus berbahaya baginya atau tidak.


Di sisi lain, Samudera tidak ingin bertindak gegabah, jangan sampai keselamatan Venus yang menjadi taruhannya. Karena akhir-akhir ini, Samudera mulai menyadari, ada banyak kejanggalan dengan kasus kecelakaan orang tua Venus dan benang merahnya berhubungan dengan keanehan dimana perusahaan berpindah tangan menjadi milik ayahnya tanpa sepengetahuan dan persetujuan ayahnya sebelumnya.

__ADS_1


"Aku lebih tau apa yang harus aku lakukan, Feb!" Ucap Samudera dingin kemudian meninggalkan Febby.


Sam mendekati tempat tidur Venus, tampak Venus begitu lelap dengan nafas yang teratur meski sesekali masih menyisakan sesegukan di dalam tidurnya.


Samudera menghembuskan nafasnya kasar. Dirinya cukup frustasi menghadapi Venus, Venus begitu rapi menutupi identitas dan rencananya.  Sam kesulitan melacak orang-orang yang berada di belakang Venus. Tidak ada tindakan Venus yang mencurigakan, tidak ada komunikasi aneh-aneh atau percakapan dari nomor tidak dikenal di ponselnya.


Venus sangat rapi melakukan aksinya, butuh waktu setahun untuk Sam memastikan bahwa kemunculan Venus membawa sebuah misi terselubung.


Febby bergabung di sisi Samudera yang masih terus memandangi wajah polos itu.


"Kak Sam pulang saja, biar aku yang jaga kak Venus malam ini." Febby fikir akan lebih baik jika dirinya yang menunggui Venus dibanding Sam.


"Biar aku saja, kamu sudah di sini sejak kemarin." Tolak Sam dan meminta Febby yang pulang.


"Jangan keras kepala deh kak, aku tidak mau kak Venus tertekan dengan kehadiran kakak di sini. Kak Venus belum makan, bukan?"


Samudera mengangguk membenarkan pertanyaan Febby.


"Dia tidak mau makan."


"Itu karena ada kakak, tadi pagi dan siang dia mau-mau saja makan meski hanya sedikit."


"Lihat kejadiannya, kalian malah berperang. Apa harus saling menyakiti seperti ini?" Kejar Febby dengan pertanyaannya yang begitu menohok.


"Sampai kapan kak Sam menyakiti kak Venus terus seperti ini?"


"Sampai dia mau mengakui dan mengatakan siapa-siapa saja yang ada di belakangnya!" Jawab tegas Samudera yang membuat Febby memilih bungkam. Tidak ada gunanya berbicara kepada Sam saat ini.


Samudera tidak bisa percaya kepada siapapun saat ini, termasuk Venus. Bisa saja ada yang memanfaatkan Venus untuk menghancurkannya. Bukankah Venus punya alasan yang kuat untuk melakukannya? Karena bisa saja Venus menuduh ayahnyalah tersangka utama otak dibalik kecelakaan itu.


Samudera ingin melihat, sejauh apa Venus melakukan misinya.

__ADS_1


__ADS_2