A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 21


__ADS_3

Pagi ini, seperti pagi yang kulalui selama satu tahun terakhir. Aktivitas membuat kopi untuk Samudera masih kujalani.


Sebenarnya tidak setiap pagi juga, ada kalanya aku membuat alasan yang membuat dia tidak bisa lagi memaksaku.


Dan sebenarnya, bisa saja aku membangkang dan tidak menuruti perintahnya, toh membuat kopi tidak pernah tertuang di dalam kontrak kerjaku maupun job description-ku.


Aku berusaha bersabar melakukannya selama Samudera belum memintaku berhenti, maka selama aku masih bekerja di sini, rasanya itu bukan masalah. Meski sudah banyak berita miring tengtangku ketika awal-awal berita tersebut tersebar, akan tetapi waktu yang menjawab tudingan mereka. Faktanya, bisa dipastikan aku tidak punya hubungan spesial dengan Samudera hingga detik ini.


Kalau aku mau, mungkin sudah tidak terhitung berapa kali Samudera membawaku ke atas ranjangnya. Tetapi karena aku tidak mau, Samudera pun sangat gentle dengan tidak pernah memaksaku. Ucapan mesum dan umpatan kata kotor yang menjurus ke hal-hal seksual sudah jadi makanan sehari-hari di telingaku dari mulut Samudera. Aku tidak mau pusing, itu urusan dia.


Satu hal menggembirakan setelah pengorbananku menjadi gadis pembuat kopi selama setahun ini, aku berhasil mendapatkan kata sandi untuk mengakses komputer Sam.


Entah Sam sadar atau tidak, tanpa diduga Sam mengetikkan password komputernya di saat aku sedang berdiri di sampingnya, saat itu dia sedang menerima telpon dan sepertinya meminta informasi yang harus segera Sam berikan. Karena tangan kanannya memegang ponsel, hal itu membutnya membuka komputernya dengan tangan kirinya. Otomatis dia mengetikkan passwordnya cukup lambat. Mataku jeli memperhatikannya dan berusaha mengingatnya.


Kejadian itu sudah dari dua bulan yang lalu. Aku tidak ingin gegabah tiba-tiba langsung beraksi setelah mengetahuinya. Aku tidak mau Sam curiga kepadaku.


Aku pun tidak ingin masuk ke ruangan Sam jika Sam sedang keluar kota, aku harus punya alasan yang kuat ketika masuk ke dalam ruangannya. Apalagi, di lantai 4 itu hanya ada ruangan Sam dan Robby. Sam sangat menjaga privasinya, tidak sembarang orang yang diberi akses naik sampai lantai 4.


Akses ke green house punya jalur tersendiri, hanya Sam yang bisa mengaksesnya melalui koridor menuju ruangannya.


Jadi akan sangat tidak wajar jika ada yang berkeliaran di lantai 4 sementara Sam atau Robby sedang tidak berada di kantor.


"Sedang apa kamu di situ?"


Deg..deg..deg..


"Yaa Allah tolong aku!" Jeritku dalam hati. Aku diam mematung tidak tahu harus berbuat apa. Aku terlalu fokus membaca sesuatu di layar komputernya sehingga tidak memasang telinga dengan baik.

__ADS_1


Kenapa aku begitu ceroboh? Harusnya kuselesaikan saja pindah datanya tanpa perlu membuka-buka file tadi.


Samudera mendekatiku, bisa kurasakan aura mencekam diantara kami dari aroma tubuhnya yang saat ini sangat dekat di belakangku.


"Aku tanya kamu, kenapa diam?" Hardiknya kemudian.


Aku sungguh takut, rasanya seluruh tulang-tulangku mendadak lemah. Jantungku berdetak kencang, tiba-tiba saja keringat dingin keluar membasahi tubuhku padahal pendingin di ruangan ini sedari tadi kunyalakan.


"Apa yang kamu lakukan?" Sam langsung mengambil alih mouse yang masih ada di tangan kananku lalu membuka drive flashdisk yang kupakai mengambil beberapa data penting di komputernya.


Mengetahui itu semua, Sam mengetatkan rahangnya menatapku penuh kemarahan. Tangannya mencengkeram kuat mouse yang ada di tangannya hingga terdengar bunyi retakan di sana. "Kamu!!!"


Nafas Sam begitu berat dan cepat menahan amarahnya. Aku sungguh takut melihatnya. Sudah sering dia memarahiku dan mengumpatku, tapi aku belum pernah melihat kemarahannya sebesar ini.


"Katakan, kamu bekerja untuk siapa? Siapa yamg menyuruh kamu melakukan ini, sialan?" Tanyanya mencengkeram kuat daguku dengan kedua tangan kokohnya. Matanya nyalang mentapku.


Aku hanya bisa memejamkan mata, menggeleng namun tidak bisa karena kuatnya cengkeraman tangannya di wajahku, aku pasrah. Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya.


"Katakan! Atau aku akan membunuh kamu!"


Tubuhku bergetar mendengar ancamannya yang menggelegar.


"Aku..a..aku tidak be..bekerja untuk siapa-siapa." Jawabku terbata-bata meringis kesakitan. Ini benar-benar sakit. Rasanya rahangku ingin lepas dari tempatnya.


"Jadi kamu lebih memilih mati demi melindungi orang itu? Baik, baik kalau itu yang kamu inginkan."


Sam membuka dasinya kemudian memutar tubuhku membelakanginya. Dia menarik paksa tanganku ke belakang dan mengikatnya dengan dasinya tadi.

__ADS_1


"Lepaskan aku, pak! Aku mohon!" Ucapku mengiba.


"Aku tidak akan melepaskan kamu, sekarang nikmatilah hukuman kamu karena sudah berani mencuri dariku."


Sam lalu mendorong tubuhku masuk ke dalam kamar pribadinya, tidak berhenti di situ saja, Sam melempar tubuhku masuk ke dalam bathtup kemudian menyalakan air dingin dari keran.


Haruskah aku bersyukur bahwa itu bukan air panas? Aku tidak bisa membayangkan jika itu adalah air panas.


Belum puas dengan perlakuan kasarnya tadi, Sam mengambil handuk dan melilitkannya dikakiku lalu diikat simpul.


"Ini baru hukuman pertama bagimu." Ucapnya menatapku dengan wajahnya yang masih memerah dan rahang yang mengetat.


Aku menggeleng, menangis mengiba agar Sam mau melepaskan aku tapi semuanya percuma.


"Aku mungkin akan berfikir meringankan hukuman kamu kalau kamu mau mengatakan siapa yang menyuruh kamu."


"Gak ada pak, sumpah demi Allah. Gak ada yang menyuruh saya." Ucapku bersumpah.


"Tidak usah membawa-bawa nama Tuhanmu di sini. Aku fikir kamu gadis baik-baik, ternyata pencuri. Dibayar berapa kamu melakukan ini? Apa dibayar dengan kenikmatan di ranjang? Pantas saja kamu selalu menolak kusentuh, kukira cupu ternyata suhu. Apa kamu malu dengan pakaiannmu yang sok suci ini tapi sudah tidak perawan? Sudah berapa banyak laki-laki yang kamu naiki ranjangnya? "


Sam menarik paksa jilbabku hingga terlepas dari kepalaku. Sakit, rasanya sakit karena peniti pentul di puncak kepalaku terasa melukai kulitku. Tapi sakit ini tidak seberapa dengan rasa sakit atas penghinaannya kepadaku.


"Jangan!" Aku ingin melawan namun tangan dan kakiku tidak bisa kugerakkan. Air dingin kini sudah memenuhi bathtup membasahi seluruh pakaianku.


"Sam, aku mohon jangan lakukan ini kepadaku. Aku salah, aku minta maaf." Ucapku kembali mengiba kepadanya.


Sam hanya menatapku dalam, ada kemarahan yang membara di sana. Namun ada tatapan yang seolah sedang menelanjangiku, merendahkanku. Jelas tatapan itu adalah tatapan menghina tubuhku seolah tubuhku sudah banyak melakukan dosa.

__ADS_1


Sam kemudian berdiri menjulang di sisi bathtup, "tetap jalani hukuman kamu atau aku tidak akan pernah mengampunimu!" Ancamnya kepadaku kemudian keluar kamar mandi dengan membanting pintu. Bisa kudengar suara pintu dikunci dari luar.


Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya merenungi kenyataan yang kuhadapi saat ini.


__ADS_2