A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 79


__ADS_3

Lagi-lagi Venus harus menebalkan muka temboknya saat Alea hanya mau nemplok di dadanya. Sementara Samudera hanya menunjukkan muka datarnya meski dalam hati bersorak riang melihat wajah Venus yang memerah laksana bunga mawar yang sedang mekar.


Mereka berbaring saling berhadapan dengan Alea di tengah-tengahnya. Venus yang salah tingkah berusaha menormalkan air mukanya seolah tidak terganggu dengan adanya Samudera di hadapannya.


Samudera sendiri lebih suka memainkan jemari Alea dengan sesekali membawanya ke bibirnya. Tidak bosan-bosan rasanya merasai aroma khas bayi itu.


Setelah 10 menit lebih, dengan usilnya Samudera sengaja menarik pelan tubuh Alea agar menghentikan aktifitasnya itu, tetapi Alea sangat enggan melepas santapannya itu.


"Alea.. udah dong, gantian daddy boleh?" Senyum nakal terpancar di wajah cerah Samudera setelah mengucapkan kalimat yang terdengar ambigu di telinga Venus.


Plak...


Refleks Venus memukul tangan Samudera yang terus bergerak usil menarik-narik bahu Alea.


"Mesum!" Labrak Venus kesal. Bibirnya mengerucut, pandangannya jelas memancarkan ketidaksukaannya. Matanya melotot tajam menusuk netra Samudera yang terlihat semakin nakal dan mesum. Belum lagi senyum Samudera yang jelas-jelas seperti mengejek Venus.


"Mesum apanya? Orang cuman minta Alea gantian kok?" Kilah Samudera masih dengan senyum menjengkelkannya.


"Gantian apa? Gantian ini kan?" Tanya Venus sambil menunjuk satu dadanya yang berada di dalam mulut Alea.


Pletak!


Giliran Samudera yang menjentikkan jari tengahnya dengan pelan di jidat Venus.


"Otakmu itu yah... justru kamu yang mesum. Aku itu minta gantian Alea menghadap ke aku, aku kan juga pengen dipeluk-peluk sama dia. Mentang-mentang sama mommy-nya, daddy-nya dianggurin!" Kembali Samudera tersenyum nakal saat menelisik reaksi Venus yang semakin salah tingkah. "Tapi kalau kamu mau ngasih itu juga ke aku, aku ikhlas kok." Imbuhnya menatap penuh minat dada Venus.


Kedua bola mata Venus berotasi jengah dengan nafas menghela kasar. Venus memilih diam, berdebat dengan Samudera itu melelahkan, dia juga pasti akan kalah terus, belum lagi kalau hasilnya membuatnya terpojok seperti ini, rasanya semakin memalukan saja.


Plop!


Dan itulah akhir dari kegiatan Alea yang sudah dengan ikhlas melepas salah satu sumber kehidupannya. Ia pun tertidur dengan tenang, seperti tidak terusik dengan perdebatan di antara kedua orang tuanya.


"Udah tidur yah?" Tanya Samudera sedikit menaikkan wajahnya meneliti Alea yang tertidur membelakangi dirinya.


Venus sendiri merasa tidak harus menjawab pertanyaan tersebut, toh Samudera bisa melihatnya sendiri.


Venus menarik diri pelan-pelan dari pelukan tangan Alea. Setelah berhasil melepaskan diri, ia berdiri sembari meregangkan seluruh otot-ototnya. Menyusui itu melelahkan, ada kalanya ketika Alea rewel dan tidak mau melepaskan diri darinya, setelahnya Venus akan merasa seperti tubuhnya habis digebukan sama warga sekampung saking pegelnya.

__ADS_1


Samudera yang melihatnya merasa kasihan dan tidak tega, ia menarik tangan Venus ke arah sofa dan mendudukkannya di sana. Venus yang awalnya kaget tapi pada akhirnya menurut juga.


"Duduk mengarah ke sana!" Perintah Samudera memutar tubuh Venus agar duduk membelakangi dirinya. "Sini aku pijat, kamu pasti capek!"


Tangan Samudera mulai bergerak di pundak Venus dengan tekanan lembut.


Venus yang ingin protes seketika menutup mulutnya. Rasanya enak, pijatan Samudera di bahunya terasa pas dan melegakan.


"Iya.. di situ. Heem.. lagi.. lagi di situ, iya.. iya.. di situ!" Saking menikmatinya, mulut Venus terus meracau merespon setiap sentuhan Samudera di tubuh belakangnya itu.


"Kamu bisa tengkurap kalau suka, biar hasilnya maksimal!" Saran Samudera yang kemudian benar-benar diikuti Venus dengan santainya.


"Tunggu, aku ambil body lotion dulu!" Samudera langsung bergegas ke arah nakas samping tempat tidur dan mengambil body lotion di sana.


Sejenak Venus tersentak kaget ketika Samudera menarik piyamanya menggulungnya ke atas, bahkan tanpa meminta izin darinya, Samudera melepas pengait pelindung dadanya begitu saja. Ingin protes tetapi kepalang tanggung. Toh dirinya juga dalam posisi tengkurap.


Sensasi dingin tiba-tiba meresap ke dalam kulit Venus, lalu disusul telapak tangan Samudera yang memberinya pijatan lembut di setiap sentuhannya.


"Kamu sepertinya sangat ahli memijat. Kenapa tidak jadi tukang pijat aja?" Tanya Venus setelah sekian menit menikmati pijatan Samudera. Pertanyaan yang sungguh tidak berbobot, tapi lumayan untuk memecah keheningan di antara mereka. Apalagi Venus mulai bisa mengendus ada hawa panas yang mulai tercipta dari gesekan dua kulit tersebut.


"Kamu mau memang punya suami tukang pijat yang kesehariannya pegang-pegang tubuh orang yang beda-beda. Apalagi kalau yang dipijat cewek cantik dan seksi, beughhh..!"


"Memangnya kamu pernah pijat sebelumnya?" Tanya Samudera mengabaikan kekesalan Venus.


"Enggak, ini yang pertama. Ternyata enak juga." Jawab Venus sambil memejamkan matanya.


"Kenapa enggak pijat? Dulu saat hamil Alea aku lihat kamu sering kesusahan dan mengeluh sakit punggung tapi kamu menolak dipijat."


"Ogah ah, mana mau aku tubuhku dilihat dan dipegang-pegang sama orang lain, meski itu perempuan tetap saja enggak nyaman."


"Tapi ini kamu mau?" Samudera menghentikan aktifitas tangannya menunggu jawaban Venus.


"Ya itu, tadi itu aku sebenarnya mau nolak, tapi eh kok enak, ya udah.. diterusin aja, sama suami juga pun. Enggak ada salahnya bukan?" Jawab Venus santai namun seketika membuat dirinya tidak nyaman karena entah kenapa bulu kuduknya tiba-tiba meremang.


Venus memberanikan diri memutar kepalanya ke belakang dan mendapati tatapan Samudera yang mulai berkabut menatapnya penuh gairah.


Cepat-cepat Venus bangkit dari posisi tengkurapnya namun saat sudah ingin melangkah pergi, tangannya langsung ditarik Samudera hingga membuat dirinya terjatuh di atas pangkuan Samudera.

__ADS_1


"Mau kemana, sayang? Ini belum selesai loh!" Ucap Samudera dengan suara beratnya. Tangannya melingkari perut Venus yang menegang dan bergerak gelisah di atas pangkuannya.


"Sam, lepasin ih. Aku gemuk. Aku tuh berat tau!" Venus berusaha mencari alasan agar Samudera mau menurunkan dirinya. Ia benar-benar tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Dan Venus memang merasa tubuhnya sedikit berisi semenjak melahirkan Alea.


Samudera menenggelamkan wajahnya di leher belakang Venus. Ia menyesap aroma segar yang menguar dari rambut panjang Venus yang saat ini tidak diikat. Dagunya bergerak-gerak menyingkirkan rambut itu ke satu tepi agar bisa bermain sedikit dengan telinga kanan Venus.


"Enggak berat kok, enggak gemuk juga. Ini namanya gemoy. Pelukable banget, empuk-empuk gimana gitu!" Goda Samudera.


Venus masih berusaha melepaskan tangan Samudera yang seperti terikat mati di perutnya tapi sepertinya usahanya sia-sia. Ia hanya mampu berdecih kesal karena ia tahu kemana ujungnya akan berakhir.


"Empuk.. empuk apa coba? Memangnya aku kasur?"


"Itu kamu yang ngomong loh, aku itu serius, badan kamu sekarang itu enak banget buat dipeluk, ada isi, enggak tuluang semua kecuali di bagian tertentu itu!"


"Iiihhh.. Sam.. kamu itu kok makin menjadi-jadi mesumnya sih?"


"Sama istri sendiri ini, Ve! Salahnya dimana? Lagian, kalau aku enggak mesumin kamu, tuh si Alea enggak bakal ada kalau kamu lupa.


Kamu juga... nanti aku paksa dulu baru mau aku sentuh, kalau tidak, mana ada kamu mau diituin! Sesekali inisiatif sendiri kek, godain suami kek, apa salahnya nyenengin suami, pahalanya gede loh!


Seperti tadi malam, itu aku suka banget." Ucap Samudera dengan suara serak di telinga Venus.


Seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perut Venus. Ini adalah pengalaman pertamanya banyak melakukan pembicaraan dengan Samudera dalam posisi sangat intim seperti ini.


Biasanya, Samudera akan langsung menguncinya dan membungkamnya dengan sentuhan-sentuhan memabukkan yang pada akhirnya membuat dirinya menyerah dan pasrah, tetapi kali ini berbeda, ada perasaan nyaman dan hangat, Samudera seperti seorang anak yang penyabar untuk mendapatkan keinginannya, tidak ada paksaan, tidak ada intimidasi.


Venus berhenti melawan, ia memutar tubuhnya mencari netra suaminya itu. Sejenak mereka saling pandang, saling mengunci dan jelas kedua pasang netra itu memang saling mendamba.


Dari manik matanya, Samudera seolah ingin mengatakan, 'kumohon! Tetapi aku juga tidak lagi akan memaksamu.'


Membuat pertahanan diri Venus kembali lemah dan akhirnya roboh.


Ketika mereka sudah terbuai dalam panasnya gairah yang membakar dan berkobar-kobar. Seketika aktifitas mereka terhenti karena terjeda oleh kumandang azan maghrib yang saling bersahutan di luar sana.


Mereka saling menumpu dengan jidat yang masih menempel, berusaha meredakan gairah yang sempat meledak-ledak tadi.


Dan akhirnya tawa mereka pecah, entah apa yang mereka tertawakan, hanya mereka berdua yang tahu isi kepala masing-masing.

__ADS_1


Author pura-pura tidak tahu😁


__ADS_2