
Sejak hari itu, sejak Venus menumpahkan tangisnya di dalam dekapan hangat tubuh Samudera, sejak Samudera memberinya ultimatum agar terus membencinya dan tidak jatuh cinta kepadanya, sejak itu juga hingga detik ini Samudera tidak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapan Venus.
Ini sudah seminggu berlalu. Samudera seolah menghilang begitu saja setelah apa yang dia lakukan kepada Venus.
Tidak, Venus sama sekali tidak mencarinya. Justru ia merasa tenang dan bahagia membuat kesehatan mental dan fisiknya jauh lebih membaik. Jika boleh memilih, tentu ia akan lebih bahagia jika tidak pernah ada Samudera di dalam cerita hidupnya.
Dalam hidup, ada saat-saat dan ada orang-orang tertentu yang mana kita berharap tidak pernah berada dalam satu irisan ruang dan waktu sehingga kita merasa semuanya akan lebih baik jika itu tanpa mereka. Dan bagi Venus, Samudera adalah salah satunya yang ingin ia hilangkan andai takdir memihaknya.
Namun, itu hanyalah batas angan-angannya karena kenyataannya berbeda.
Venus meraup udara pagi sebanyak-banyaknya. Ia kini sedang berada di tepi kolam renang dengan kaki terjuntai masuk ke dalam air kolam. Matanya jauh memandang ke pepohonan rindang yang melapisi pagar tembok yang mengelilingi rumah mewah tempatnya dikurung Samudera.
Meski bosan, tetapi Venus bersyukur karena sudah dibolehkan menjelajahi seisi ruang rumah dan halamannya. Bahkan, sudah tiga hari ini ia sibuk menghabiskan waktu di dapur dengan membuat kue-kue kesukaannya.
Kata bu Wati, ia bebas melakukan apa saja di rumah ini. Hanya satu yang tidak boleh, ia tidak boleh meninggalkan rumah.
Oleh karena itu Venus seperti mendapatkan jackpot. Dengan kartu debit yang diberikan Samudera tempo hari, ia membeli semua peralatan baking berikut bahan-bahan kue yang dibutuhkannya.
Bukan dirinya yang pergi berbelanja. Siapa lagi kalau bukan Alex dan Max. Dua lelaki muda yang selalu berada di sekitarnya ketika berada di halaman rumah harus diberi pelajaran.
Merekalah tukang belanja Venus, mereka jugalah bagian kelinci percobaan masakan dan kue-kue bikinan Venus. Barulah setelah keduanya oke maka semua orang di rumah mendapatkan bagiannya masing-masing.
"Lama-lama roti delapan sobek di perutku bisa hilang kalau non Venus terus masak setiap hari sebanyak ini." Keluh Max karena Venus terus memintanya menghabiskan puding coklat yang baru saja ia hidangkan di meja makan.
Alex pun menganggukkan kepala membenarkan keluhan Max, ia menatap penuh permohonan kepada istri tuannya itu.
__ADS_1
"Enggak usah banyak mengeluh. Ada makanan itu disyukuri, pamali mengeluh di depan makanan." Ucap Venus enteng lalu meneguk setengah gelas jus jeruk dalam satu tegukan.
"Syukur sih syukur, non," timpal Alex memegang perutnya. "Tapi kalau setiap hari dan sebanyak ini, bisa-bisa kami hamil duluan dibanding non Venus. Masalahnya, kalau non Venus yang hamil, sembilan bulan udah brojol, lah kami? Hanya diet yang bisa mengubahnya."
Venus tidak bisa menahan tawanya melihat wajah Alex dan Max yang memelas kepadanya.
"Udah.. dietnya besok aja!" Venus segera beranjak membawa gelas bekasnya ke dapur dan langsung mencucinya kemudian berlalu ke kamarnya mengabaikan Alex dan Max yang hanya bisa mengelus perut melihat kelakuan Venus dengan wajah innocentnya itu.
Pletak...
Tangan Alex langsung kena sentil oleh bu Wati, "katanya mau diet, tapi tangan tetap aktif ngambilin puding ke mulut." Ledek bu Wati mengambil sepiring puding untuk dia bawah ke pos satpam depan.
Alex dan Max hanya bisa pasrah dan saling melempar tatapan mengejek satu sama lain.
*****
Beruntung hari ini dokter sudah membolehkan pulang setelah kondisi ibu Jeny sudah berangsur pulih.
Sudah beberapa tahun terakhir ini, ibunya lebih banyak menghabiskan waktunya di Singapur dibanding di rumahnya di Jakarta. Selain karena di Jakarta ia merasa kesepian, di Singapur juga dirinya memiliki toko perhiasan yang cukup terkenal di sana.
"Sam, apakah ibu harus mati dulu baru kamu akan menikah? Setahun yang lalu kamu sudah berjanji sama ibu, tapi nyatanya... sampai sekarang kamu malah sengaja menghindari ibu. Kalau ibu tidak jatuh sakit seperti ini, mungkin kamu tetap akan punya seribu satu alasan untuk mengabaikan keberadaan ibu. Ibu sudah tua, Sam. Ibu juga ingin melihatmu menjadi seorang ayah. Apa begitu sulit memenuhi permintaan ibu?"
Ibu Jeny hanya bisa menghela nafasnya pelan, melihat putra satu-satunya itu yang begitu acuh dan dingin.
"Kali ini ibu tidak mau lagi mendengar alasan, Sam. Ibu akan mengatur pernikahan kamu dengan anak rekan bisnis ibu."
__ADS_1
"Bu..." sela Samudera yang sedari tadi hanya diam mematung di sisi jendela ruang rawat inap ibunya.
"Ibu tidak usah melakukan itu, aku sudah menikah, bu." Ucapnya jujur membuat ibunya memicingkan mata tidak percaya dengan pengakuan putranya.
"Jangan coba-coba membohongi ibu, Sam. Setahun yang lalu kamu mengatakan akan mengenalkan calon istri kamu, lalu sekarang kamu mengatakan sudah punya istri... ada-ada saja kamu, Sam." Bu Jeny masih tidak bisa percaya begitu saja.
"Aku berkata jujur, bu. Kami sudah menikah seminggu yang lalu, aku meninggalkannya di Jakarta setelah menikahinya dan langsung ke sini setelah mendengar kabar ibu sakit." Samudera tidak berbohong, begitulah kenyataannya.
Bu Jeny menghela nafas berat. Ia bisa melihat kejujuran di mata putranya itu.
"Apa ibu tidak seberarti itu bagimu hingga kamu menikah tanpa sepengetahuan ibu?"
Samudera menggeleng, "maaf.." ucapnya lemah.
"Bawa dia menemui ibu, ibu belum tentu merestuinya." Nada ketidakrelaan itu jelas tersirat di sana.
"Aku hanya memberi tahu ibu, bukan meminta restu. Dia sudah sah menjadi istriku dan tidak ada yang berhak mencampuri urusan rumah tangga kami, tidak terkecuali ibu." Ucapnya dingin dan penuh penekanan.
"Siapa perempuan itu sampai membuat kamu menentang ibu seperti ini? Kamu anak ibu, ibu yang lebih berhak di sini." Emosi ibunya mulai sedikit terpancing.
"Ibu tidak usah memikirkannya, yang terpenting sekarang aku sudah menikah dan seperti harapan ibu, sebentar lagi aku akan dipanggil ayah dan ibu akan dipanggil oma." Pungkas Samudera mencoba mengakhiri pembicaraan mereka yang pada akhirnya tidak akan pernah menemui titik temu yang sama.
Samudera memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa berat ketika memikirkan bagaimana reaksi ibunya nanti saat mengetahui asal usul perempuan yang telah ia nikahi.
Ibu Jeny berdecih tidak suka dengan penuturan putranya itu, namun ia memilih diam saat ini. Berdebat dengan Samudera hanya buang-buang waktu dan energi saja. Anak itu terlalu suka semaunya, pemaksa dan tidak ingin diatur.
__ADS_1
Lihat saja nanti, jika perempuan itu hanya akan membawa pengaruh buruk dalam kehidupan Sam, maka ia pastikan dirinya sendirilah yang akan memisahkan mereka.