A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 71


__ADS_3

Venus saat ini sedang memandikan baby Alea setelah Alea bermain selama beberapa jam hingga memasuki waktu Asar, Venus senang melihat perkembangan baby Alea yang semakin aktif dan semakin berisi. Meskipun beratnya hanya 5 kg di usianya yang sudah hampir menginjak enam bulan, tetapi jika dibandingkan saat pertama kali melihatnya, baby Alea begitu kecil, begitu rapuh.


Sekarang, pipi Alea cukup chubby, betis dan pahanya sudah membentuk lipatan daging kencang dan kenyal, itu sangat menggemaskan.


Alea mewarisi semua kesempurnaan rupa dari daddynya, Samudera benar-benar hampir mengklaim habis wajah Alea, beruntung bentuk bibir Alea masih disisakan untuknya. Satu lagi yang Venus ambil, lesung pipi. Senyumnya Alea adalah senyum milik Venus.


Alea benar-benar menggemaskan, apalagi dengan rambutnya yang tidak tumbuh merata di kepalanya, bagian atas gondrong sementara bagian belakang bawah dan dua sisinya benar-benar mulus, bersih dan putih seputih kulitnya.


Kata mbak Aida, itu karena Alea lebih banyak tidur, jarang digendong.


Bukan karena di rumah kekurangan orang, jika dibiarkan, Alea bisa saja berada di dalam gendongan selama 24 jam sehari. Terlalu banyak orang yang menyayanginya di rumah ini. Tetapi Venus tidak mengizinkan, Venus ingin Alea tumbuh jadi anak yang mandiri, meskipun dia anak perempuan dan daddy-nya bisa memenuhi semua keinginannya, tetapi Venus tidak ingin mendidiknya dengan cara mudah, dalam beberapa hal, Venus ingin mengenalkan hidup prihatin kepada Alea.


Ketika Alea rewel, mengangkat dan menggendongnya bukan solusi pertama yang sering Venus lakukan. Venus akan terlebih dahulu mengajaknya berbicara, tidak peduli Alea belum mengerti, tetapi setidaknya itu adalah langkah pertama baginya untuk fokus pada apa yang diucapkan Venus kepadanya.


Entah bagaimana nantinya saat Samudera sudah mengambil alih perawatan Alea darinya, pasti akan berbeda pola parenting antara dirinya dengan Samudera. Mungkin akan mudah jika mereka adalah pasangan suami istri yang normal.


Huuuuuu... Venus menghela nafas panjang.


Sudah tiga hari ini semua orang rumah sedang sibuk menyambut kedatangan Samudera. Mulai dari bersih-bersih hingga menyiapkan kamar pribadi untuk baby Alea.


Venus bingung sendiri dengan status dirinya di rumah ini, apakah masih dianggap oleh Samudera atau bagaimana. Mengingat waktu enam bulannya yang tertinggal terhitung kurang dari dua minggu lagi.


Menyadarinya rasanya ada yang ngilu di sudut hatinya, ia hanya bisa menggigit pipi dalamnya, matanya berkabut bahkan sudah basah.


Celotehan Alea membuyarkan lamunannya, gegas memakaikan Alea handuk. Hampir saja ia membuat bayinya kedinginan. Berulang kali Venus mendekap Alea sembari mengucapkan permohonan maaf.

__ADS_1


"Maafin mommy, sayang... maafin mommy. Mommy gak sengaja bikin kamu kedinginan." Alea malah semakin semangat berceloteh membalas ucapan-ucapan Venus kepadanya. Bahkan air liurnya sudah sedikit banjir karena tangannya juga aktif di dalam mulutnya.


"MaasyaaAllah.. anak mommy, gemeshhhnya.. pake minyak telon dulu yah, biar wangi. Mommy pijat-pijat bentar yah..."


Alea tertawa mendapati sentuhan-sentuhan di atas kulitnya..


"Alea suka yah? Ini pijatan yang bakal kamu rindukan nanti, jangan lupakan mommy yah, sayang. Mommy sayyaaaaang banget sama kamu!" Ciuman bertubi-tubi Venus berikan kepada Alea, bukan hanya di bagian pipinya, tetapi salah satu spot favoritnya adalah kaki mungilnya. Venus menyukai semua aroma bayinya itu.


"Nah... anak mommy udah cantik dan wangi." Venus mengangkat Alea ke dalam gendongannya lalu membawanya ke depan cermin. Alea sangat senang melihat pantulan dirinya.


"Sekarang waktunya bobo dan minum susu!" Venus membaringkan Alea di atas tempat tidur lalu dirinya pun menyusul ikut berbaring. Inilah salah satu alasan kenapa rambut Alea masih plontos di bagian bawah karena saat diberi ASI pun selalu dengan berbaring dan pada akhirnya kebawa tidur. Padahal niat awalnya hanya menyusui karena waktu maghrib sudah dekat.


Alea belum bisa duduk tanpa bantuan, tetapi kalau tengkurap, dia sudah sangat expert. Makanya Venus selalu menyusun bantal di tepi tempat tidur karena Alea sudah bisa berguling-guling ke segala arah.


Venus mengusap lembut kepala Alea sembari melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an yang dihafalnya. Ketika dirinya hampir ikut terjatuh dalam tidur, tiba-tiba terdengar suara kenop pintu dibuka.


Venus memilih memejamkan matanya meski kuat rasa ingin melirik demi melihat wajah itu lagi, wajah yang ternyata diam-diam ingin ia lihat dan pandangi sampai puas.


Tangan Venus mengepal kuat mencengkeram bantal saat ia merasakan pergerakan di atas kasurnya. Apalagi saat satu kecupan basah dan lama menempel di keningnya. Membuat kerja jantungnya melompat-lompat tidak karuan, haruskah ia membuka matanya? Atau tetap pura-pura tidur saja agar kegiatan jantungnya bisa segera teredam.


Tidak hanya sampai di situ, bisa Venus rasakan tubuh besar itu ikut berbaring di belakangnya. Tangan kekarnya melingkari perut Venus dan sedikit menarik tubuhnya lebih dekat hingga pelukan dan deru nafas di telinga Venus seolah seperti mantra yang memintanya untuk menidurkan jiwanya yang lelah.


---


---

__ADS_1


Samudera sempat ikut tertidur dengan dua orang perempuannya, namun kesadarannya terganggu ketika mendapati baby Alea yang terbangun seperti sedang merengek.


Tidak ingin mengganggu tidur Venus yang tampak sangat lelap, Samudera bersegera mengangkat baby Alea dan membawanya turun ke dapur. Di sana ia meminta mba Aida menyiapkan ASI yang ada di dalam freezer.


Alea sendiri tampak langsung nyaman berada dalam gendongan daddynya meski ini adalah pertemuan pertama mereka setelah lima bulan lamanya. Bahkan Alea menolak uncle Alex saat ingin mengambilnya dari gendongan daddy-nya, padahal selama ini justru Alea yang tidak mau lepas kalau Alex yang gendong.


"Tau aja ni bocah kalau yang gendong itu lebih tampan dari uncle-nya, dari kecilnya aja udah bisa bedain mana berlian mana kerikil, bagemana kalo udah gede nanti?" Alex menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi Alea yang seolah tidak mengenalnya lagi.


"Anak daddy memang ter the best, cerdas banget kamu, sayang. Anak daddy nih!" Samudera begitu bangga dan percaya diri melihat tanda-tanda kecerdasan yang dimilikinya telah menurun kepada anaknya.


Alex memutar bola matanya jengah, tentu itu ia lakukan di belakang Samudera. Mana berani dia berekspresi seperti itu jika di depan Samudera.


Setelah menghabiskan sebotol ASI, Alea kembali menguap. Bukan hanya sekali, tetapi sudah berkali-kali.


"Kamu ngantuk yah, sayang? Mau bobo? Bobo sama daddy yuk! Tapi mulai sekarang Alea bobonya di kamarnya sendiri yah, kan udah gede ini. Anak Daddy pasti bisa!" Samudera langsung membawa Alea ke kamar yang sudah disiapkan khusus untuknya. Kamarnya berada tepat di samping kamar utama dan memiliki pintu penghubung, hal itu sudah difikirkan Samudera agar lebih mudah mengawasinya, termasuk memasang CCTV.


Samudera sedikit kesulitan membuka pintu dikarenakan ada Alea di gendongannya sementara tangannya yang bebas sedang membawa botol berisi ASI.


Venus yang kebetulan ingin ke dapur melihatnya dan langsung membantu Samudera membuka pintu.


Sesaat mereka terdiam terpaku di tempat masing-masing, Venus dengan resah hatinya yang tidak menentu begitupun dengan Samudera yang seperti kehilangan kata saat itu juga.


Hati Samudera bergetar melihat manik mata teduh milik istrinya itu. Tapi, hatinya seketika menciut ketika kembali bayangan kebenaran terpampang diingatannya. Ternyata dirinya belum siap menatap mata itu. Malu...


Kecanggungan itu pun berakhir ketika Alea tiba-tiba berceloteh riang. Samudera membawa Alea masuk ke kamar sementara Venus masih mematung tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya hanya bisa memandang dari jauh interaksi antara anak dan ayah itu. Hatinya menghangat, ia tahu Samudera sangat menyayangi putrinya, hal itu sudah cukup menenangkannya.

__ADS_1


Tidak terasa satu bulir bening jatuh begitu saja di sudut matanya, ingin menyapa namun takut diabaikan, ingin ikut bergabung namun takut kehadirannya membuat Samudera tidak nyaman. Ia bisa merasakan bagaimana Samudera seolah tidak ingin menatapnya. Akhirnya Venus memutuskan turun ke dapur, melihat Samudera di sana hanya membuat hatinya terasa tercubit.


__ADS_2