A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 68


__ADS_3

Samudera sedang duduk di kursi kayu memperhatikan Bintang yang terkulai lemah tak berdaya setelah mendapatkan beberapa pukulan di sekujur tubuhnya.


Samudera tidak suka melihat ada laki-laki lain yang berusaha menarik perhatian Venus.


Tidak ada ampun, tidak ada belas kasihan Samudera kepada laki-laki yang telah mengusik ketenangannya.


Tujuan Samudera datang ke tempat penyekapan Bintang saat ini tidak lain karena ingin menghajar laki-laki itu, dan juga ia sedikit terusik dengan apa yang menjadi alasan Venus menemuinya. Bukankah kebenaran harus dibuktikan dari pengakuan dua belah pihak?


Bintang terbatuk-batuk memegangi perutnya yang sakit, bukan hanya perutnya, sepertinya tulang rusuknya juga telah patah.


"Jangan sakiti Venus, dia sama sekali tidak tau apa-apa. Aku yang menyeretnya masuk ke dalam masalah ini. Venus tidak bersalah." Suara Bintang patah-patah, susah payah rasanya menyelesaikan ucapannya. Ia tahu betul bagaimana karakter Samudera yang kejam dan tidak berperasaan.


"Kenapa? Apa kamu takut jala ng itu aku habisi?" Tanya Samudera dingin.


"Dia bukan ja lang brengsek!" Bintang tidak terima, ingin rasanya meremukkan mulut laki-laki bajingan itu.


"Dia bukan ja lang, kamu yang telah menghancurkan hidupnya, kamu yang memaksanya menjadi budak ****-mu. Apa belum cukup kekejaman keluargamu kepada orang tua Venus? Apa belum cukup tiga nyawa itu yang kalian ambil? Apa belum puas?" Tanya Bintang dengan tatapan nyalang.


Samudera langsung melompat ke tubuh Bintang, tangannya menarik kerah bajunya hingga tubuh Bintang yang awalnya duduk terkulai lemas ikut berdiri mengikuti Samudera.


"Jangan coba-coba membawa keluargaku dalam masalah ini atau kurobek mulutmu!" Samudera tersulut emosi dengan tatapan membunuh. Bahkan urat-urat di wajahnya menyembul seperti tali temali tak beraturan.


Bintang masih bisa tersenyum, senyum mengejek tepatnya. "Tanyakan kepada ibumu, siapa pemilik dan pendiri perusahaan yang kamu pimpin sekarang? Tanyakan bagaimana bisa tiba-tiba perusahaan itu berpindah tangan atas nama ayahmu yang hanya seorang sahabat sekaligus karyawan kepercayaan pemilik perusahaan tersebut? Dan tanyakan satu hal lagi, apakah dia yakin bahwa Febrian Al-Barrack adalah ayah kandungmu?"


Bughhh.. Bughhh


Dua bogeman mentah berhasil melayang ke wajah Bintang. Tampak dua buah giginya lepas dari rahangnya.


Samudera bangkit lalu menepuk-nepuk tangannya. Dirinya sungguh tidak terima dengan mulut lancang Bintang yang benar-benar menghantam ego dan harga dirinya.


"Kamu akan menyesal." Ucap Bintang tersenyum meremehkan sebelum kesadarannya menghilang.


Samudera melempar barang apa saja yang ada di dalam kamar sempit tersebut.

__ADS_1


Arrrgggghhhh.. teriaknya frustasi.


Niatnya datang ke sini untuk melampiaskan semua kekesalannya agar berkurang beban fikirannya, tetapi dirinya malah dikagetkan dengan semua omong kosong Bintang.


Tetapi, bagaimana jika itu benar???


Samudera mengacak-acak rambutnya kemudian menariknya sebanyak yang digenggam tangannya.


"Robby!"


"Siap!"


"Siapkan jet pribadi! Kita berangkat ke Singapur malam ini juga."


Samudera tidak bisa tenang, perkataan Bintang tadi sangat mengusik pikirannya. Ia harus menanyai langsung ibunya. Harus!!!


Sebelum menuju bandara, Samudera mendatangi rumah peninggalan ayahnya yang sudah lama tidak didatanginya, begitupun dengan ibunya yang lebih memilih menghabiskan waktunya di Singapur, saat kembali ke Indonesia pun, akhir-akhir ini ibunya memilih tinggal bersamanya.


Setelah melakukan terapi, kesehatan ibunya berangsur pulih dan sudah bisa menggerakkan kakinya, hanya saja untuk berjalan ibunya masih harus dibantu dengan kursi roda, namun itu tidak menghalanginya tetap menjalankan bisnisnya di Singapur.


Dimulai dari meja kerja, Samudera menyisir setiap laci dan tumpukan buku yang masih tergelatak di atas meja. Samudera tidak ingin melewatkan satu hal pun di sana.


Tidak menemukan hal berarti, Samudera menyisir isi lemari dan buku-buku yang ada di dalamnya. Bahkan kepala lemari yang tinggi pun ia sisir.


Samudera mendesah kasar, tidak ada satu pun yang bisa memberinya petunjuk.


Saat hendak keluar dari ruangan tersebut, matanya tertuju pada sebuah amplop coklat yang terselip di dalam salah satu buku yang ada di sudut ruangan tempat dimana biasanya ayahnya meletakkan buku yang sedang dibacanya.


Samudera membolak balik amplop tersebut, amplop itu polos.


Amplop itu sudah terbuka, tampak ujungnya sudah sobek, tetapi ada lembaran kertas putih di dalamnya.


Meski Samudera tidak terlalu tertarik dengan isi amplop itu, tetapi tangannya bergerak juga mengeluarkan kertasnya.

__ADS_1


Ada kop nama salah satu rumah sakit terbesar di kota ini tertera di sudut kiri isi surat tersebut. Tetapi bukan itu yang menarik perhatian Samudera.


Tulisan bercetak tebal dan besarlah yang menjadi pusat perhatiannya.


Bibirnya bergetar membaca tulisan tersebut.


'HASIL IDENTIFIKASI DNA'


Samudera meluruh terduduk di sofa single ketika matanya terus menelisik satu persatu setiap kata yang tertulis di atas kertas tersebut.


Itu adalah surat hasil test DNA antara ayahnya Febrian Al-Barrack dengan dirinya Samudera Biru.


Dan alangkah terkejutnya Samudera ketika pada paragraf terakhir tertulis bahwa probabilitas Febrian Al-Barrack sebagai ayah biologis Samudera Biru adalah 0%.


Samudera meremas kertas itu kemudian merobek-robeknya dengan tangan gemetar. Hatinya bergemuruh, matanya memanas.


"Ayah... tidak!!! Ini semua tidak benar. Aku adalah anak ayah, anak kesayangan ayah. Ayah selalu bilang kalau aku adalah anak ayah, selamanya akan menjadi anak ayah.. kenapa ayah? Kenapa?"


Samudera bermonolog sendiri seolah ia sedang berbicara dengan ayahnya saat ini.


"Ayaaaahhhh... kenapa? Arrrgghhh!"


Samudera melempar semua barang yang bisa diangkatnya di dalam ruangan itu. Ruangan yang sudah lebih 5 tahun tidak disentuhnya. Bahkan lemari pun tidak luput dari keganasannya.


Semua ia hancurkan, melampiaskan semua rasa sakit yang seperti telah memakan habis kebahagiaannya dan kebanggaannya menjadi putra tunggal seorang Febrian Al-Barrack.


Mengapa semua ini terjadi? Mengapa ia tidak pernah tahu dan baru tahu dengan cara seperti ini?


Mendengar suara-suara ribut dan teriakan Samudera dari dalam ruangan, Robby segera menghambur masuk kemudian memeluk tubuh Samudera dari belakang agar menghentikan aksinya yang sudah sangat brutal menghancurkan semua barang.


"Hei.. sadar! Sadar, Sam!" Bentak Robby dengan suara keras dan tegas.


Samudera yang sebelumnya memberontak ingin melepaskan diri seketika melemah dan merosot ke lantai.

__ADS_1


"Rob.. katakan ini tidak benar! Katakan kalau aku adalah anak ayah.. katakan Rob! Surat hasil test DNA itu bohong kan, Rob? Itu pasti bohong!!" Samudera mengiba tidak berdaya.


Robby mendesahkan nafas beratnya ke udara. Dirinya pun terkejut mendengar perkataan Samudera. Sangat sulit mempercayainya, namun jika itu memang sudah tertulis dalam surat hasil test DNA, tidak mungkin itu rekayasa bukan?


__ADS_2