
Venus terbangun karena merasakan perutnya yang melilit. Dia benar-benar merasa sangat lapar saat ini. Venus yang sebelumnya menghadap ke sisi kanannya kini merubah posisi berbaringnya dengan terlentang. Masih berusaha berjuang melawan rasa laparnya dan gengsinya. Bukankah pertengkarannya dengan Sam dilatarbelakangi oleh rasa gengsinya menerima makanan pemberian Sam?
Jika saja dirinya mau meletakkan sedikit rasa gengsinya, mungkin bibirnya masih perawan hingga detik ini.
Venus menggelengkan kepalanya mengingat kejadian itu, sungguh dada Venus saat ini bergemuruh menahan rasa marahnya kepada Samudera.
Tidak kuat melawan kehendak perut, matanya menyisir pemandangan di dalam ruangannya, meski pencahayaan cukup redup, namun Venus masih bisa melihat sofa yang kosong dan tempat tidur terlihat terisi seseorang di sana. Venus yakin itu Febby.
Venus menghela nafas pelan, setidaknya ia merasa lega karena tidak ada Samudera di sini.
Venus mendudukkan tubuhnya, ia menoleh ke arah nakas, mencari sesuatu yang mungkin bisa mengganjal perutnya.
"Syukurlah." Ucap Venus meraih roti di atas nakas.
Pelan-pelan Venus mulai menikmati makan malamnya, meskipun hanya sepotong roti, namun itu sudah lebih dari cukup baginya.
"Kakak lapar?" Tanya Febby dengan suara seraknya datang menghampiri Venus.
Febby memilih ikut duduk di tepi ranjang di sisi Venus yang kosong.
"Lumayan." Jawab Venus masih dengan mengunyah roti yang dimakannya.
"Tadi aku sempat pesan makanan buat kak Venus, mau aku panaskan dulu?" Tanya Febby langsung berdiri menuju microwave berada.
Namun baru beberapa langkah, Venus sudah menjedanya, "tidak usah repot-repot, Feb. Roti ini sudah cukup."
Febby membalik badannya, "Enggak repot kok, kak!" Meskipun masih sangat mengantuk, Febby tidak keberatan repot-repot memanaskan makanan untuk Venus.
__ADS_1
"Ini sudah cukup, Feb. Aku juga gak bisa makan banyak dini hari begini, nanti perutku begah." Venus betul-betul tidak berselera makan, hanya karena lapar makanya ia mau menyentuh sepotong roti itu, itu pun sudah cukup mengenyangkan baginya.
"Yakin?" Tanya Febby khawatir.
Venus mengangguk yakin. Bukan tidak ingin merepotkan, tapi memang Venus sudah merasa kenyang.
Febby kembali berjalan menuju tempat tidur dan menjatuhkan bobot tubuhnya di sisi Venus lalu merebahkan tubuhnya di sana.
Cukup lama mereka terjeda oleh hening, seperti tidak ada yang ingin membuka suara terlebih dahulu.
Venus berdiri hendak menuju kamar mandi, refleks Febby langsung ikut berdiri.
"Gak usah, Feb. Aku udah baikan. Aku bisa melakukannya sendiri." Tolak Venus menahan Febby.
Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Venus ikut bergabung dalam selimut bersama Febby yang ternyata memilih mengambil posisi tidur di satu sisi. Tempat tidur perawatan Venus memang cukup jika untuk dua orang di atas.
"Kak Venus marah sama kak Sam?" Tanya Febby setelah Venus merebahkan tubuhnyadi sisinya.
"Jujur, aku sangat marah sama dia. Benci banget!!!" Kembali Venus menghela nafasnya.
"Aku sebenarnya udah biasa dengan kata-kata kasarnya yang sering menghina bahkan melecehkan, tapi lama-lama hatiku, telingaku panas juga. Dan entah kenapa dia selalu menuduhku perempuan murahan, dia selalu mengatakan berulang-ulang kalau tubuhku sudah sering dijamah laki-laki. Padahal ciuman pertamaku saja diambil sam- ekkhhmmm." Venus menjeda kalimatnya, dia terlalu semangat curhat sampai mulutnya keceplosan menceritakan aibnya. "Ma..maksud aku ciuman saja aku tidak pernah." Imbuhnya sedikit salah tingkah.
"Pantas saja bibir kak Sam sampai luka begitu," ejek Febby.
Venus gelagapan tidak tahu harus menanggapinya dengan kata-kata apa.
"Katanya sih, ciuman yang pertama itu memang biasanya menggebu-gebu, ada rasa penasaran bercampur rasa ingin tau dan mengeksplorenya lebih jauh." Lanjut Febby.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih?" Venus pura-pura tidak mengerti.
"Jadi bagaimana? Apa kak Venus tidak mau meminta tanggung jawab kak Sam karena sudah mencuri ciuman pertama kakak?" Tanya Febby mengabaikan pertanyaan Venus. "Kakak yakin kalau suatu saat kakak menikah dengan laki-laki lain selain kak Sam, apa kak Venus tidak akan dihantui rasa bersalah karena bukan dia yang pertama menyentuh bibir kakak, bahkan bukan dia yang pertama kali melihat- Febby menggantung kalimatnya,- melihat tubuh kak Venus." Imbuhnya, Febby sedang berusaha menyentuh sisi psikologis Venus sebagai perempuan yang menjaga dirinya baik-baik. Tentu dia hanya ingin disentuh dan dimiliki oleh satu orang saja. Suaminya!
"Enggak Feb, yang berlalu biarlah berlalu. Aku masih cukup waras untuk memilih hidup normal dibanding hidup dengan Sam. Kami terlalu berbeda dalam segala hal. Lebih baik tidak menikah sama sekali daripada salah memilih pasangan. Itu sama saja mempercepat datangnya siksa neraka."
"Memangnya apa kurangnya kak Sam?"
"Kurang akhlak!" Jawab Venus cepat.
"Aku mau hidup damai sentosa, bagaimana mau hidup damai kalau berdampingan sama orang yang minus akhlak seperti dia? Mungkin dia sama dengan kebanyakan laki-laki yang berfikir bahwa perempuan itu hanya menginginkan uang, mobil, rumah dan hadiah. Padahal sebagian perempuan lebih menginginkan waktunya, perhatiannya, usahanya membahagiakan pasangannya, dia baik, hangat, setia dan menjadikan wanitanya sebagai prioritas utamanya. That's it!"
"Kak Venus benar juga sih. Tapi kak Sam tidak seburuk itu juga. Orang-orang hanya tau apa yang kak Sam izinkan untuk orang lain ketahui tentang dirinya. Aku bukan membela karena kami bersaudara, aku bertahan di sisinya dengan sikapnya yang super duper menjengkelkan itu karena aku tau bagaimana dia yang sebenarnya."
"Kak Venus jawab jujur, apa kesan pertamanya melihatku? Apa aku terlihat seperti gadis baik-baik?"
"Jawaban jujur yah?" Venus menoleh ke Febby yang sedang menatapnya dengan kepala ditopang oleh satu tangannya.
Febby mengangguk.
"Jujur, aku fikir kamu adalah salah satu pacarnya saat itu. You know lah maksud aku bagaimana melihat gadis milik Sam."
"Dan aku masih suci, kenapa? Karena kak Sam menjagaku seperti menjaga batu berliannya yang sangat berharga. Aku tidak pernah bisa punya pacar karena sudah di-cut duluan oleh kak Sam. Padahal, aku sangat ingin merasakan bagaimana rasanya ngebucinin pacar aku, bagaimana rasanya dimanja oleh seseorang, pengen melakukan apa saja yang orang pacaran lakukan, tapi tidak bisa. Semua karena kak Sam. Katanya, kalau mau ***-***, nikah!" Kesal Febby menjatuhkan kepalanya kemudian meninju angin dengan satu kepalan tangannya.
"Berarti kamu beruntung karena ada yang ingin melihat kamu tetap terjaga."
"Kalau menurut kak Venus aku beruntung, kenapa kak Venus tidak mau menjadi salah satu yang beruntung itu?" Tanya Febby serius.
__ADS_1
"Karena aku dan kamu itu berbeda. Aku bukan siapa-siapanya dan aku pun tidak mau menjadi siapa-siapa dia. Cukuplah antara kami hanya sebatas bawahan dan atasan saja." Ucap Venus mengakhiri pembahasan mereka.
Sejak tadi Febby sudah berkali-kali membuka lebar mulutnya karena menguap. Sepertinya matanya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Tidur!