
Belum pernah di sepanjang hidupnya Samudera terbangun dengan perasaan begitu baik dan bersemangat menyambut harinya. Entah apa nama perasaan yang dirasakannya saat ini, terasa hangat, ceria, dan menenangkan.
Seperti pagi ini, subuh tepatnya. Samudera bangun tidur mendahului istrinya yang tampak sangat nyenyak bahkan tidak terganggu sama sekali dengan beberapa kecupan ringan yang diberikannya sebelum beranjak ke kamar mandi.
Entah malaikat apa yang merasukinya, tiba-tiba saja dia ingin sholat subuh berjamaah di Mesjid, hitung-hitung setor muka dengan warga sekitar yang tidak pernah lagi muncul setelah hari pernikahannya. Padahal dia sudah berjanji akan sering-sering datang ke mesjid untuk belajar mengaji dan sholat.
Samudera keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan setelan baju kokonya. Melihat Venus yang masih tertidur membuat Samudera gemas sendiri.
Melihat kedua kaki Venus yang sedikit tersingkap dari selimut, Samudera menarik kedua kaki itu hingga tubuh Venus terseret kebawah.
Venus sangat kaget mendapati tubuhnya yang tiba-tiba ditarik dari bawah. Belum hilang keterkejutannya, tubuhnya tersentak ke atas dengan kaki di atas dan posisi kepalanya di bawah.
Samudera menggendongnya seperti karung beras langsung masuk ke kamar mandi. Tubuhnya diputar kemudian diletakkan di atas closet.
Venus terdiam mengumpulkan semua kesadarannya.
Tidak berapa lama matanya melotot menatap tajam pria tampan dan mempesona yang sedang berjongkok di depannya yang juga menatapnya dengan senyum menjengkelkan.
"Sudah bangun?" Tanya Samudera dengan wajah tanpa dosa.
Venus mengepalkan kedua tangannya siap-siap menyerang Samudera.
"Saaaaaammmmmmm...."
Blam...
Pintu sudah lebih dulu ditutup Samudera sebelum Venus menggapainya.
Tawa Samudera pecah membuat Venus memukul dan menendang pintu kamar mandi dengan nafas memburu membuat dadanya naik turun.
Venus duduk lagi di atas closet untuk beberapa saat menenangkan dirinya. Jantungnya masih berdebar kencang, bukan hanya karena emosinya yang meledak kepada Samudera. Ia masih kaget dan linglung akibat dibangunkan dengan cara tidak biasa tadi.
__ADS_1
Sekesal-kesalnya Venus kepada suaminya itu, tetap saja ia melakukan tugasnya menyiapkan sarapan dan kopi untuk Samudera.
Sehabis sholat subuh tadi, Venus segera menyiapkan sarapan dan bekalnya seperti biasa, Venus memang lebih senang membawa bekal dari rumah dibanding makan siang di kantin.
Setelah semuanya selesai, Venus kembali ke kamar untuk siap-siap.
Blouse mactha dengan tali di pergelangan tangan, dipadu dengan jilbab berwarna abu serta rok kulot panjang yang berwarna senada dengan jilbabnya terlihat begitu simple namun semakin menambah rasa percaya dirinya untuk memulai harinya bekerja di kantor.
Tidak lupa memilih membawa tas tangan matcha, senada dengan blouse yang ia kenakan. Sebenarnya ia sangat tertarik memakai sepatu heels, tetapi ia urung, ia tidak terbiasa memakainya, karena itu pilihannya jatuh pada flat shoes hitam yang tidak kalah menarik menurutnya.
Samudera masuk ke kamar hanya memakai celana pendek dan baju kaos tanpa lengan, terlihat bajunya basah oleh keringat, entah kapan dia berganti pakaian, karena seingat Venus, tadi pagi saat membangunkannya, Samudera memakai baju koko sholatnya.
"Aku mau mandi, siapkan pakaianku." Perintah Samudera sebelum menggeser pintu kaca yang menghalagi pandangan Venus dari tempatnya berdiri saat ini.
Meski bingung karena ini adalah yang pertama kali baginya Samudera memintanya menyiapkan pakaiannya, karena sebelum-sebelumnya Samudera sangat marah jika barang-barang pribadinya disentuh Venus.
Rupanya Venus tidak perlu bingung memadu padankan antara Jas, dasi, kemeja, sepatu hingga jam tangan yang akan dipakai Samudera. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa, satu partisi satu set pakaian berikut aksesorisnya. Tinggal pilih saja sesuai selera warna yang diinginkan. Satu hal yang membuat Venus sedikit geli melihatnya, semua dalaman Samudera berwarna hitam.
'Apa setidak berwarna itu hidup Sam?' Ucapnya membatin dan tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya.
Venus segera membalik tubuhnya pura-pura menyibukkan diri dengan merapi-rapikan jas Samudera yang sama sekali tidak kusut itu.
Kerja jantungnya sedang tidak baik-baik saja, melihat penampilan Samudera yang seperti itu membuat otaknya tanpa tahu malu memutar kembali reka adegan panas yang tadi malam mereka lakukan.
Aroma green apple dan campuran musk menusuk indera penciuman Venus.
Venus berdiri kaku ketika tiba-tiba saja Samudera melingkarkan tangannya melingkupi dada Venus kemudian menyandarkan dagunya di atas bahu Venus.
Tinggi badan Venus yang jauh di bawah Samudera membuat Samudera lebih suka melingkari dada Venus dibanding pinggangnya.
Tangan Venus refleks melindungi dua asset pentingnya kemudian berusaha membuka kedua lengannya ingin melepaskan diri.
__ADS_1
"Sam... lepas ih.. pake baju sana!"
Bukannya menurut, Samudera malah memutar tubuh Venus menghadapnya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka melihat tubuhku yang seksi ini?" Dia sangat percaya diri sekali.
"Seksi apanya? Keras kayak tanah liat begini kok." Elak Venus tidak sudi mengakui kesempurnaan tubuh atletis suaminya itu.
"Bukannya perempuan suka laki-laki yang punya banyak roti di perutnya? Jangan bilang selera kamu laki-laki yang bawa satu roti bakpao di perutnya botak pula!" Godaan Samudera sukses membuat Venus meradang.
"Mana ada? Awas aja kalau nanti perut kamu buncit trus rambutmu botak, aku karungin buat dibuang kelaut."
"Waaahhhh... kamu tega banget yah!" Samudera menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang barusan Venus katakan meskipun ia tahu kalau itu hanya candaan saja.
"Kan gak cinta, ngapain dipelihara?" Samudera memgerutkan keningnya seperti tidak suka mendengarnya.
"Yakin belum cinta? Ini jantung kamu ribut begini karena apa kalau bukan ada rasa sama aku?"
"Terus apa namanya debaran jantung kamu ini?" Balas Venus menyandarkan telinganya tepat di dada bagian kiri Samudera.
Telak...
"Bodoh... itu karena aku sedang ON di bawah." Beruntung Samudera bisa segera berkelit karena sesaat sempat bingung hendak menjawab apa tembakan telak Venus itu.
Venus tidak bisa melanjutkan tembakan psikologisnya ke Samudera, kenyataannya seuatu yang keras maju mundur menabrak perutnya.
Venus melotot kemudian mendorong keras dada Samudera, keberuntungan berada di tangan Venus, Samudera berhasil terdorong ke belakang.
"Dasar...mesum!" Cecar Venus kemudian secepat kilat segera berlari keluar dari walk in closet itu.
Venus bergidik geli dan ada ngeri-ngerinya sedikit, menoleh ke belakang seolah masih melihat Samudera di balik pintu, kembali tubuh Venus bergidik. Ia kemudian buru-buru turun ke bawah agar bisa lebih cepat berangkat ke kantor.
__ADS_1
Sementara itu Samudera kembali tidak bisa menahan ledakan tawanya karena kelakuan menggemaskan Venus itu.
Sejenak Samudera tersadar, kenapa akhir-akhir ini dia banyak tertawa. Ada apa dengannya? Tanyanya sambil memegang dada kirinya yang degupannya belum selesai juga.