
Samudera memasuki kamarnya dan mendapati Venus yang masih sholat. Ia meletakkan asal tas kerjanya lalu bergegas masuk ke dalan kamar mandi. Badannya sudah terasa lengket dan gerah.
Menyadari kehadiran Samudera, Venus segera merapikan peralatan sholatnya sesaat setelah sholat. Ia menyambar jilbab rumahannya dan beranjak turun ke bawah. Ia ingin memasak makan malam mereka.
Saat tiba di lantai bawah, Venus sudah tidak menemukan ibu mertuanya di manapun, karenanya ia langsung menuju dapur.
Tampak mba Aida sedang memotong-motong sayuran sementara bu Wati memisahkan kepala udang. Melihat udangnya yang baru setengah disiangi, Venus mendekat di samping bu Wati.
"Ini sisanya tidak usah dilepas kepala dan kulitnya, bu. Bagian kepalanya digunting sedikit di ujung, kemudian kaki-kakinya juga digunting. Jangan lupa keluarin kotoran yang ada di punggungnya yah, bu. Aku mau bikin tomyam."
Bu Wati mengangguk, Venus mendekati mbak Aida kemudian berjongkok memilih sayuran dan bahan lainnya untuk menu masakannya nanti.
"Ini daun bawang nanti dicuci bersih yah mbak terus diiris menyerong."
"Iya non..."
Venus mengambil beberapa batang sereh, daun jeruk, lengkuas dan jahe untuk dia bawa ke zink cuci piring.
Akhirnya, Venus bersama dua asisten rumah tangga suaminya itu larut dalam aktivitas perdapuran dan perbumbu-bumbuan.
Aroma segar menguar begitu saja, menggugah selera dan membuat perut siapapun pasti akan meronta-ronta untuk segera diisi.
"Hmmm... masak apa? Aromanya segar banget?" Samudera tiba-tiba datang menghampiri Venus.
"Ini lagi bikin tomyam sama sayur pokcoy saos tiram." Jawab Venus sambil menuang air putih ke dalam gelas untuk ia sajikan di meja makan.
Samudera menarik satu kursi untuk dirinya.
"Loh, kok ada tiga piring?" Kening Samudera mengkerut melihat Venus menyajikan cukup banyak makanan yang tidak mungkin mereka habiskan berdua saja. Biasanya juga hanya ada dua piring untuk mereka.
"Loh, emang kamu gak tau?" Tanya Venus heran.
"Memangnya tau apa?" Samudera memang tidak tahu maksud Venus.
__ADS_1
"Ada ibu, memangnya kamu lupa kalau ada ibu kamu di sini?"
Samudera membulatkan kedua bibirnya membentuk huruf O.
"Tidak biasanya ibu ke sini, paling di rumahnya sendiri." Ujar Samudera acuh kemudian menyendok makanannya sendiri.
"Panggil ibu kamu dulu sana, makan malam bareng." Cegah Venus saat Samudera mulai menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya.
Samudera memutar kedua bola matanya, malas. "Minta bu Wati saja kalau kamu tidak mau."
Venus mendesah kesal dan akhirnya meminta bu Wati memanggil mertuanya itu. Venus tidak ingin selera makannya menghilang jika saja tiba-tiba mendapatkan kata-kata mutiara yang nyelekit di hati.
Venus ikut duduk di sisi Samudera namun belum mengambil makanan untuk dirinya, ia ingin menunggu mertuanya.
Tidak lama, bu Jeny muncul dan ikut duduk di meja yang sama dengan mereka.
Wajahnya masih jutek dan sama sekali tidak memandang Venus.
"Pulang jam berapa kamu?" Tanya ibunya kepada Samudera sambil menyendok dengan anggun makanan ke dalam piringnya.
"Apa kalian memang seperti ini? Ibu sudah kelaparan sejak tadi, ini makannya sudah hampir jam sembilan malam, tidak sehat makan terlalu malam begini." Protes ibu Jeny kepada putranya tetapi yang disinggung tentu saja perempuan yang berjilbab merah maroon di sisi Samudera.
Samudera malas menanggapi, begitu pun dengan Venus yang akhirnya menyendok makanan ke dalam piringnya sendiri setalah ibu mertuanya.
Ibu Jeny geram sendiri melihat keterdiaman putranya bersama istri pilihannya itu. Masih ingin mengeluarkan unek-uneknya tetapi ia menahannya, selera makannya seolah bangkit begitu saja, ia menyukai masakan menantunya itu. Bumbunya pas, tidak berlebihan tetapi semuanya seperti sudah sesuai dengan porsinya masing-masing. Rasa asam, pedas dan manis tomyam yang amat padu, ia menyukainya.
Tentu bu Jeny tahu siapa yang memasaknya karena saat bu Wati memanggilnya tadi, ia sudah bertanya siapa yang masak dan dijawab non Venus, istri Samudera.
Bu Jeny menatap lekat wajah Venus. Ia merasa begitu familiar dengan wajah itu. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa dugaannya pasti salah. Bukankah anak perempuanĀ Aryan dan Fanny ikut meninggal dalam kecelakaan naas itu.
Tidak ingin berfikir yang aneh-aneh, bu Jeny melanjutkan makannya dan sempat menambah makanan ke dalam piringnya.
Venus tersenyum di dalam hati, ia tahu bahwa mertuanya itu menyukai masakannya. Begitu pun dengan Samudera yang sudah berkali-kali menambah tomyam ke dalam piringnya.
__ADS_1
"Ibu mau bicara." Suara tegas bu Jeny menghentikan Samudera yang sudah hendak meninggalkan meja makan.
Samudera kembali memperbaiki posisi duduknya menunggu ibunya berbicara.
Bu Jeny meminum air kemudian mengusap bibirnya dengan serbet.
"Seperti yang tadi pagi ibu bilang di kantor. Ibu ingin kamu menceraikan perempuan yang tidak jelas asal usulnya ini. Ibu ingin punya besan yang bisa bisa diajak arisan bahkan berbelanja bersama ke luar negeri." Ucapnya tegas menatap sinis ke arah Venus.
Bu Jeny juga sudah mendapatkan info dari bu Wati bahwa Venus seorang gadis yatim piatu yang berasal dari bagian timur negara ini.
Samudera mengepalkan tangannya, ia tidak suka ibunya mencampuri pilihannya.
"Ibu bisa mengajak siapa saja untuk arisan dan berbelanja kemanapun ibu suka, tidak ada hubungannya dengan Venus dan keluarganya." Air muka Samudera mengeras, jelas sekali ia tidak menyukai permintaan ibunya itu.
"Ibu tidak ingin dibantah."
Brakkkk
Samudera menggebrak meja lalu berdiri membuat kursi yang tadi didudukinya terjungkal ke belakang.
Gegas Venus mengusap punggung suaminya itu berharap bisa membantunya tenang.
Sementara ibunya cukup shock melihat reaksi Samudera yang menurutnya berlebihan.
Samudera menyorot netra Venus dengan pandangan tak terbaca, Venus menggeleng, memohon agar Samudera tidak meledakkan emosinya. Samudera akhirnya pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Kamu!!!" Venus mengalihkan tatapannya ke ibu mertuanya itu setelah sempat terpaku memandangi punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.
"Tinggalkan Samudera, kamu bukan perempuan yang cocok masuk ke dalam keluarga kami." Tatapannya sinis, melihat Venus serupa kotoran.
"Tanpa ibu minta pun aku akan melakukannya, tetapi putra ibu yang menahanku di sini. Jadi kalau ibu tidak ingin melihat aku di sini, bujuklah putra ibu itu karena aku pun sangat ingin pergi dari sini." Ucap Venus tegas dan sorot mata yang tajam.
Lupakan soal sopan santun kepada orang tua, ada kalanya harus menyampaikan kebenaran agar orang lain tidak terus mempercayai kebenaran menurut versinya sendiri.
__ADS_1
Lagian, Venus juga merasa tidak punya waktu untuk berdebat dengan ego masing-masing apalagi untuk urusan remeh temeh seperti mempersoalkan besan yang tidak ada buat diajak arisan.
Ada-ada saja...