A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 27


__ADS_3

"Baguslah kalau kamu sadar kalau aku membencimu." Ucap Sam kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


Venus bergeming dan tidak lagi menanggapi ucapan Sam.


Sam fokus dengan gadgetnya, sementara Venus tetap memilih diam dengan sesekali memegangi perutnya karena cacing-cacingnya sudah meminta diberi perhatian. Seharian dia hanya memakan bubur dan beberapa potong buah.


Venus melihat ada beberapa kotak di atas meja yang ada di depannya, Venus yakin itu adalah kotak makanan, apalagi aromanya bisa sedikit tercium meskipun tertutup rapat.


Venus menelan salivanya berkali-kali, meskipun sedari tadi dia menunduk, namun matanya terus memandangi kotak makanan itu, seolah dengan hanya melihatnya maka itu bisa sedikit mengurangi rasa laparnya.


"Lapar?" Tanya Sam membuat Venus menjengit kaget. Padahal Venus sedang menikmati makan malamnya di dalam khayalan.


Venus menggeleng, namun ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan betapa ia tergoda membayangkan isi kotak yang ada di hadapannya itu. Salivanya sudah dari tadi berkumpul di mulutnya membuatnya harus menelannya berkali-kali.


Sam bangkit berdiri memunguti satu-satu kotak yang ada di atas meja kemudian membawanya ke tong sampah yang tidak jauh dari mereka.


"Apa yang kamu lakukan?" Hardik Venus tidak terima melihat Sam dengan entengnya membuang-buang makanan.


Dengan susah payah Venus berjalan mendekati tong sampah yang tidak terlalu jauh darinya kemudian mengambil kembali semua kotak makanan itu.


Tempat sampahnya kebetulan masih bersih, belum ada sampah lain di dalamnya.


Venus memaksa kakinya menekuk kemudian langsung duduk dilantai. Segera dia buka kotak makanan tadi, aromanya menguar menggugah lidah siapa saja untuk mencicipinya. Nasi padang, makanan favorit Venus. Mata Venus sudah melebar demi melihatnya.


Baru saja tangan Venus mengambil sejumput nasi dan lauknya untuk dia masukkan ke dalam mulutnya, tiba-tiba tangan Sam menahannya.


"Apa yang kamu lakukan? Itu sampah!" Ucap Sam dengan nada meninggi. Dia tidak habis fikir mengapa Venus memunguti makanan yang sudah dia buang ke tempat sampah.


Venus meringis, bukan karena rasa sakit yang dirasakannya pada lengannya yang digenggam Sam, tetapi karena menyayangkan makanan yang dibuang Sam.


"Kamu tidak pernah tau bagaimana rasanya mau makan tapi tidak ada yang bisa dimakan, bukan? kamu tidak pernah tau bukan bagaimana mencari makanan dari mengais sampah?" Venus memberanikan diri menatap mata Sam yang menunduk dengan satu lututnya bertumpu di lantai.


Venus tidak bisa menahan isak tangisnya lagi, matanya nyalang menatap penuh kebencian kepada Sam. Hidupnya tidaklah mudah ketika dibawa oleh bunda Aisyah merantau ke Maluku. Dia masih ingat bagaimana ia berkali-kali menahan lapar dan rela memakan makanan dari sampah restoran demi menyambung hidup.

__ADS_1


"Apa karena itu alasan kamu menjual tubuh kamu dan mau diperalat untuk mencuri kepadaku?"


Plak...


"Kamu brengsek, Sam!" Tumpah sudah semua emosi Venus, kembali tangannya melayang di pipi Sam.


"Harus berapa kali aku bilang kalau aku bukan perempuan seperti itu? Dan harus berapa kali aku bilang kalau tidak ada orang lain yang memintaku melakukannya. Aku punya alasan sendiri tapi aku tidak akan pernah mengatakannya meskipun kamu membunuh aku!" Pekik Venus berurai air mata.


Sam mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan emosinya, lagi-lagi bukan karena tamparan Venus, tetapi dia sakit hati melihat Venus begitu melindungi orang itu, sebegitu setianya Venus hingga mati pun dia rela.


Sam mendekatkan wajahnya kemudian berkata, "tidak semudah itu lepas dariku, aku tidak akan membunuhmu saat ini, tapi aku akan membuat kamu perlahan-lahan merasa bahwa kematian itu lebih baik daripada pernah mengenalku."


Sialnya, wajah Venus begitu menggemaskan di mata Sam saat ini, wajahnya, hidungnya dan bibirnya semakin tampak memerah dan menggoda karena menangis, tetapi Sam suka melihatnya.


Tanpa aba-aba, tanpa permisi Sam langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Venus. Venus langsung memberontak tetapi satu tangan Sam sigap menahan tengkuk Venus dan satu tangan lainnya masih menarik keras lengan Venus agar tidak menjauh darinya.


Ketika Sam memaksa membuka mulut Venus, disitulah Venus menggunakan kesempatan menggigit keras bibir Sam.


Aawww...


Plakk...


Kembali tamparan meluncur mulus dari tangan Venus.


"Kamu!!!" Sam melototkan mata kepada Venus memegang bibirnya yang terasa membengkak dan sakit.


Namun ekspresi kesakitan itu tidak lama ia tunjukkan, justru sekarang yang tertinggal di wajahnya adalah seringai licik, senyumnya melengkung.


"Sepertinya kamu sangat hobby membelai pipiku dengan tangan kecilmu itu."


Venus menggeser tubuhnya sedikit mundur agar menjauh dari jangkauan Sam.


"Aku akan membunuhmu kalau kamu menyentuhku lagi!" Ancam Venus sungguh-sungguh, kalau kata-kata Sam selama ini sering melecehkannya, dia masih bisa bersabar, tetapi saat Sam melecehkan tubuhnya, Venus benar-benar tidak terima.

__ADS_1


Sam berjalan dengan kedua lutut dan tangannya mendekati Venus. Venus ikut menggeser tubuhnya hingga mentok di sisi ranjang.


"Sam, aku tidak main-main. Lebih baik aku mati dari pada dilecehkan!" Ucap Venus bergetar.


"Dengan apa kamu akan melakukannya?" Sam menantang.


"Ini..." Venus bergerak cepat menarik jarum infus dari tangannya kemudian mengarahkannya ke lehernya. Bisa dirasakannya perih di tangannya dan darahnya yang mengucur ke lantai.


Refleks Sam lebih cepat mengambil jarum infus tadi lalu membuangnya dengan kasar.


Jantung Sam berdetak cepat menyaksikan aksi nekat Venus. Dia tidak menyangka Venus bisa senekat itu.


"Bodoh!!!" Geram Sam menghardik Venus.


Sam langsung menarik paksa tubuh Venus dan membopongnya naik ke tempat tidur. Meskipun Venus menggeliat dan meronta ingin lepas, tetapi tenaganya tidak sebanding.


Sam terus menindih tubuh Venus di atas tempat tidur karena gerakan Venus yang terus meronta dan melawannya.


"Aku benci kamu, Sam." Ucap Venus berulang-ulang dengan isak tangis dan sesegukannya.


Cubitan dan gigitan di tubuh Sam entah sudah berapa banyak dan sepertinya akan meninggalkan bekas.


Lama kelamaan, tubuh Venus melemah dan tidak lagi melawan.


Sam akhirnya bangkit lalu menghubungi Febby agar segera datang ke ruang perawatan Venus.


Venus sendiri langsung membelakangi Sam dan sesekali sesegukannya masih terdengar. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tangisannya berhenti.


Karena Febby belum datang juga, Sam mengambil kain kasa lalu duduk di sisi tempat tidur dan membalut luka bekas jarum infus tadi.


Tidak ada perlawanan dari Venus. Energinya sudah habis terkuras.


"Lain kali jangan pernah coba lagi melakukan tindakan bodoh seperti tadi. Kalau kamu ingin membunuh, cobalah bunuh aku, jangan coba bunuh diri. Aku kira di agama kamu bunuh diri itu dosa besar, bahkan aku pernah dengar kalau jenazah orang yang bunuh diri itu pernah ditolak oleh Nabimu untuk disholatkan." Entah kenapa ucapan Samudera kali ini terdengar lembut di telinga Venus namun menusuk sisi keimanannya.

__ADS_1


"Kamu, baru dicium aja sudah mau bunuh diri, belum aku apa-apain. Kenapa kamu tidak mau aku sentuh? Apa kurangnya aku dengan laki-laki yang pernah menyentuh kamu?"


Lagi-lagi... Venus jengah!


__ADS_2