A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 43


__ADS_3

"Sam..." pekik Venus segera berlari mendekatinya disusul oleh Alex dan Max.


Samudera masih mengelus pelipisnya yang terkena hantaman roller adonan. Beruntung bukan bagian gagangnya yang mengenainya.


"Kamu enggak papa kan?" Tanya Venus meniup-niup wajah Samudera. Venus khawatir, khawatir bukan karena takut Samudera terluka, tetapi lebih tepatnya ia mengkhawatirkan nasib Max setelah ini.


"Kalian ini apa-apaan?" Hardik Samudera tidak terima.


"Maaf tuan bos, saya tidak sengaja. Tadi niatnya lempar Alex, bukan tuan bos.. sumpah!" Ucap Max membela diri sambil mengangkat tangannya dengan jari membentuk huruf V.


"Gaji kamu dipotong setengah, begitupun dengan kamu!" Satu tangan Samudera menunjuk Alex. Baginya, Alex ikut berperan serta dalam peristiwa tersebut. Andai Alex tidak menghindar, maka roller tersebt tidak akan pernah mendarat di wajah tampannya itu.


"Siap!!!"


"Siap!!!"


Dengan posisi ala Tentara, Alex dan Max berdiri tegap di hadapan Samudera.


"Sana..sana.. keluar!" Samudera menggoyangkan tangannya untuk mengusir dua bodyguard khusus yang dipekerjakannya untuk istrinya itu.


Kini tinggallah mereka berdua di dapur.


"Masih sakit nggak? Sini biar aku obati." Ucap Venus yang berusaha memecah keheningan. Ia bingung sendiri karena tidak ada reaksi apapun dari Samudera setelah Alex dan Max meninggalkan mereka.


"Tidak perlu," tolaknya kemudian beranjak mendekati area memasak. "Ini apaan?" Tanyanya sambil mengangkat satu lembar tortilla skin di tangannya.


"Aku mau bikin buritto, nah..itu namanya kulit tortilla."


Venus mengambil alih tortilla dari tangan Samudera kemudian ia letakkan di meja. Tidak lupa mengambil salad sayuran yang sudah ia siapkan sebelumnya di kulkas, berikut ayam fillet saos tiram creamy yang masih ada di atas kompor.


Venus menggunting tortillanya hingga di bagian tengah kemudian menyusun salad sayur di atasnya, ia menambahkan ayam saos tiram tadi lalu menambahkan parutan keju dan mozarella. Dengan cekatan Venus melipat tortilla tersebut hingga berbentuk segitiga. Setelah itu ia panggang dengan teflon yang sudah diolesi dengan butter.

__ADS_1


Niat awalnya memang membuat buritto, tapi tiba-tiba Venus berubah fikiran melebihi kecepatan cahaya. Adanya sekarang adalah tortilla wrap.


Aktivitas Venus tersebut tidak luput dari pandangan Samudera. Istrinya itu sangat terampil di dapur.


'Di kasur juga.' Otak mesumnya menambahkan.


"Nah... ini yang pertama buat kamu. Cobain deh." Venus begitu antusias meletakkan seporsi tortilla wrap di meja mini bar tempat Samudera duduk santai menemaninya memasak.


"Ini tambahkan saos tomat sama saos cabe kalau kamu suka yang spicy gitu." Venus meletakkan dua botol saos yang baru saja dia ambil dari meja makan yang tidak jauh dari tempat mereka.


Pada gigitan pertama, tampak jelas ada keraguan di wajah Samudera. Namun setelahnya, ia terus menggigit dan mengunyah tanpa henti sampai tortilla wrap tandas tak bersisa.


"Ini doyan apa lapar?" Tanya Venus penasaran namun tangannya masih dengan cekatan menyelesaikan membuatnya untuk semua orang yang ada di rumah. Sementara melipat tortilla, sementara sudah ada yang ia panggang juga.


"Aku lapar, tadi di kantor hanya sempat makan roti." Jawab Samudera jujur. Saking sibuknya, ia benar-benar tidak punya kesempatan untuk menikmati makan siangnya.


"Ya sudah sana, mandi.. istirahat!" Venus mengusir Samudera mendorong punggungnya dengan kedua lengannya. Venus tidak mau baju Samudera kotor karena terkena noda makanan dari telapak tangannya.


"Tapi aku masih lapar, minta satu lagi." Samudera enggan beranjak dari sana, ia suka masakan Venus.


"Kalau begitu gak ada ngantor!" Samudera melipat kedua tangannya di dada. Dia tidak peduli dengan perubahan raut wajah Venus yang seketika mendung.


"Ini..." Venus menambahkan isi piring Samudera, bukan satu tetapi dua sekaligus. Meskipun setengah hati, ia tidak ingin Samudera mencabut izinnya ke kantor.


Samudera meninggalkan Venus di dapur begitu saja setelah ia merasa kenyang. Tidak merasa perlu berterima kasih karena bukankah semua fasilitas dan bahan makanan yang dipakai Venus sumbernya berasal darinya. Dan bukankah sudah tugas istri menyenangkan perut suaminya?


Venus yang masih memegang gunting meremas tangannya kuat di sana. Setan jahat sedang membujuknya untuk melemparkan gunting tersebut ke punggung lebar suaminya itu.


Namun di sisi lain, malaikat baik juga terus membisiki hatinya agar bersabar dan menguatkan kesabarannya. Sembari meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, ia yakin suatu saat Samudera akan berubah fikiran dan segera membuangnya setelah merasa bosan dengan tubuhnya.


Samudera laki-laki tampan dan kaya raya, sangat mudah baginya mendapatkan perempuan cantik meskipun usianya nanti sudah berkepala lima.

__ADS_1


Bukannya ke kamarnya, Samudera malah mendatangi Alex dan Max yang sedang bermain catur di bawah pohon mangga yang tidak jauh dari depan rumah.


Ternyata di sana juga ada Robby yang ikut bergabung dengan mereka.


Menyadari kehadiran Samudera, Max dan Alex langsung berdiri dari tempat duduknya kembali dengan posisi tegap menghormati Samudera.


"Duduk..duduk.. aku hanya ingin tau kegiatan Venus seharian ini." Samudera menarik satu kursi untuk ia duduki sementara Alex dan Max kembali duduk di tempanya semula.


"Alex!" Tunjuk Samudera.


"Siap tuan boss. Tadi pagi non Venus menemui saya untuk memberi daftar belanjaan yang diinginkannya. Setelah itu saya langsung berangkat ke supermarket untuk berbelanja sesuai pesanan non Venus. Itu saja tuan boss, laporan selesai." Ucap Alex dengan satu tarikan nafas.


Samudera hanya diam saja namun sorot matanya tidak melepaskan Alex begitu saja. Beberapa saat kemudian dia mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya kepada Max.


"Siap tuan bosss, saya hari ini diminta nona Venus membantunya menggilas adonan karena non Venus kesulitan melakukannya sendiri. Untuk itu dengan suka rela saya melakukannya. Sekian tuan boss." Tanpa diminta Samudera, Max terlebih dahulu berinisiatif membuat laporan.


"Memangnya siapa yang meminta kamu menceritakan itu?"


Max kehilangan kata, mau membela diri nyatanya memang dia saja yang sok tahu. Meracau sebelum ditanya.


Samudera berdecak jengah.. Sebenarnya bukan masalah besar baginya terkena lemparan di wajahnya. Yang masalah adalah gengsinya di hadapan Venus.


Samudera yakin, Venus pasti menertawakannya di dalam hati, bahkan sumpah serapah bukan hanya roller adonan yang menimpanya, roller aspal pun akan Venus syukuri. Samudera tahu itu.


Terlihat dari jauh Venus datang menghampiri mereka dengan membawa sepiring tortilla wrap dan satu teko teh di atas nampan di tangannya.


"Loh, kok malah di sini? Bukannya mandi dan istirahat." Tegur Venus melihat Samudera malah ikut nongkrong di depan.


Max sigap mengambil teko teh dari nampan karena melihat Venus sedikit kerepotan meletakkannya.


Sementara Samudera hanya diam mengacuhkan pertanyaan Venus.

__ADS_1


"Untung aku lebihin satu, rupanya ada pak Robby. Oh yah Lex, ajak pak Arman dan pak Didu ke sini. Ini untuk kalian semua, jangan ada yang serakah. Ini sudah dijatah masing-masing satu buat kalian."


"Baik non," Alex langsung beranjak ke pos satpam depan sesuai perintah Venus.


__ADS_2