A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 33


__ADS_3

Andai tidak ingat kalau Venus adalah perempuan, sudah habis mulutnya kurobek-robek dan kuhancurkan tubuhnya hingga ke tulang-tulang. Berani sekali dia menyalahkan kedua orang tuaku, terutama ibuku.


Aku tumbuh dengan air mata ibuku yang tidak pernah mendapatkan cinta dari ayahku. Meski ayahku sangat mencintai dan memanjakanku, tetapi berbeda dengan ibuku. Hanya pengabaian demi pengabaian yang didapatkannya karena di hati ayahku hanya ada satu nama, yaitu Fanny, ibu Venus.


Aku tidak bisa menyalahkan ibuku ketika ia memilih mencari kebahagiaannya di luar rumah, karena itu aku selalu mengancam ayah akan membencinya seumur hidupku jika ayah menceraikan ibu. Aku tidak peduli bagaimana mereka bertahan dalam rumah tangga tanpa cinta, aku hanya tahu bahwa aku tidak ingin kehilangan keduanya.


"Tutup mulut kamu itu atau aku tidak akan segan merobeknya. Bagiku dirimu dan ibumu sama-sama perempuan rendahan yang tidak tau diri." Kuhempaskan tubuh ringkih itu dari cengkeraman tanganku.


"Besok kita akan menikah maka persiapkan diri kamu!"


"Aku tidak sudi menikah denganmu.. aku sangat membencimu!"


Aku tidak tahu ini sudah yang keberapa kalinya Venus mengatakan kebenciannya kepadaku. Tetapi aku tidak peduli.


"Itu urusan kamu dan sebaiknya memang kamu membenciku karena itu akan lebih menyakitkan kalau sampai kamu jatuh cinta kepadaku."


"Kamu tenang saja, itu tidak akan pernah terjadi karena itu hentikan rencana sialanmu itu menikahiku!"


Rupanya dia memang sangat membenciku, lihat saja tatapannya yang seolah-olah tidak akan pernah memilihku meskipun tinggal aku seorang laki-laki di dunia ini. Tetapi aku justru merasa semakin tertantang menaklukkannya.


"Bermimpilah menghentikannya." Ucapku kemudian bangkit dari tempat tidur. Terlalu lama berdekatan dengannya tidak baik untuk kesehatan salah satu organ vital di tubuhku ini.


"Dan jangan coba-coba melawan atau menunjukkan gelagat aneh di depan penghulu nanti, atau bunda Aisyahmu itu akan menanggung resikonya."


"Apa maksud kamu?"


Tidak kupedulikan pertanyaannya, aku segera beranjak keluar dari sini.


"Apa maksud kamu? Jangan pernah melibatkan bunda Aisyah!!!"

__ADS_1


Ternyata gerakannya cepat juga, ia berhasil menahanku setalah aku sudah berada di ambang pintu.


Kutatap tangannya yang mengalung di lengan kananku. "Kita belum sah sebagai suami istri, jangan menggodaku!"


Disentaknya tanganku dengan kasar, wajahnya cemberut namun ada gurat merah yang terpancar di sana. Seperti kucing yang tertangkap basah di atas meja makan. Malu-malu.


"Begitu saja sudah bersemu, macam perawan aja." Sindirku merasa lucu dengan sikap malu-malunya itu.


Dia mendesah tidak senang, "terserah apapun yang kamu fikirkan tentang aku, tapi aku mohon jangan libatkan bunda Aisyah." Pintanya memelas pasrah.


Nah, akhirnya dia bisa dijinakkan. Ternyata semudah itu.


"Maka jangan melawanku dan jangan bertindak aneh-aneh saat ijab qabul besok!"


Dia pun mengangguk lemah, sepertinya dia benar-benar sudah pasrah mengikuti permainanku.


"


Malam ini aku akan mengucapkan syahadat di Mesjid Istiqlal, rencananya setelah sholat Isya.


Entah kenapa ada yang bergejolak di dalam dadaku, aku cukup tegang, ada ketakutan tersendiri menghantam sisi kejiwaanku. Meski sudah kupertimbangkan masak-masak, keputusan ini juga kuambil bukan baru kemarin sore, tetapi tetap saja sedikit rasa ragu datang menghampiri.


Aku bukan orang baik, aku takut malah merusak kesucian dan keagungan dari agama yang akan kuanut ke depannya itu. Belum lagi masalahku dengan Venus. Pasti dia berfikir bahwa aku hanya sedang mempermainkan agama melalui pernikahan.


Mempermainkan pernikahan mungkin, tetapi aku menikahi Venus bukan untuk menceraikannya. Aku pun sama dengan kebanyakan orang, menikah hanya ingin sekali saja. Namun untuk urusan bagaimana menjadi suami yang baik untuk Venus yang rasa-rasanya tidak mungkin aku lakukan.


Aku ingin Venus merasakan penderitaan yang sama dengan ibuku, menikah dengan laki-laki yang tidak mungkin mencintainya. Aku hanya ingin mengikatnya dengan tali yang tidak bisa ia lepaskan jika bukan aku yang melepasnya.


"Pak, semua sudah siap!"

__ADS_1


Bu Wati menghampiriku dengan membawa baju koko, sarung, celana panjang berbahan kain dan kopiah hitam di tangannya.


"Taruh saja di tempat tidur!" Ujarku kepadanya. Dengan ragu perempuan berusia senja itu mengikuti ucapanku.


Aku tahu dengan ribuan pertanyaan di dalam kepala tuanya itu, tapi aku tidak punya cukup waktu menjelaskan kepada siapa saja akan keputusanku ini. Toh selama ini aku tidak pernah memeluk satu agama apapun. Jadi rasanya aku bebas dan sah saja memilih sesuai dengan hatiku.


Beliau salah satu asisten rumah tangga terlama yang mengabdi kepada keluarga kami. Setelah ayah meninggal, aku memilih keluar dari rumah dan membangun rumah ini sementara ibu lebih sering bolak-balik Jakarta - Singapur untuk mengurus butiknya. Bu Wati sendiri memilih ikut ke rumah baruku dan sampai sekarang menjadi orang kepercayaanku di rumah ini.


"Bu, aku akan keluar, mungkin tengah malam baru pulang. Tolong bawakan Venus makanan ke kamarnya. Dan satu lagi, tolong awasi dia jangan sampai meninggalkan kamarnya."


"Baik, pak. Apa ada lagi?" Tanyanya masih berdiri seolah menunggu perintah selanjutnya.


"Itu saja, eemmm... tolong diperhatikan saja makannya dan besok pagi tolong bantu dia menyiapkan dirinya untuk ijab kabul. Aku tidak mau dia membuat ulah!" Bu Wati hanya mendesah panjang menggelengkan kepalanya.


"Kamu itu, Sam!" Wanita tua itu kini menatapku sebagai Sam kecil yang sejak dulu dirawatnya dengan penuh kasih sayang. "Apa kamu tidak kasihan sama non Ve? Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik? Kenapa harus nikahnya dipaksa? Ibu benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kamu, Sam."


"Bu Wati tidak akan pernah mengerti!" Selaku membuang muka ke arah lain, aku tidak bisa bertemu tatap dengannya karena aku tahu tatapannya menyiratkan kekecewaan yang mendalam kepadaku.


"Ibu hanya tidak ingin kamu menyesal di masa depan. Non Ve gadis yang baik, dia tidak ada hubungannya dengan masa lalu ibu dan ayahmu. Ini benar-benar tidak adil baginya, bagaimana mungkin kamu jadikan dia objek untuk membalas dendam atas penderitaan yang diciptakan oleh kedua orang tuamu?"


"Itu tidak akan terjadi jika ibu perempuan itu tidak ada di dalam hubungan mereka!" Bantahku menolak pendapat bu Wati.


"Kamu salah, Sam! Kamu hanya melihat kebenaran dari sisi ibumu saja sementara kamu menutup mata dan telinga kepada yang lain. Bu Fanny tidak pernah mencintai ayahmu, ayahmulah yang tidak bisa berhenti mencintainya. Kalau sudah seperti itu, apa bu Fanny punya kuasa untuk mengatur kemana hati ayahmu hendak tertuju? Ibu yang banyak menemani hari-hari terakhir ayahmu, ibu tau apa yang terjadi dengannya dengan ibumu dan juga dengan keluarga non Venus. Sebelum terlambat, sebelum terlalu jauh kamu menyakiti non Venus, tolong hentikan semua ini. Ikhlaskan semuanya, ikhlaskan!"


"Stop, ibu Wati sudah terlalu banyak berbicara. Aku tidak butuh itu. Lakukan saja apa yang sudah kukatakan tadi. Tolong tinggalkan saya!"


Tidak ingin terlalu banyak berkonfrontasi dengan wanita tua itu, aku akhirnya memintanya pergi. Sebentar lagi masuk waktu Isya, aku harus segera bergegas ke Mesjid.


Aku sedang dalam proses menuju kehidupan yang baru, memiliki keyakinan yang baru dan mendapatkan status baru sebagai seorang suami. Aku tidak ingin pikiranku dibebani dengan banyaknya pertanyaan dari luar yang hanya membuatku bingung dan emosi sendiri. Sekali saja aku ingin melangkah dengan tenang tanpa perlu memikirkan perasaan orang-orang di sekitarku.

__ADS_1


__ADS_2