A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 78


__ADS_3

"Eummm... issshhh..." Venus meringis merasakan kepalanya yang sangat berat dan sakit. Matanya masih tertutup, rasanya susah sekali membukanya.


"Yaa Allah.. kok sakit begini?" Gumamnya sambil memegangi kepalanya.


Meski demikian, Venus tetap memaksa dirinya agar segera bangun apalagi ketika ingatannya mulai terkumpul.


"Astaghfirullah!" Venus tersentak kaget dan dengan gerakan cepat menarik tubuhnya menegakkan badan. "Ahhh..." Rasa pening seperti menghantam kepalanya.


"Jangan dulu banyak bergerak kalau masih pusing!" Sebuah tangan menekan bahu Venus agar tetap berbaring di tempatnya.


"Sam! Saaammm... hiks..hikss!"


Meski matanya belum bisa membuka sempurna, namun ia hapal betul suara suaminya itu. Ia pun menarik kedua tangan Samudera yang masih berada di bahunya membuat Samudera kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tubuh Venus.


Venus mengeratkan pelukannya dengan derai tangis yang tidak tertahankan.


"Sam.. aku takut. Orang itu--"


"Sssshhh... aku tau, oke! Sekarang kamu sudah aman, aku ada di sini. Jangan nangis lagi. Ssshhh.. kamu aman sekarang, tidak ada lagi yang berani menyakiti kamu, ada aku.. ada aku." Samudera membalas pelukan Venus sembari menenangkannya.


Samudera terus menenangkan Venus dengan pelukan dan usapan tangannya di punggung Venus. Tidak lupa membujuknya dengan kata-kata yang meyakinkan bahwa Venus sudah aman bersamanya.


Setelah tangis Venus reda, Samudera mengurai sedikit pelukan mereka membawa Venus berbaring lagi di tempat tidur. Pengaruh obat bius sepertinya masih kuat, terbukti Venus kini kembali tertidur.


Samudera memperbaiki selimut Venus kemudian mengecup ringan keningnya. Setelah puas memandangi wajah sendu itu, Samudera meraih ponselnya kemudian menghubungi Robby.


"Hallo, apa meetingnya sudah selesai?" Tanya Samudera pelan sembari melangkah menjauh dari tempat tidur Venus ke balkon.


"Sudah, pak. Sekarang tinggal evaluasi dan cek beberapa berkas saja." Jawab Robby.


"Segera selesaikan dan jangan lupa bereskan orang itu!" Perintah Samudera tegas, tangannya mengepal kuat menunjukkan buku-bukunya memerah.

__ADS_1


"Siap, laksanakan!" Ucap Robby patuh.


Samudera mendengus, matanya menyorot tajam jauh kepada pemandangan hijau tanpa ujung di hadapannya.


Ada kilatan kemarahan yang berkobar di matanya.


Beruntung Alex dan Max selalu siaga menjaga nona-nya, jika tidak, bisa dipastikan nyawa Venus dalam bahaya setelah penculikan yang dilakukan oleh laki-laki tidak tau diri itu.


Samudera akan memastikan laki-laki itu akan mendapatkan balasan yang setimpal, tidak peduli bahwa dirinya berasal dari benih bajingan itu, tapi sudah cukup bajingan itu mengganggu ketenangan keluarganya.


Tidak ada ampun bagi orang yang telah membuat kehidupan istrinya menderita sedari kecil, begitupun dengan ibunya yang terus berada dalam cengkeraman dan ancaman laki-laki itu. Samudera tidak akan membiarkannya. Inilah akhir bagi bajingan tidak berguna itu.


Meskipun Samudera masih sakit hati kepada perempuan yang telah melahirkannya itu, tetapi nuraninya tidak bisa berbohong, ia pun ingin melihat ibunya hidup tenang di sisa hidupnya.


Samudera menghela nafas panjang.. bimbang merajai hatinya, merenungi bagaimana keputusan Venus ke depannya.


Ia kembali mendekati tempat tidur Venus, dirinya sangat enggan jauh-jauh dari Venus saat ini. Senyum memgembang di wajahnya, mengingat percintaan mereka semalam dan juga surat cinta Venus kepadanya.


"Sammmmmm!" Venus terbangun dengan keringat bercucuran dan nafas menderu cepat.


"Hei... aku di sini!" Samudera menarik pundak Venus, merengkuhnya dengan hangat.


"Shhhh... sshhh.. itu hanya mimpi, kamu aman.. ada aku.. ada aku!"


Dada Venus masih naik turun, debaran jantungnya masih terus bertalu-talu di dalam sana. Venus mengurai pelukan Samudera, memberanikan diri menatap mata kelam itu.


"Maaf!" Ucapnya lirih dengan air mata yang kebali basah di pipinya.


Samudera menggeleng, "kamu tidak salah sama sekali, aku yang salah.. maaf karena membiarkan kamu pergi, mereka tidak menyakiti kamu, bukan?" Samudera mencoba menghentikan aliran air mata Venus dengan belakang jari telunjuknya.


Venus menggeleng lemah, "supir itu membawaku entah kemana, dan saat aku meminta turun, dia tidak menggubris ucapanku. Aku memaksa diturunkan tapi tiba-tiba ada yang membekap mulutku dari belakang. Aku..A-ku tidak ingat lagi setelahnya." Kembali tangis Venus pecah menceritakan kejadiannya kepada Samudera.

__ADS_1


"Sshhh.. Udah.. Udah nangisnya yah. Alex dan Max mengikuti kamu, maaf membiarkan kamu menjadi umpan." Ucap Samudera penuh penyesalan. Tidak tega rasanya melihat wajah sedih istrinya itu.


"Ma-maksud kamu?"


"Nanti aja yah jelasinnya. Sekarang kamu makan dulu, kamu lapar kan? Ini sudah hampir sore hari, perut kamu pasti belum terisi makanan apapun." Samudera mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia akan menceritakan segalanya, tetapi tidak sekarang. Mental Venus masih terguncang, tidak baik memberinya informasi yang berat-berat.


Venus akhirnya menurut saja, perutnya memang terasa sedikit perih dan itu memang karena lapar.


Sesaat Venus mencuri-curi pandang wajah Samudera yang begitu telaten menyuapinya bubur. Ada perasaan hangat merengkuh hatinya. Suaminya ini sangat tampan dan menggoda sekali, salahkah dirinya yang tidak bisa menolak pesonanya?


Seketika mata Venus membulat mengingat surat perpisahan yang lebih tepatnya surat cinta Venus kepada Samudera yang diletakkannya di dalam kamar.


Wajah Venus memanas, ia sangat malu. Tidak mungkin Samudera belum membacanya bukan?


Bahkan kegiatan panas mereka di malam itu dengan tidak tahu malunya langsung berputar ulang di dalam otaknya. Double kill!!!


Mau ditaruh di mana mukanya sekarang? Tadi malam itu dia begitu berani dan sangat liar karena ingin memberi kesan yang tidak terlupakan untuk Samudera karena ia fikir itulah akhir dari mereka.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit? Muka kamu merah." Samudera memegangi pipi Venus yang tiba-tiba memerah itu. Satu garis melengkung di bibirnya, ia tahu kalau Venus saat ini sedang menahan malu, biasanya seperti itu. Meski Samudera masih meraba-raba mengapa Venus tiba-tiba seperti itu, bahkan sekarang malah salah tingkah dengan pertanyaannya.


"Ah tidak... tidak. I-itu..itu aku hanya sedikit gerah. Iya.. gerah saja!" Venus memaksakan senyum di wajahnya tetapi ia yakin wajahnya sekarang sudah merah seperti udang rebus.


Samudera memicingkan matanya, "masa sih? Ini kita di Lembang, loh. Matahari udah mau tenggelam, AC juga nyala ini!" Samudera mengambil remote AC di atas nakas kemudian menunjukkannya kepada Venus.


Venus mendengus kesal, ia membuang muka asal tidak bertatapan dengan Samudera. Ia benar-benar malu saat ini. Hanya bisa membatin, berharap ada sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari kecanggungan ini.


"Bodoh... bodoh.. kenapa kamu bodoh begini sih, Ve?" Umpat Venus di dalam hati, ia merutuki kekenyolannya. Venus menggigit kuat-kuat bibir bawahnya.


Tangisan Alea terdengar melengking dari luar, Venus cepat melirik Samudera dengan muka gemasnya, " Alea, Sam."


Samudera yang mengerti maksud Venus segera meletakkan piring yang dipegangnya dan isinya memang sudah hampir habis, tidak lupa mengambil satu botol air meneral untuk Venus kemudian barulah dirinya melangkah keluar dari kamar Venus.

__ADS_1


__ADS_2