
Tiga bulan berlalu, kehidupan rumah tangga mereka berjalan baik layaknya kehidupan rumah tangga pada umumnya. Samudera melakukan tugasnya sebagai suami yang bertanggung jawab begitu pun dengan Venus melaksanakan perannya sebagai istri penurut dan sholeha.
Meski sikap Samudera masih sering berubah-ubah membuat mood Venus bagai roller coaster, tetapi lama-lama Venus merasa mulai terbiasa dengannya.
Venus mulai berdamai dengan ucapan-ucapan pedis yang keluar dari mulut Samudera kepadanya, sepanjang Samudera tidak berlaku kasar hingga bermain tangan, Venus tidak masalah. Mungkin sudah takdirnya menikah dengan laki-laki yang modelannya seperti itu. Bukankah setiap orang tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangan.
Mengenai informasi dari Bintang beberapa bulan yang lalu, sebenarnya Venus masih sangat penasaran. Apalagi dirinya tidak bisa leluasa mencari konfirmasi ulang dikarenakan Bintang malah pindah ke kantor cabang. Menurut informasi yang didapatkan dari HRD, Bintang sendiri yang mengajukan surat permohonan agar ditugaskan di site.
Venus mulai gamang, apa ia harus bertahan dan melanjutkan pernikahannya dengan Samudera atau memilih pergi jika benar-benar ada kesempatan yang terbuka untuknya.
Meski di dalam hatinya tidak bisa lagi mengingkari pesona seorang Samudera, namun sanggupkan ia bertahan tanpa cinta?
"Apa yang kamu fikirkan?" Suara bariton Samudera menarik kesadarannya kembali. Tangannya membingkai tangan Samudera yang melingkar di perutnya.
Venus menggeleng pelan, "aku hanya menikmati udara pagi yang segar di sini."
"Hmmm..."
"Kamu tau enggak kenapa udara subuh pagi-pagi buta begini sangat segar dan menenangkan bagi siapa saja yang menghirupnya?" Tanya Venus beretorika.
Samudera tampak berfikir namun pada akhirnya menggeleng. Venus tersenyum lalu menghirup udara sekali lagi sebanyak yang bisa ditampung rongga pernafasannya.
"Karena... Udara di subuh hari itu belum bercampur dengan nafas orang-orang munafik. Mereka-mereka yang masih terlelap dalam tidurnya sementara waktu subuh sudah berlalu."
Samudera menumpukan dagunyanya di pundak Venus. Ia ikut menghirup udara banyak-banyak yang bercampur dengan aroma tubuh Venus.
"Ajari aku main golf." Ucap Venus tiba-tiba setelah mengedarkan pandangannya menyapu pemandangan lapangan golf di depan balkon kamar mereka.
Sudah berbulan-bulan tinggal di sini dengan segala fasilitas olahraga yang dimilikinya, tetapi baru berendam di kolam renang saja yang sempat tersentuh olehnya.
Padahal, kata mba Aida, di ujung sana, ada spot arena untuk menunggang kuda. Tidak terlalu besar, tetapi kalau hanya untuk belajar dan latihan, itu sudah cukup. Bahkan di sana juga ada spot untuk latihan menembak yang menyatu dengan spot latihan memanah.
"Hmmm.. boleh. Mau belajar sekarang?" Tanya Samudera memutar tubuh Venus agar menghadap dirinya.
Venus mengangguk dengan senyum ceria, "Ayok!!!"
Venus menarik tangan Samudera karena sudah tidak sabar lagi ingin belajar bermain gof.
__ADS_1
Saat sudah di dalam kamar, Samudera menahan langkah Venus.
"Hei.. ganti baju dulu. Masak main golf pake baju tidur begini?" Samudera membawa Venus ke walk in closet, tangannya begitu cekatan mengambil satu set pakaian olahraga khusus muslimah untuk Venus.
Venus tersenyum menyambut perhatian suaminya itu. Ia malu sendiri dengan penampilannya saat ini.
Venus dan Samudera sudah siap dengan kostum olahraganya masing-masing berikut dengan peralatan bermain golf yang disiapkan Max.
Alex sendiri bertugas sebagai ball boy. Tentu Alex sangat terpaksa menerima job tersebut. Masalahnya, matahari sudah mulai beranjak naik dan sinarnya juga mulai terasa menusuk kulit.
Setelah latihan memukul bola kurang lebih lima belas menit di bawah asuhan kepelatihan Samudera, Venus mulai bersemangat melakukan pukulannya sendiri.
Alangkah bahagianya, ketika satu pukulannya melesat jauh hingga masuk ke dalam danau buatan yang tidak jauh dari tempatnya memukul bola.
Padahal, itu adalah bola lemparan Max sementata Samudera menendang bola ke belakang yang luput dari pukulan Venus. Venus tidak sadar kalau yang ia pukul itu adalah tanah.
Venus hanya fokus pada bola yang melayang jauh dan juga riuh tepuk tangan Samudera dan Max.
Max hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasangan suami istri yang menurutnya sangat absurd itu.
"Masih mau mengulang pukulannya?" Tanya Samudera menyambut antusias rasa bahagia Venus.
"Udah.. aku mau coba yang lain."
Samudera mengerutkan keningnya, "mau berenang?" Tanya Samudera yang terdengar seperti usulan.
Venus menggeleng, "no, aku enggak suka berenang. Bagaimana kalau latihan berkuda?" Tatapan Venus berbinar meminta persetujuan suaminya itu.
Samudera tampak berfikir sejenak kemudian memgangguk juga pada akhirnya.
"Lex, buggy car-nya bawa sini!" Teriak Samudera memanggil Alex yang masih setia berpanas-panasan di lapangan menunggu kedatangan bola selanjutnya.
Mereka berempat mengendarai dua buggy car berbeda itu ke area jauh ke belakang rumah menyusuri rerumputan kemudian semakin memasuki area dengan pepohonan rindang.
Dengan semangat empat lima, Venus langsung melompat turun dari buggy car yang dikemudikan Samudera saat mereka sudah sampai di pot arena pacuan kuda di sana.
Baru dua langkah kakinya berayun, tiba-tiba Venus menunduk memegang erat perutnya.
__ADS_1
"Aduhhh.. iiissshhhh.." Venus meringis menahan sakit.
Samudera bergerak cepat merangkul tubuh Venus. "Kenapa? Kamu kenapa?" Tanya Samudera panik.
"Perutku, Sam.. sakiiiittt!" Venus menggertakkan gigi-giginya menahan rasa sakit yang melilit di perutnya. Keringat dingin mengucur begitu saja di wajahnya.
Samudera langsung menggendong tubuh Venus kembali ke buggy car, "Lex, cepat!!!"
Alex langsung melajukan buggy car yang sebelumnya ia pakai bersama Alex membawa Samudera dan Venus kembali ke rumah.
Max pun bergegas mendahului mereka sambil menelpon dokter Febby. Tanpa diminta Samudera, Max tahu apa yang harus dia lakukan dalam situasi seperti ini.
"Sabar yah, sayang!" Samudera membelai kepala Venus yang meringkuk di atas pangkuannya.
"Ini sangat sakit, Sam!" Keluh Venus menahan rasa sakitnya.
"Tenang...oke, atur nafas, atur nafas!" Hanya itu yang bisa Samudera katakan untuk membantu istrinya.
"Kita ke rumah sakit yah.." ucap Samudera tidak tega melihat Venus yang tangannya mencengkeram kuat satu lengannya karena menahan sakit.
Venus menggeleng, "panggilkan Fabby saja, aku tidak suka ke rumah sakit." Rengek Venus menolak ide Samudera yang hendak membawanya ke rumah sakit
"Kamu yakin? Masih bisa tahan?" Tanya Samudera memastikan ketika mereka sudah sampai di rumah. Ia bingung apa membawa Venus naik ke kamar tidur mereka saja atau langsung ke rumah sakit.
Venus tetap pada pendiriannya, ia tidak mau dibawah ke rumah sakit. Samudera mengalah sembari menunggu kedatangan Febby untuk memeriksa keadaan Venus.
Sepuluh menit kemudian, Febby pun datang dan langsung menangani Venus.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Venus, Febby pun tersenyum sumringah.
"Bagaimana?" Samudera sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi kesehatan Venus.
Febby merapikan peralatan medisnya terlebih dahulu kemudian memandangi Samudera dan Venus bergantian.
Lagi-lagi Venus mengembangkan senyum manisnya membuat Samudera gerah sendiri melihat tingkah Febby yang malah terus tersenyum di tengah perasannya yang belum tenang memikirkan kondisi Venus.
"Selamat!!! Kak Venus hamil."
__ADS_1