
Pada akhirnya Samudera harus mengalah, dia memilih pulang setelah diusir oleh Febby.
Sebenarnya pulang bukanlah ide yang buruk untuk Samudera, beberapa berkas masih menunggu untuk dia pelajari sebelum menghadiri meeting penting besok pagi.
"Apa bapak yakin dengan rencana itu?" Tanya Robby membuka suara dari balik kemudi. Kali ini Sam hanya berdua saja dengan Robby, supirnya sedang cuti.
Robby mencari jawaban melalui spion tengah karena sudah beberapa menit Sam masih mendiami pertanyaannya.
Sam menghela nafas mendapati Robby yang menuntut jawaban.
"Apa kamu pernah melihat aku tidak yakin dengan semua yang sudah aku putuskan? Tidak ada yang harus dipikir ulang, keputusanku sudah bulat. Lagian rencana ini tidak datang tiba-tiba hanya karena aku berniat menjadikan Venus istriku. Rencana ini sudah lama aku putuskan, hanya saja momennya belum dapat, dan kamu tau sendiri bagaimana kesibukan saya akhir-akhir ini. Rasa-rasanya semua kesibukan ini mengambil hampir separuh kehidupanku." Ucap Sam membuka kancing lengan bajunya kemudian digulung hingga setengah lengannya.
Samudera juga hanyalah manusia biasa, kadang rasa lelah dan jenuh menghampirinya. Kehidupannya yang terasa berputar-putat disitu-situ saja, kantor - rumah!
Pada awalnya, Samudera sudah yakin untuk melajang seumur hidupnya, dia tidak ingin mengulang kehidupannya seperti ayah dan ibunya. Pada akhirnya yang menjadi korban adalah anak. Sebuah pernikahan yang tidak pernah menghadirkan kebahagiaan di dalamnya.
Mungkin Samudera beruntung karena tidak perlu hancur meski rumah tangga orang tuanya tidak layak disebut keluarga normal, akan tetapi kenyataan yang sudah dilaluinya meninggalkan luka yang susah disembuhkan.
"Setelah bapak menikah, bapak akan punya kesibukan lain. Bukankah ibu Venus itu sangat menarik dan cantik?" Robby tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada seorang Venus.
Bugghhh...
Sam menendang kursi dimana Robby duduk.
"Maksud kamu... kamu suka sama Venus?" Samudera tidak suka mendengar Robby memuji kecantikan Venus.
"Hanya laki-laki buta dan bodoh yang bilang ibu Venus itu tidak cantik dan tidak menarik. Tetapi bukan berarti aku suka sama dia. Aku cukup sadar diri!" Robby tentu saja tidak mungkin bersaing bukan dengan bosnya?
Bagi Robby, tidak semua perempuan cantik itu harus dikagumi, kalau pun kagum, tidak mesti juga harus dicintai karena yang harus dicintainya kelak adalah yang sudah menjadi takdirnya.
__ADS_1
"Tetapi setahuku, banyak yang mengejar-ngejar Venus, tapi semuanya ditolak. Wajar sih mereka semua ditolak, selevel Samudera Biru saja tidak menarik baginya, bagaimana yang lain?" Imbuh Robby menarik senyum samar.
"Kamu menghina saya? Mau saya pecat?" Samudera kesal sendiri, wajar dia kesal. Semua wanita yang ditemuinya tidak ada yang menolaknya, hanya Venus saja yang benar-benar terang-terangan menunjukkan ketidak tertarikannya.
"Easy, man!" Robby tergelak dan menggelengkan kepalanya. Entah mengapa Samudera begitu sensitif kalau itu mengenai Venus.
"Aku tidak peduli Venus menolakku, mau tolak sampai 1000 kali pun tidak ada masalah. Toh, pada akhirnya dia akan menjadi istriku."
"Pokoknya setelah aku muallaf, segera urus semua dokumen kelengkapan pencatatan pernikahan kami di KUA." Ucap Samudera tajam.
"Katanya tidak cinta, tapi rela menjadi muallaf demi seorang Venus." Ledek Robby.
"Cinta apa yang paling tinggi melebihi cinta kepada manusia? Bukankah itu adalah kecintaan kepada Tuhan? Jadi, yang mana yang kamu cintai saat ini, cinta kepada Venus apa cinta kepada Tuhan yang dicintai Venus?" Tanya Robby retoris.
"Itu urusan aku, Rob!"
Samudera tidak suka masalah ini dibahas terus oleh Robby. Semenjak Sam menyampaikan keinginannya untuk masuk Islam, Robby terus saja meneror dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada habisnya.
Samudera ingin meninggalkan kebiasaannya mengkonsumsi minuman beralkohol dan menurutnya hanya agama Islam yang ajarannya sejalan dengan niatnya itu.
Selain itu, Sam juga ingin memutus semua akses kehidupan dunia malamnya. Rasanya sudah cukup dirinya bermain-main dengan perempuan.
Ada ketakutan dan kekhawatiran yang terkadang menghantuinya, bagaimana jika suatu saat dia khilaf dan akibatnya membuat hidupnya hancur. Terinfeksi penyakit kelamin misalnya.
Samudera ingin hidup bersih, meskipun hatinya belum condong kepada Venus namun kehadiran Venus mampu membuatnya tertarik mempelajari agama Islam.
Ayahnya memang beragama Islam, tetapi dia sama sekali tidak pernah mendapatkan pendidikan secara Islam.
"Oke.. Oke.. aku sudah membuat janji dengan pihak Masjid Istiqlal, nanti imamnya sendiri langsung yang akan membimbing kamu mengucapkan Syahadat." Ucap Robby pada akhirnya menyerah, sekarang Robby sudah yakin bahwa atasannya itu tidak sedang main-main apalagi mempermainkan agama.
__ADS_1
Terlihat dari kehidupan Sam, beberapa bulan terakhir dia sudah tidak pernah lagi mengunjungi kelab malam dan Robby juga sering menemukan tumpukkan buku-buku tebal seputar Islam di atas meja kerja Sam.
Robby hanya berusaha memastikan, Samudera tidak main-main. Tidak ada maksud menghalang-halangi. Memiliki agama adalah salah satu hak dasar manusia dan Robby bersyukur karena Sam sudah menentukan pilihannya setelah 27 tahun hidupnya tanpa memeluk satu agama pun.
"
"
Sesampainya di rumah, Sam langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Rasanya begitu lelah, Sam baru merasakan rasa perih di bagian tubuhnya. Dia mengingat bagaimana Venus melawannya dengan sekuat tenaga dan segala daya upaya yang dimilikinya.
Satu hal yang membuat diri Sam selalu bertanya-tanya, kenapa Venus selalu bersikap seperti wanita suci yang belum pernah tersentuh?
Padahal, menurut infoemasi yang didapatkannya dari pak Hasan, kepala cabang kantor di Maluku Utara, Venus bisa dipakai katanya.
Tetapi herannya, Venus bahkan nekat mau bunuh diri karena merasa dilecehkan. Padahal itu hanya ciuman.. hanya ciuman..
Sam menggelengkan kepalanya, lama-lama hanya Venus saja yang terus berputar-putar di fikirannya.
Sam menyiapkan air mandinya di dalam bathtup, sembari menunggu air penuh, tangannya mengelus pipinya sampai ke bibirnya yang terluka karena gigitan Venus.
Segaris senyum menyungging di bibirnya. Baru kali ini dia mendapatkan luka di bibir karena berciuman.
Sam memajukan bahu kanannya lebih condong ke depan dekat cermin. Sam meringis ketika membuka kain perban yang tadi dipasang Febby di atas lukanya itu.
Sam memperhatikan wajah dan tubuhnya dari pantulan cermin, tidak ada yang kurang menurutnya.
"Venus... kamu tunggu saja, suatu saat kamu akan tergila-gila kepadaku, kamu akan terus gelisah karena merindukan sentuhanku dan ketika itu terjadi, kamu tidak akan pernah lagi bisa menyentuhku, bahkan menyentuh bayanganku pun kamu tidak akan mampu." Ucap Sam tersenyum dengan seringaian penuh amarah dan dendam.
"Kamu yang membuat aku seperti ini, Ve!"
__ADS_1
Braakkkk...
Satu pukulan dengan kepalan tangan kanan Sam berhasil menghancurkan cermin yang ada di dalam kamar mandinya itu.