
Venus ikut sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk Samudera. Sudah lama sekali dirinya tidak memasak makanan untuk Samudera, tidak banyak harapannya, cukup Samudera percaya kepadanya.
Kata bu Wati, tadi Samudera meminta dimasakkan sop tulang iga, tetapi Venus berinisiatif sebagian iganya dibakar, lagi-lagi Venus berharap agar kebekuan hati Samudera bisa segera mencair. Ia masih ingin berjuang dan memperjelas statusnya di sisi Samudera, apakah Samudera akan menahannya lebih lama lagi atau perjanjian enam bulannya tetap akan berlaku.
Venus berdiri menyambut kedatangan Samudera di ruang makan, dengan sigap dirinya menarik kursi untuk Samudera. Setelah memastikan Samudera duduk dengan baik, Venus mengambil piring dan hendak mengisinya.
"Duduklah, aku bisa melakukakannya sendiri!" Tolak Samudera dengan wajah datarnya.
Samudera mengambil piring dari tangan Venus kemudian mengisinya. Ia tahu Venus kelelahan dan kurang tidur karena mengurus Alea.
'Kamu itu istriku, bukan pelayanku!' Imbuhnya dalam hati, ingin mengucapkannya tetapi entah mengapa lidahnya kelu.
Sementara bagi Venus, penolakan Samudera barusan seperti bongkahan batu besar yang menghantam jiwanya.
Tubuhnya seketika lemas, hampir saja limbung jika tidak langsung berpegangan di sandaran kursi.
Semua itu tentu saja bisa Samudera lihat dari ekor matanya, hanya saja ia masih berfikir bahwa Venus benar-benar kelelahan. Ia juga bingung sendiri bagaimana harus bersikap.
"Makanlah dan langsung istirahat setelah makan!" Perintah Samudera mengabaikan raut wajah Venus yang tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup.
Venus memaksakan diri menelan makanannya, hanya tiga sendok dan dirinya mengakhiri kegiatan makannya. Ia sudah tidak sanggup duduk berhadapan dengan Samudera, dadanya rasanya sudah mau meledak saja dan karena itu ia meninggalkan meja makan tanpa kata dan tanpa melirik wajah Samudera.
Meski heran dengan sikap dingin dan diamnya Venus semenjak kedatangannya, Samudera tidak ingin ambil pusing. Dirinya pun lebih pusing lagi menyiapkan cara untuk mengungkap semua fakta di hadapan Venus.
Samudera belum siap, rasa malu dan rendah diri membuatnya merasa tidak pantas dimiliki oleh Venus. Tetapi hatinya, jiwa raganya lebih tidak siap lagi jika harus kehilangan Venus. Cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap, tentu Samudera tidak bisa menahannya terlalu lama, tetapi dirinya masih butuh waktu dan moment yang tepat untuk memberitahu Venus.
Bukan kamar Samudera yang dituju Venus, tetapi kamar Alea. Ia cukup tahu diri sekarang, bahkan menatap wajahnya saja Samudera enggan, bagaimana mungkin Venus masih berharap Samudera akan terus menahannya di sisinya sebagaimana yang selalu ia ucapkan sejak awal bahwa dirinya tidak akan pernah melepaskannya, tetapi kenyataannya???
__ADS_1
Rasanya Venus ingin mati saja, membayangkan hidup terpisah dengan Alea seperti nyawanya telah tercabut dari raganya. Belum pernah rasanya dadanya sesesak ini, bahkan kehilangan kedua orang tuanya tidak pernah sesakit ini.
Lelah menangis dalam kepiluannya yang tertahan di dada, Venus akhirnya ikut tidur bersama Alea.
---
---
Venus meraba ruang kosong di sisinya, namun kosong dan terasa dingin. Venus tersenyum kecut mengumpati kebodohannya yang sudah lancang memimpikan Samudera memeluknya semalaman ini. Bukan hanya tadi malam, tetapi beberapa malam sebelumnya juga rasanya begitu nyata. Lucunya, ia bahkan sama sekali tidak terbangun menyusui Alea, padahal biasanya Alea akan terbangun dua kali mencari susu.
Venus menciumi pipi Alea yang tampak masih tidur nyenyak. Senyumnya merekah serupa kuncup bunga yang mekar menyambut sinar matahari, namun perlahan pendar kebahagiaan itu sirna, mengingat lagi waktu enam bulannya yang tinggal menghitung mundur.
Semenjak makan malam itu, Venus memilih menghindari Samudera dan tampaknya Samudera juga tidak peduli. Bahkan Samudera lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dibandingkan di rumah.
Alea tiba-tiba saja menangis kejer saat Venus masih sedang sholat subuh, tangisnya benar-benar membuat Venus galau, berhenti dulu dan nanti mengulang atau lanjut saja karena tanggung sudah rakaat kedua.
Samudera menenangkan tangis Alea dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Diam yah sayang, udah nangisnya sweet girl, daddy di sini, daddy di sini selalu sama kamu."
Cup.. cup.. cup..
Samudera terus membujuk Alea agar mengakhiri tangisannya dengan mendekapnya di dalam gendongannya. Sesekali Samudera menciumi rambut Alea dan menghirupnya dalam-dalam. Aroma yang membuatnya candu selain aroma tubuh Venus.
Venus merapikan alat sholatnya kemudian mendekati Samudera dan Alea.
"Lapar yah sayang? Maaf.. maaf, mommy tadi sholat, sini ASI dulu sama mommy." Venus mengangkat kedua tangannya kepada Samudera.
__ADS_1
Samudera pun langsung memberikan Alea kepada Venus, "Alea minum susu dulu yah, sampe kenyang, nanti daddy ajak main lagi." Ucapnya sambil menoel-noel pipi Alea.
Venus membawa Alea ke tempat tidur dan membaringkannya disusul oleh dirinya.
Tangan Venus yang awalnya sudah membuka kancing dasternya tiba-tiba bergerak menarik bajunya menutupi dadanya ketika Samudera ikut berbaring di belakang Alea.
Kebekuan Venus membuat Alea tidak sabar, begitupun dengan Samudera yang menatap Venus tidak suka.
"Kenapa tidak disusui? Itu anaknya udah kelaperan!" Protes Samudera menunjuk Alea dengan dagunya.
Venus gelagapan, bingung. "Kamu... kamu kenapa di situ?" Tanya Venus mendesis pelan dengan gigi merapat.
"Memangnya kenapa? Aku mau melihat dan menunggui Alea selesai di-ASIhi, tidak boleh? Aku kan daddynya."
"Iiihhhh.." Venus memanyunkan bibirnya tetapi pada akhirnya mengeluarkan satu buah sumber asinya dan langsung disambut antusias oleh Alea.
Venus menarik ujung atas dasternya untuk menutupi asset berharganya itu meskipun tidak ada gunanya karena mengingat ukurannya yang sedikit mengembang dibanding sebelum memiliki Alea.
Mata Samudera melotot dan begitu takjub melihatnya. Membuat debaran di dadanya berdetak cepat, kepalanya tiba-tiba berdenyut, gerah dan membuat sesuatu di bagian tubuh bawahnya seketika mengembang. Wajahnya memerah menahan hasrat yang sudah enam bulan ini ditahannya.
Venus mengerti arti tatapan dan perubahan air muka Samudera seperti itu, dirinya sudah hafal mati bagaimana perwajahan suaminya itu jika sedang menginginkannya.
Samudera yang tersadar langsung bangkit dan berdiri turun dari tempat tidur. Sialnya, kobaran hasratnya semakin menjadi-jadi ketika melihat daster Venus yang tersingkap ke atas hingga menunjukkan kaki, betis, hingga sedikit pahanya yang bening itu. Ini benar-benar ujian. Istri sendiri, sudah halal tapi seperti ada yang menodongkan senjata di kepalanya kalau sampai menyentuhnya.
Samudera segera berlalu ke kamarnya melalui pintu penghubung dengan kamar Alea. Berlama-lama di sini hanya akan menghabiskan imannya yang setipis tissue jika sudah berhadapan dengan Venus. Samudera takut khilaf.
Venus jangan ditanya lagi, jantungnya sudah sedari tadi berolahraga berat. Entah kenapa akhir-akhir ini jantungnya terus saja berdetak kencang tiap kali mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Samudera. Bahkan suara langkahnya pun bisa membuat jantungnya berdetak hebat.
__ADS_1
Sedikit rasa kecewa bergelayut nyeri di sudut hatinya, Samudera memilih pergi menjauhinya. Padahal Venus tahu sekali kalau gairah Samudera tadi sudah berada di ujung tanduk. Bukankah seharusnya Samudera mendatangi dirinya?