
Pagi ini, Venus memutuskan berenang setelah berhari-hari hanya menceburkan kakinya sebatas lutut ke dalam air. Kilauan pantulan cahaya dari air kolam seolah melambai-lambai memanggilnya untuk saling menyapa.
Oleh karena itu, duo bodyguard penguntitnya ia amankan di dalam batas tertentu dengan jarak aman dari jangkauan mata memandang.
Venus tidak akan sudi menjadi tontonan gratis untuk mereka berdua di saat dirinya sedang berenang. Meski tidak memakai bikini atau pakaian ketat yang menempel seperti daun pisang yang membungkus lontong yang menampakkan semua bentuk lekuk tubuhnya, Venus tetap saja merasa tidak akan nyaman berenang jika ada lelaki yang bukan mahramnya yang melihatnya mengenakan pakaian basah.
Outfit yang dipilih Venus untuknya berenang pada akhirnya jatuh pada piyama tidurnya. Daripada dasteran, kan tidak lucu, meski memakai piyama juga sebenarnya lucu juga.
Tapi Venus memilih acuh. Toh, hanya dia saja pun di sana. Meskipun ada bu Wati dan mba Aida yang membantu di rumah, mereka juga tidak akan berani memberinya komentar miring apalagi menghinanya.
Berbekal video tutorial yang ditontonnya melalui aplikasi merah, ia akhirnya melakukan pemanasan ala-ala perenang profesional. Padahal, aslinya dia sama sekali tidak tahu berenang. Tetapi tenang saja, aneka jenis pelampung sudah bertebaran di dalam kolam. Dari yang berbentuk donat, bebek-bebek, ban dalam mobil, jacket pelampung, kasur pelampung, bahkan pelampung yang terpasang di leher dan di lengan untuk anak-anak pun sudah siap melekat di tubuh Venus saat ini.
Urusan belanja memang Alex jagoannya. Venus minta dibelikan pelampung dan yang datang dibawanya pulang ke rumah mungkin semua jenis pelampung yang ada di dunia ini. Setelah ini Venus akan berterima kasih juga ke Max yang telah mengisi angin untuk semua pelampungnya.
"Non Venus yakin mau berenang pake pelampung leher? Apa rasa gak kecekik lehernya, non?" Tanya mba Aida khawatir. Ia begitu setia membantu Venus mengenakan pengamannya.
"Mba tenang aja, aku akan hati-hati. Cuman di pinggir-pinggir doang kok." Venus berusaha menenangkan salah satu asisten rumah tangga suaminya itu yang menampilkan raut wajah memelasnya.
Dan benar saja, sudah hampir tiga puluh menit Venus berendam di dalam kolam. Iya, berendam bukan berenang karena sedari tadi dia hanya seperti ikan sapu-sapu yang kesana kemari dengan terus menempel di sisi kolam. Sedangkan nasib para pelampung sudah teronggok tak berguna.
Kontur dasar kolam yang tidak rata, dimana di bagian tengah kolam hingga sisi jauhnya, semakin ke sana semakin dalam membuat nyali Venus menciut untuk melangkahkan kakinya menjauh dari sisi tempatnya saat ini.
Sayang sekali dirinya hanya menguasai satu gaya dalam berenang, yaitu gaya botol. Nyemplung langsung blup blup dan tenggelam.
"Pantesan aja dia banyak gaya." Gumam Venus ketika mengingat nama Samudera.
"Siapa yang banyak gaya?" Tanya Samudera yang entah sudah sejak kapan sudah berjongkok di depan Venus.
"Kamu..." Venus terpaku mendapati Samudera yang menatapnya dengan sorot tak terbaca.
__ADS_1
Venus gelagapan sendiri, "ma..maksud aku, kamu, kamu kenapa ada di sini?" Tanya Venus melontarkan sebuah pertanyaan bodoh.
Ah, ini yang belum sempat difikirkan Venus. Setelah seminggu lebih tidak bertemu Samudera, ia lupa bagaimana menyiapkan dirinya ketika mereka kembali bertemu.
Mata Samudera menyipit mendapatkan pertanyaan konyol dari Venus. Ini rumahnya, tentu saja dia bisa berada di sini kapan saja dia mau.
Venus yang merasa mendapati tatapan aneh dari Samudera segera menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
'Dasar laki-laki mesum." Batinnya.
Venus menenggelamkan tubuhnya hingga dada kemudian memilih menjauh dari pinggir kolam. Tanpa sadar ia sudah berada di bagian kolam yang dalam. Ingin berbalik arah namun terlambat, kecepatannya memberi dorongan pada air menyeret tubuhnya lebih jauh. Sepintas tatapannya bertemu dengan mata elang Samudera. Pada akhirnya dia hanya bisa pasrah merutuki kebodohannya.
Samudera berlari memutari kolam sambil melepas kasar jasnya menuju sisi paling dekat dengan posisi Venus saat ini.
Byurrrr...
Samudera melompat ke dalam air, menangkap tubuh Venus yang tinggal terlihat kepalanya timbul tenggelam dengan tangannya yang menggapai-gapai.
Venus terus terbatuk-batuk karena sudah sempat menelan air. Dadanya terasa sedikit sesak dan sakit. Hidungnya benar-benar terasa tidak nyaman hingga ke tenggorokan dan telinga.
Samudera meletakkan tubuh Venus di salah satu pool chair di sana.
"Kalau mau mati jangan di sini, aku tidak mau direpotkan mengurus jenasah perempuan bodoh seperti kamu." Samudera menumpahkan kekesalannya melihat kebodohan Venus yang baru saja hampir mati konyol di dalam kolam renang.
Sakit!
Sudah jatuh tertimpa tangga, seperti itulah perasaan Venus saat ini ketika mendengar ucapan kejam Samudera kepadanya.
Venus tidak ingin menanggapi, dia hanya diam seribu bahasa. Setelah merasa sedikit lega dan tidak batuk lagi, ia segera beranjak dari sana. Ia berjalan pelan dengan tubuhnya yang terasa lemas, sedikit shock setelah kejadian tadi.
__ADS_1
Samudera menyambar tubuh lemah itu ke dalam gendongannya, meski masih menahan kekesalan di hati, tetapi sebagian rasa kemanusiannya sedikit terusik menatap iba.
"Turunkan aku, aku masih bisa berjalan sendiri." Venus berusaha menolak dan menggeliat lemah di dalam gendongan Samudera.
Tidak peduli dengan penolakan Venus, Samudera terus berjalan ke arah kamarnya dan langsung membawa Venus masuk ke dalam kamar mandi.
Samudera mengatur keran air shower hingga mendapatkan suhu air yang diinginkannya.
"Buka pakaianmu dan segeralah mandi." Perintahnya kepada Venus dengan dirinya membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia juga harus mandi setelah ikut basah karena menolong Venus.
Venus memutar tubuhnya membelakangi Samudera. "Kamu aja duluan, biar aku tunggu di luar."
Venus ingin segera keluar kamar mandi namun tangannya langsung dicekal Samudera. Samudera mendekati Venus hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Mandi sekarang atau aku yang memandikan kamu!" Ucapnya dengan suara berat di telinga Venus.
Venus meremang, seperti ada yang berdesir dari ujung kaki hingga kepalanya. Wajahnya memerah, seketika kerja jantungnya berpacu tidak seperti biasanya.
Malu...
Bagaimana pun Venus sangat malu berada dengan lawan jenisnya dalam posisi dan kondisi seperti ini, meskipun laki-laki itu adalah suaminya.
Tangan besar Samudera bergerak membuka satu per satu kancing piyama Venus.
Venus menahan gerakan tangan Samudera dengan kedua tangannya di atas tangan Samudera. Mengumpulkan semua keberaniannya, ia mengangkat wajahnya menatap Samudera memohon.
Tatapan mereka saling terkunci. Perlahan Samudera menunduk mendekatkan wajahnya ke bawah hingga bibirnya meraup bibir Venus. Samudera menggerakkan bibirnya dengan lembut, sangat lembut membuat Venus terbuai dan membiarkan Samudera melakukan apa saja di sana.
Samudera menghentikan ciumannya setelah ia merasakan kesadarannya kembali.
__ADS_1
"Ayo mandi, aku tidak ingin kamu sakit!" Meski diucapkan dengan suara serak menahan gairah, tetap saja suara itu terdengar seperti perintah di telinga Venus yang tidak boleh ia tolak.
Akhirnya mereka berdua benar-benar mandi, tepatnya Samudera yang mandi sambil memandikan istrinya seperti di hari pertama pernikahan mereka. Venus hanya bisa pasrah menahan rasa malunya dan rasa bencinya di saat yang sama.