A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 60


__ADS_3

"Hamil...!!!"


Sahut Samudera dan Venus bersamaan, mata mereka saling mengunci dengan pikiran masing-masing.


Febby mengangguk membenarkan, "iya kak Ve, kakak sekarang hamil dan usianya sudah masuk pekan ke dua belas jika merujuk hari pertama terakhir kali kakak haid." Ucap Febby menjelaskan.


"Aku saranin sih kak Sam bawa kak Ve ke dokter kandungan biar semuanya jelas dan bisa lebih tau kenapa tadi kak Ve bisa tiba-tiba sakit perut seperti itu. Takutnya ada masalah dengan kandungannya." Kembali Febby memberi penjelasan kepada pasangan suami istri tersebut yang nampak masih shock, terutama Venus.


"Baiklah Feb, thanks yah. Tolong tinggalkan kami berdua dulu." Samudera ingin berbicara dengan Venus yang kemudian diangguki Febby dan langsung keluar meninggalkan mereka.


Samudera mendekati Venus kemudian duduk di tepi tempat tidur dimana Venus berbaring di sana.


Tangan Samudera terangkat mengelus perut rata istrinya itu, setelah gerakan mengelus itu, Samudera menundukkan kepalanya meletakkannya di atas perut Venus.


"Hai, anak daddy! How are you? Are you OK? Ini daddy ganteng kamu di sini. Baik-baik yah di dalam sana." Matanya menghangat, ada perasaan bahagia bercamour haru yang membuncah di dadanya.


Setelah puas menyapa dan memberi kecupan di perut Venus, tatapannya kini terangkat ke arah wanita yang sedang mengandung benih berkualitas darinya dan dalam beberpa bulan kedepan akan melahirkan darah dagingnya itu.


Venus bingung sendiri, ia tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Haruskah ia bahagia atau bersedih? Ia sama sekali tidak tahu harus bagaimana menyikapinya.


Bagaimana mungkin dia bisa hamil padahal ia rutin meminum pil kontrasepsi, bahkan saat Samudera tidak di rumah pun Venus tetap mengkonsumsinya.


Menyadari kebingungan Venus yang sedari tadi seperti orang linglung dan tidak bersemangat, Samudera membaringkan tubuhnya di sisi Venus.


Samudera mengambil posisi miring dengan satu tangan menekuk menumpu kepalanya.


"Apa kamu tidak bahagia?" Tanya Samudera menyampaikan isi pikirannya saat ini.


Tatapan Venus beralih menatap Samudera. "Aku...aku masih tidak menyangkanya." Venus tergagap mendapati tatapan Samudera yang lekat kepadanya.


"Apa kamu bahagia?" Giliran Venus yang bertanya tentang bagaimana perasaan Samudera saat ini.


Samudera menggenggam jemari Venus kemudian membawanya ke bibirnya.


"Aku bahagia, sangat bahagia." Jawab Samudera mantap.

__ADS_1


"Kenapa?" Venus masih tidak puas dengan jawaban Samudera.


"Karena sebentar lagi akan ada yang memanggilku dengan sebutan daddy, apalagi ia berasal dari dalam rahim kamu."


"Kenapa harus aku?"


"Karena kamu anak ibumu!"


Tessss...


Hati Venus menjerit, bukan jawaban itu yang ingin didengarnya.


Venus menghela nafas berat, seharusnya ia tidak berharap sama sekali kepada Samudera. Beberapa detik yang lalu, ia sempat berfikir untuk menyerahkan jiwa raga dan seluruh perasaan cintanya kepada daddy bayi yang dikandungnya itu, tetapi keputusan itu ia urungkan.


"Apa kamu tidak ingin bertanya kenapa kamu bisa hamil padahal kamu rutin meminum obat pecegah kehamilan?" Tanya Samudera sarkas kembali dengan wajah datar namun sangat jelas tatapannya mengintimidasi.


Mata Venus melebar, ia seperti seorang maling yang baru saja ketahuan.


"Kamu..." bibir Venus mengatup, ia kehilangan kata.


"Aku sebenarnya sangat marah saat mengetahui kecurangan kamu di belakangku, tetapi aku memilih memaafkan kamu. Aku tidak ingin membuang energiku berdebat soal anak, aku hanya ingin membuktikan ke kamu bahwa sebesar apapun usaha kamu untuk menghindarinya, maka usahaku akan jauh lebih besar untuk mendapatkannya. Jadi mulai sekarang, jangan lagi mencoba melakukan hal-hal yang bisa membuatku murka kepadamu.


Istirahatlah, besok kita akan ke dokter kandungan. Aku tidak mau ada masalah dengan anakku di dalam sini." Samudera kembali mengelus perut Venus. Ia kemudian merapikan selimut untuk menutupi tubuh Venus. Setelah itu ia beranjak pergi setelah memberi sebuah kecupan di pipi Venus.


Tinggallah Venus merenungi jalan takdir yang menyapanya kali ini.


Bukannya Venus menolak bayi yang sudah terlanjur hadir di dalam rahimnya. Ia hanya masih gamang dengan masa depan anaknya.


Bagaimana ia bisa membesarkan anaknya di tengah tekanan batin yang ia akan lalui di sepanjang hidupnya nanti?


Lelah dengan perang pemikiran yang ada di dalam kepalanya. Venus memutuskan untuk bangun. Perutnya sudah terasa baikan. Hanya saja ia tiba-tiba ingat dengan mangga yang ada di dalam kulkas dan memgingatnya saja seketika mulutnya banjir air liur.


"Non Venus mau apa?" Tanya Alex yang kebetulan ingin mengambil air minum di dapur.


"Ini.." Venus menunjukkan mangga dan pisau yang ada di kedua tangannya.

__ADS_1


"Biar saya saja yang kupas. Non Venus duduk manis aja di situ." Alex mengambil alih mangga dan pisau yang ada di tangan Venus.


Venus menurut dan sekarang menunggu di meja makan.


"Ini mangga spesialnya buat ponakan uncle Alex!" Alex menyodorkan sepiring buah mangga yang sudah ia potong-potong.


"Terima kasih, uncle!" Venus menirukan suara anak kecil.


Kabar tentang kehamilan Venus memang sudah menyebar di dalam rumah. Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Samudera dan memberikan briefing kepada semua orang agar ikut memperhatikan istrinya itu. Ia bahkan sudah meminta Max untuk mecari tukang agar merenovasi kamar yang ada di lantai bawah agar Venus tidak capek naik turun tangga. Ia bahkan berencana memasang lift di rumah.


"Kamu belum ada niat nikah gitu, Lex?" Tanya Venus kemudian.


Alex mendesah mendapatkan pertanyaan seperti itu


"Waktu baru lulus anggota kemarin," Alex memulai ceritanya sambil menerawang jauh. "aku tuh punya pacar, udah jalan setahun. Belum punya rumah, gaji juga masih pas-pasan tetapi aku nekat ajak dia nikah. Nah, diminta mahar sekian berikut biaya nikahan sekian. Aku gak sanggup, ya udah nikahnya dipending dan akhirnya putus."


Venus menatap iba Alex. Tatapannya ke Alex seolah berkata agar bersabar.


"Satu tahun kemudian aku ketemu gadis cantik dan baik hati. Maharnya mudah dan murah, ia rela menikah dengan sederhana. Jadi menikahlah kami dan akhirnya dikarunia anak kembar. Tidak lama aku sudah mampu membelikan istriku rumah, mobil bahkan ngasih mahar yang sempat kepending itu."


Mata Venus membulat mendengar cerita Alex.


"Jadi kamu sudah punya istri dan anak?" Tanya Venus masih tidak percaya kalau Alex sudah punya istri, bahkan punya anak kembar.


Alex tersenyum. Bahkan jelas sekali ia menahan tawa yang sudah hampir meledak


"Itu adalah cerita karangan saya saja, non. Fiksi!!!"


Gubrak...


Piring yang masih berisi potongan mangga itu melayang ke wajah Alex.


Alex langsung berlari keluar dapur meninggalkan nonanya itu masih menggerutu tidak terima dengan cerita karangannya tadi.


Salahnya apa? Alex kan hanya menunjukkan salah satu bakat terpendamnya selama ini, mengarang!

__ADS_1


__ADS_2