A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 14


__ADS_3

Chapter 14


Satu minggu berlalu, aku pun sudah merasa nyaman dan menemukan ritme kerja yang menggairahkan di sini. Setelah beberapa kali ikut meeting bersama departemen lain dan banyaknya pekerjaan yang beririsan dengan bagian lain membuat diriku mulai banyak mengenal orang di kantor.


Sekarang duniaku tidak hanya berputar di mba Muthia saja atau mas Bintang yang masih keukeh beramah-tamah kepadaku.


Seperti saat ini, aku mengajak semua staf bagian perencanaan untuk makan malam di salah satu foodcourt di mall terdekat. Selain sebagai tanda perkenalan, ini aku lakukan murni dengan niat berbagi bersama mereka. Aku mampunya baru segitu, kalau memaksakan makan di restoran mahal, wah.. itu akan sangat memberatkan kesehatan kantongku.


Merekalah yang akan menjadi orang terdekatku, menjadi orang-orang yang akan selalu mensupport dan tentu saja bisa diandalkan dalam meringankan beban pekerjaanku.


Aku bahagia mengenal mereka, suasana bekerja menjadi lebih hidup dengan rasa persaudaraan yang kuat antar sesama. Memang ada yang tampak menonjol dan ambisius, ada yang tampak biasa-biasa saja namun pekerjaannya memuaskan dan ada yang sedikit susah dikendalikan. Tapi itu bukan masalah, selama mereka profesional, semuanya bisa dikompromikan.


Dari 11 orang stafku, 5 diantaranya adalah laki-laki, 3 orang sudah menikah dan 2 orang masih bujang. Aku tidak tahu dan memang tidak mau tahu juga 2 bujang tadi apa masing open relationship atau masing-masing sudah punya pujaan hati. Begitupun dengan staf perempuan, masih ada 3 orang yang single dan semuanya adalah fans fanatik Samudera.


Ngomong-ngomong tentang Samudera, sejak dia meninggalkan ruang meeting kala itu, sejak itu juga dia belum kembali ke kantor. Kabarnya ada urusan keluarga.


Namun, ada kabar yang mengatakan ibunya sedang sakit, ada juga yang berspekulasi bahwa kemungkinan besar Samudera sedang mempersiapkan acara pernikahannya.


Apapun itu, jika memang ibunya sedang sakit, aku berharap semoga segera diangkat semua rasa sakitnya. Sedikit banyak, aku masih mengingat wajah oriental ibu Samudera yang cantik itu, orangnya ramah dan baik hati, seingatku.


Dan jika memang benar Samudera akan melangsungkan pernikahannya, aku pun berdoa semoga langgeng hingga maut memisahkan.


Kami sengaja berangkat ke mall setelah sholat maghrib, malas banget wudhu dan sholat di mall. Kebanyakan mushollanya di tempat parkir, tempat wudhunya pun tidak nyaman karena tempatnya tidak diberi sekat secara penuh sehingga tidak menjamin aurat perempuan tidak nampak oleh yang bukan mahromnya.

__ADS_1


"Yesss... makan..makan.. gratis.. gratis.. inikah yang dinamakan anugratis?" Ucap pak Haris heboh, beliau memang terkenal ceria dan paling bisa mencairkan suasana.


"Pak Haris nih paling terdepan kalau sudah urusan makan-makan gratis?" Ervi menanggapi setengah meledek.


"Maklum, banyak anak.. pada sekolah semua. Kalan lagi makan enak dan gratis!" Ucap pak Haris membela diri.


Semua hanya tertawa pelan menyaksikan pak Haris dan Ervi yang saling menyahuti, sebagian tidak ambil pusing dan membuat tema pembicaraan sendiri.


Aku yang duduk di dekat mba Muthia dan pak Haris tentu lebih tertarik mendengar celotehan mereka.


"Pak Harias kalau mau bungkus, boleh kok." Tawarku kepadanya.


"Ah, bu Venus jangan gitu. Bapak jadi malu tapi pengen banget kalau memang dipaksa ibu!"


"Huuuuuu...." Riuh suara yang lain menyoraki pak Haris.


"Nah, apalagi bujang macam pak Rizky, anak kosan pula, pulang nanti bawa bungkusan, lumayan kan dipanasin buat sarapan besok?" Kali ini ibu Arnes karyawan paling senior di departemen kami yang menanggapi.


"Ah, ibu Arnes paling tau deh derita jomblo beriman seperti saya ini." Rizky membenarkan dengan candaannya.


"Tenang aja semuanya. Aman.. pokoknya yang mau bungkus hayo, aku jaminannya, ibu Venus yang bayar." Ucap Muthia mengakhiri keriuhan mereka karena semua makanan pesanan kami sudah terhidang di meja.


Akupun mengangkat kedua jempolku membenarkan ucapan mba Muthia.

__ADS_1


Kami makan sambil bercerita dan bercanda. Dari sana aku tahu banyak hal tentang mereka malam ini. Tentu saja bagi yang sudah berkeluarga, hal yang paling mendominasi pembahasannya tidak jauh-jauh dari seputar urusan anak.


Aku sendiri tidak banyak bercerita, aku lebih suka mendengarkan mereka.


Karena ini weekend, aku dan mba Muthia bersama 5 orang lainnya lanjut nonton film. Bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya memilih pulang.


Sekarang aku, Irawan, Rizky, Sita, Ervi, Maya dan mba Muthia berjalan ke arah bioskop di lantai 4 gedung mall.


Aku berjalan bersisian dengan Irawan karena kami sempat membahas tim sepakbola kesayangan kami masing-masing yang ternyata adalah rival. Aku pendukung Manchester United sementara Irawan fans Liverpool. Seru dong pastinya.


Tak pelak kami saling ledek dan tentu saja akulah yang jadi objek penderita di sini karena performa Manchester United saat ini sedang berada di titik nadir terendahnya.


Sesampainya di Bioskop, Rizky mengajukan diri sebagai tukang antri beli tiket sementara mba Muthia dan Maya membeli cemilan.


Aku sendiri melipir ke toilet, aku tidak mau aktivitas menontonku terjeda karena urusan buang air, apalagi kalau filmnya sedang seru-serunya tapi keburu kebelet.


Ternyata Irawan pun sama, dia juga sekalian ingin ke toilet dulu. Maka, kembali kami jalan bersama menuju toilet. Bersama Irawan ini, dia ada saja bahan pembicaraan yang menurutku tidak membosankan dan asyik aja diajak ngombrol. Intinya nyambung banget kalau sama dia.


Posisi toilet pria lebih dulu didapati kemudkan setelahnya barulah toilet wanita. Irawan langsung berbelok masuk ke toilet pria sementara aku masih berjalan beberapa langkah untuk sampai ke toilet wanita. Saat hendak berbalik masuk ke area toilet perempuan, mataku menangkap sosok yang sudah satu minggu ini dirindukan oleh setiap perempuan penghuni kantor tempatku bekerja, minus aku tentu saja sedang berdiri tidak jauh dari pintu toilet wanita.


Mata kami saling bersibobok sekitar 5 detik, namun dia langsung teralihkan ketika seorang perempuan Indo keluar dari toilet kemudian bergelayut manja di lengannya. Meskipun wajahnya datar mendapati gadis itu menggelayutinya, tapi dia tampak tidak keberatan.


Samudera menatapku dengan pandangan yang seperti mengancam lalu berjalan pergi dengan perempuan tadi. Perempuan cantik dan seksi. Mereka tampak sangat serasi. Cantik dan tampan, seksi dan mesum. Sebuah perpaduan yang sempurna.

__ADS_1


Tidak ingin mengambil pusing, aku pun melanjutkan niat awalku datang ke sini.


Aku harap Samudera dan gadisnya itu bertemu dengan mba Muthia dan yang lain, biarkan saja setelah ini menjadi hari patah hati sekantor pusat. Aku ikhlas, kalau ada yang mau membuat syukuran, mungkin aku akan mempertimbangknnya untuk datang dan menyumbang lagu patah hati di sana.


__ADS_2