
Matahari sudah mulai turun saat Samudera dalam perjalanan pulang ke rumah. Meski sudah akan tenggelam, tetapi hari masih tampak terang. Suara adzan maghrib sudah berkumandang ketika Samudera melewati Masjid di dekat rumahnya. Akhirnya ia putuskan untuk sholat maghrib berjamaah di sana.
Setelah melaksanakan sholat maghrib, Samudera tidak langsung pulang. Mengingat Venus juga belum di rumah, ia merasa tidak ada salahnya sekalian menunggu Isya. Mungkin ini hikmahnya, ketika tadi di kantor kemejanya ketumpahan kopi sehingga mengharuskannya mengganti kemejanya itu.
Di saat menunggu isya di teras mesjid yang jaraknya kurang lebih satu jam dari sholat maghrib itu, Samudera diajak ngobrol oleh imam Masjid di sana, nama beliau adalah Ustadz Haikal. Beliau masih tergolong muda dan merupakan lulusan S2 dari Al-Azhar, Kairo.
"Bagaimana kabar, pak Sam?" Tanya Ustadz Haikal membuka percakapan.
"Alhamdulillah, ustad.. baik." Samudera sedikit membungkukkan badannya sambil menyambut tangan ustadz Haikal yang ingin menyalaminya.
"Alhamdulillah, MaasyaAllah. Baru dari kantor, pak?"
"Iya, ini baru dari kantor, kebetulan saat lewat udah adzan jadi saya singgah."
Ustadz Haikal mengangguk-angguk dengan sesekali mengusap janggutnya yang tebal namun selalu terlihat rapi.
"Bagaimana ini ustadz rencana belajarnya saya ngaji? Udah sebulan aja mua'llafnya tapi ngajinya belum." Samudera bergeser sedikit ke belakang menyandarkan punggungnya di dinding. Satu kakinya ia tekuk merapat di lantai kemudian yang satunya lagi ia tekuk dengan lutut ia pegang dengan tangan kanannya.
"Kalau bapak ada waktu, habis maghrib begini boleh, atau sehabis Isya juga InsyaaAllah saya bisa. Dari selapang waktunya bapak aja kalau sudah malam begini. Kalaupun saya berhalangan, di sini masih ada Farhan dan Ahmad yang bisa ngajrin bapak." Ucap ustadz Haikal memberi beberapa opsi untuk menentukan jadwal belajar ngaji untuk Samudera.
"Nah, itu si Ahmad." Ustadz Haikal menunjuk Ahmad yang tidak terlalu jauh dari mereka.
"Ahmad..." Ustadz Haikal memanggil seorang lelaki yang usianya tidak jauh berbeda darinya itu.
"Iya, ustadz." Ahmad datang mendekat lalu ikut duduk bersama mereka.
"Mad.. ini ada pak Samudera mau belajar mengaji, kalau-kalau kapan-kapan saya berhalangan dan pak Samudera datang ke sini, tolong dampingi beliau untuk belajar mengaji."
Ahmad sangat antusias, mimpi duduk di dekat orang yang paling terpandang dan dihormati di lingkungan sini saja rasanya sudah luar biasa, apalagi jika bisa duduk bersama untuk mempelajari dan mengkaji Al-Qur'an.
__ADS_1
"InsyaaAllah saya siap ustadz," ucapnya sopan kemudian beralih ke Samudera. "Suatu kehormatan bagi saya bisa duduk bersama bapak belajar kalam Allah." Sorot mata itu memancarkan binar bahagia sekaligus semangat dan keyakinan yang kuat membuat Samudera cukup tersentuh.
"Terima kasih ustadz Ahmad, mohon bimbingannya."
Ahmad menggeleng cepat dengan tangan juga melambai cepat.
"Jangan panggil saya ustadz pak, ilmu saya masih seujung kuku dibanding ustadz Haikal dan lagi usia saya mungkin beberapa tahun di bawah bapak. Panggil nama saja sebagaimana ustadz Haikal memanggil saya." Ahmad merasa sangat belum pantas dipanggil ustadz oleh orang sehebat Samudera.
"Tapi rasanya tidak sopan memanggil guru hanya dengan nama saja." Samudera sangat tau cara menghormati guru.
"Tidak masalah, pak. Pokoknya panggil nama saja."
Samudera tidak lagi mendebat, ia pun memahami keinginan Ahmad. Ia juga pernah berada di usia Ahmad yang nampak masih awal dua puluhan. Memang akan terasa diri sudah tua ketika diumur-umur tersebut sudah dilabeli panggilan lain yang disandingkan dengan nama.
Tidak lama, waktu isya pun datang juga. Mereka bergegas meninggalkan teras mesjid. Ahmad sendiri langsung menuju mimbar untuk mengumandangkan adzan sementara Samudera dan ustadz Haikal sama-sama menuju ruang berwudhu.
"
"
Venus bergegas turun dari mobil dengan lalu menuju ke bagasi mobil. Hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya.
"Non Venus masuk aja ke rumah, biar belanjaannya jadi urusan kami." Alex mencegah Venus yang langsung mengeluarkan barang belanjaannya dari bagasi.
"Ini aku hanya mau ambil barang yang mau aku bawa ke kamar. Tolong ingatkan bu Wati dan mbak Aida urusan belanjaan ini. Sekalian minta dibuatkan food preparationnya. Daging-dagingan di tempatkan masing-masing di dalam box untuk porsi sekali masak, begitupun dengan sayurannya. Oke!"
Venus ingin sayuran dan daging-dagingan sudah dipotong-potong dan dibagi-bagi ke dalam wadah agar ketika ingin memasak, tinggal ambil, cuci dan cemplung-cemplung saja. Hemat waktu, hemat tenaga dan tentu saja menghindarkan dari sifat mubadzir, membuang-buang bahan makanan di kulkas karena kesalahan cara penyimpanan.
Setelah menyampaikan semua instruksi khas emak-emak hobby masak, Venus segera berlalu masuk ke rumah dan langsung menuju kamarnya.
__ADS_1
Ekkhhhmmm...
Saat kakinya baru memijak satu anak tangga, tiba-tiba ada suara deheman yang membuatnya berhenti dan melirik ke asal suara deheman tadi.
"Bagus yah, seorang istri baru pulang jam segini. Mau bagaimana urus suami dengan baik kalau kerjaannya lebih suka kelayapan dibanding menunggu suami di dalam rumah."
Itu adalah suara ibu mertua Venus, ibu Jeny.
"Ah, ibu.." Venus membelokkan langkahnya mendekat ke ibu mertuanya itu.
"Assalamu'alaikum, bu." Venus meraih tangan ibu mertuanya itu kemudian membawanya ke hidung.
Sesaat perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu terpaku dengan perlakuan menantu bar-barnya itu, mengingat kelakuan tidak sopannya tadi di kantor.
"Aku tinggal dulu, bu. Udah masuk isya, mau bersih-bersih juga."
Mulut mertuanya itu masih terkatup rapat dan membuang muka. Venus tidak ingin ambil pusing dan segera berlalu dari sana.
Venus sangat lega karena tanpa perlu membuka aib rumah tangganya kepada mba Muthia tadi, akhirnya ia berhasil membeli pil kontrasepsi di supermarket tadi yang kebetulan supermarketnya punya satu area untuk display obat-obatan dan vitamin.
Tidak ingin menimbulkan kecurigaan Samudera, Venus tidak lupa membeli Vitamin yang botolan sehingga memudahkan dirinya mengganti pil keamanannya ke dalam botol vitamin tadi.
Tentu mba Muthia juga tidak tahu karena Venus tadi pura-pura kelupaan salah satu buah yang ingin dibelinya, gayung bersambut, mba Muthia menawarkan diri untuk kembali ke bagian buah dan sayuran sementara Venus melanjutkan kegiatan belanjanya yang lain. Dan disaat itulah Venus bergerak cepat mencari target utamanya.
Tanpa menunda-nunda, Venus mempercepat kegiatan bersih-bersihnya dan langsung mendirikan sholat isya.
Tidak ingin membuat ibu mertuanya menunggu lama sendiri di bawah. Bukannya ingin mencari kelakuan baik, tetapi adab menerima tamu apalagi itu adalah ibu dari laki-laki yang berstatus sebagai suaminya harus dijunjung tinggi.
Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalah Venus yang punya niat buruk untuk segera mengakhiri pernikahannya.
__ADS_1
Venus tahu dirinya salah, karenanya ia selalu memohon ampun kepada Tuhannya, tetapi sungguh ia juga selalu memohon agar diberi jalan keluar yang terbaik atas hubungannya dengan Samudera.