
Rahang Robby mengeras, wajahnya memerah. Bukan karena marah, tetapi karena sensasi geli, panas dan aneh akibat mendapatkan suara ringan Muthia yang menyapu telinganya.
Ada yang berdesir di kepalanya, menghantarkan getaran listrik yang menyengat pusat tubuhnya. Tatapannya malah terpaku pada bibir ranum milik Muthia yang entah kenapa baru kali ini ia merasa punya ketertarikan untuk berlama-lama menatap penuh minat dengan bibir perempuan, apalagi itu adalah bibir Muthia. Perempuan yang selama ini dikenalnya sangat bar-bar dengan mulut yang cukup mengandung bon cabe level tertinggi di kantor.
Menyadari tatapan Robby yang tidak biasa itu, membuat tubuh Muthia mengkerut, kedua kakinya ia tarik meringkuk begitupun kedua tangannya yang semakin erat memeluk dirinya sendiri.
Matanya tertutup kuat-kuat ketika wajah Robby semakin mendekat hingga ia bisa merasakan nafas berat Robby di hidungnya.
Karena penasaran, Muthia membuka matanya yang langsung bertemu dengan netra Robby yang sudah berkabut.
Dan alangkah terkejutnya Muthia ketika sebuah benda kenyal hinggap dibibirnya begitu saja tanpa permisi dan tanpa peringatan apa-apa. Matanya melebar terbelalak, tubuhnya seketika mematung, tidak tahu harus bagaimana meresponnya. Otaknya kosong seketika.
Hanya lima detik tetapi sanggup membuat keduanya sama-sama seperti masuk ke dunia lain yang hanya mereka berdua di sana.
Beruntung ponsel Robby berdering, menyelamatkan mereka dari ketegangan yang entah bagaimana cara menghentikannya.
Masih dengan posisi yang sama, dimana Robby masih mengungkung Muthia di kursinya, Robby mengangkat panggilannya.
"Baik--
"Oke--"
Tut tut tut..
Hanya dua kata itu yang keluar di bibirnya kemudian sambungan itu pun terputus.
Cup...
Robby mencuri kecup di bibir Muthia kemudian menegakkan tubuhnya.
Refleks kaki Muthia merespon namun ternyata Robby bisa membacanya.
"Brengsek!!! Dasar bujang lapuk mesum, kurang ajar, buaya buntung-" Umpat Muthia karena tidak berhasil menendang Robby.
"Seharusnya itu kamu lakukan saat ciuman pertama tadi!" Robby mencibir. "Jangan bilang kalau itu adalah ciuman pertama kamu. Tapi itu tidak mungkin bukan? Masak setua ini belum pernah ciuman?" Giliran Robby yang tertawa jahat meremehkan Muthia.
Plakkkk
__ADS_1
Akhirnya telapak tangan Muthia mendarat mulus di pipi Robby. Enak saja, setelah mengambil ciuman pertama dan keduanya di bibirnya yang seksinya 11 12 dengan bibir Angelina Jolie itu, enak saja mengatainya setua ini belum pernah ciuman. Memang benar sih, tetapi bagi Muthia entah kenapa terdengar seperti hinaan yang mengusik jiwa bar-barnya.
Sejenak Robby mengelus pipinya, sebenarnya tidak sakit, hanya saja entah kenapa ia malah senang mendapati respon Muthia seperti itu, apalagi ditambah wajah Muthia yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Itu menggemaskan.
"Ekhhmmm.." Robby berdehem menetralkan wajah terkejutnya karena tamparan Muthia itu.
"Kamu-- berani sekali kamu menamparku!" Ucap Robby geram. Ia sebenarnya tidak marah, tapi itu di dalam hati, berbeda dengan apa yang keluar dari mulutnya. Jelas itu mengancam.
"Apa? Kenapa? Bapak itu kurang ajar tau! Saya akan laporkan bapak ke pak Sam, saya juga akan sebarkan kelakuan mesum bapak ini. Saya tidak terima dilecehkan seperti ini!" Ucapnya menatap nyalang ke netra Robby.
"Coba saja kalau berani, memangnya kamu ada bukti?" Tantang Robby.
Muthia berfikir sejenak, bukti?
"Ini buktinya!!!"
Plak plak!
Secepat kilat dua tangan Muthia bergerak menyapu pipi kiri dan kanan Robby dengan sekuat tenaga.
Sementara Muthia kembali merosot setelah menyadari kelakuannya yang sepertinya telah berhasil membangunkan singa lapar.
Cup..
Lagi-lagi mata Muthia melebar karena ia fikir Robby akan marah besar karena tidak terima dengan tamparannya, tetapi ternyata lelaki itu justru kembali mencuri kecupan di bibirnya.
Robby langsung berbalik dan berjalan seperti orang limbung keluar dari ruangannya. Pipinya terasa hangat, jantungnya berdetak kencang, ia tidak bisa menolak ketika bibirnya tertarik ke atas menyunggingkan senyum merekah sempurna.
Gila! Robby benar-benar tidak menyangka kalau dirinya bisa berbuat senekat ini. Robby mengerjapkan matanya beberapa kali pun dengan kepalanya juga ikut menggeleng-geleng.
Ia benar-benar sudah gila, sepertinya Muthia harus bertanggung jawab setelah ini.
Blam...
Sesaat Robby menyandarkan punggungnya di pintu setelah menutupnya. Ia memegangi dadanya karena kerja jantungnya yang melompat-lompat di dalam sana.
Masalahnya... ini masalah baru buatnya. Dirinya salah faham. Ia yang tidak ingin mengganggu Samudera berinisiatif mencari Venus terlebih dahulu setelah mendapatkan laporan dari pak Didu atas kepergian Venus dari rumah malah salah dalam mengantisipasi keadaan.
__ADS_1
Panggilan yang tadi diterimanya adalah dari Samudera yang mengabarkan kalau Venus sudah dibawa oleh orangnya langsung ke Lembang.
Malu... merasa bersalah sekaligus berbunga-bunga di waktu yang sama. Rasa-rasanya, kedepannya Robby akan butuh tempat penitipan muka kalau-kalau bertemu Muthia. Memalukan sekali.
Robby menampar bibirnya, mengumpati dirinya sendiri yang sudah bertindak ceroboh dan kurang ajar.
Setelah puas memaki-maki dirinya di dalam hati, Robby melenggang pergi menuju tempat yang bisa membuatnya tidak bertemu dengan Muthia dalam waktu beberapa hari ke depan.
Sebutlah dirinya pengecut, tetapi ada yang lebih penting daripada urusan perasaannya saat ini, keutuhan rumah tangga Samudera adalah fokusnya saat ini.
Tidak jauh berbeda dengan Muthia, dirinya masih diam terpaku, beku dan mematung entah sudah berapa lama. Tangannya terulur ke atas bibirnya, mengusapnya pelan.
Ini seperti mimpi, tetapi ia juga yakin kalau itu adalah kenyataan paling nyata yang pernah ditemuinya.
Muthia bukan perempuan suci tanpa noda, ia sudah sering bergonta ganti pacar sampai capek malah hingga di usianya yang sudah kepala tiga ini benar-benar sudah tidak begitu memikirkan untuk mempunyai hubungan lagi dengan makhluk berjenis laki-laki.
Tapi sumpah, untuk ciuman di bibir, ini adalah yang pertama kedua dan ketiganya. Belum pernah sebelumnya, paling jauh hanya cium di pipi, pegangan tangan dan pelukan.
Muthia bergigik ngeri, ia membatin menyesalinya.
Mengapa harus Robby?
Mengapa harus laki-laki sedingin, sekaku dan segalak itu sih? Belum lagi sifat bossy-nya yang ngalah-ngalahin Samudera. Muthia benar-benar tidak suka. Benci banget malah...
Apa dirinya harus meminta tanggung jawab?
Muthia meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa harus Robby sih yaa Allah? Apa tidak ada laki-laki lain selain dia? Hikkksss!" Muthia benar-benar frustasi.
Apa kata dunia kalau ada yang tahu kejadian ini?
Semua orang di kantor tahu kalau dirinya selalu bersikap sinis kepada laki-laki itu, sudah hal umum di group chat khusus karyawan di kantor.
Apa ia ikhlaskan saja keperawanan bibirnya direnggut begitu saja?
Meminta tanggung jawab Robby sama saja dengan menjilat ludahnya sendiri yang ada di atas kotoran cicak. Menjijikkan!
__ADS_1