
Setelah mandi, Samudera membantu Venus mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Samudera kemudian membawa Venus ke dalam walk in closet yang menyatu dengan kamar mandi.
Dengan cekatan Samudera memilih pakaian yang ingin dia lihat dikenakan oleh Venus hari ini. Venus hanya duduk diam di sofa single yang ada di ruangan itu, menunggu Samudera melakukan semua yang ingin ia lakukan kepada dirinya.
Samudera adalah Samudera yang pemaksa. Maunya harus menjadi maunya Venus juga.
"Pakai ini." Samudera membawa pakaian dalam lengkap dan juga daster rumahan yang sudah ia pilihkan untuk Venus.
Venus tidak pernah tahu, sejak kapan walk in closet ini dipenuhi pakaian perempuan. Namun sejak beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja beberapa kabinet sudah terisi dengan piyama tidur dari potongan rendah hingga panjang, ada daster panjang dan pendek, ada gamis, dan ada setelan pakaian serupa outfit yang selama ini ia gunakan saat ke kantor.
"Aa..aku bisa memakainya sendiri, please!" Venus memohon agar ia diizinkan memakai pakaiannya sendiri. Ia benar-benar sudah tidak nyaman berada di dalam situasi seperti ini.
Samudera menggeleng.
"No... aku ingin melakukannya. Kamu tinggal memerima saja." Lagi-lagi tidak ingin dibantah, Samudera memasukkan satu per satu kain penutup ke dalam tubuh Venus.
Samudera tampak puas melihat hasil pilihannya yang melekat di tubuh Venus saat ini. Ia berniat mengurung Venus seharian di kamar.
Venus merapatkan pahanya dan satu tangannya memeluk lengannya yang lain. Bagaimana tidak, daster yang dipilihkan adalah yang tanpa lengan dan panjangnya hanya sebatas paha.
"Ini terlalu kekurangan bahan, Sam!" Protes Venus.
"Tapi aku suka melihat kamu pake ini di dalam kamar." Seringai nakal terbit di bibir Samudera. Ia kemudian meraih kaos untuk dirinya sendiri kemudian ia padukan dengan short pants warna abu-abu.
Venus sempat tertegun menatapi Samudera yang tampak begitu tampan dalam balutan pakaian rumahan seperti itu.
'Orang kalau dasarnya cakep mau pake apa aja selalu tetap terlihat menawan.' Batin Venus memuji.
"Aku tau aku tampan, tapi tidak usah terlalu terpesona begitu sampe ileran." Samudera mendekati Venus kemudian mengusap sudut bibir istrinya itu yang tampak salah tingkah.
Samudera meraih kedua paha Venus lalu diangkatnya sehingga posisi Venus serupa bayi koala di perut Samudera.
"Kamu ngapain, Sam?"
__ADS_1
"Gendong kamu." Jawab Samudera enteng lalu membawa langkahnya keluar dari sana menuju tempat tidur.
Samudera mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur tanpa melepas Venus dari posisinya saat ini yang duduk di atas pangkuannya.
Sejenak saling memandang dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Apa kamu merindukanku? Apa kamu sudah jatuh cinta kepadaku?" Tanya Sam membuka suara.
Venus menarik sudut bibirnya kemudian menggeleng.
"Mungkin aku sudah gila kalau aku sampai merindukan laki-laki yang paling kubenci di dunia ini, apalagi jatuh cinta kepadamu." Jawab Venus tegas.
"Oh yah..." kening Samudera mengerut, seperti tidak mempercayai jawaban Venus.
"Jangan bilang justru kamu yang merindukanku, hati-hati, kamu juga tidak boleh jatuh cinta sama aku, aku benci kamu kalau kamu lupa."
Tangan Venus terulur menyapu wajah Samudera sementara kedua tangan Samudera semakin mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Venus.
"Tapi aku sudah bertekad membuat kamu jatuh cinta kepadaku, jadi bagaimana dong?" Tanya Samudera kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Venus.
"Jantungmu sangat ribut, Ve!" Samudera menyukai irama jantung itu.
Venus berusaha mendorong wajah Samudera agar tidak lagi menempel di dadanya tetapi gagal.
Samudera ndusel-ndusel di dada Venus, menghirup dengan rakus aroma tubuh Venus yang membuatnya seperti orang gila. Ia sangat menyukai aroma ini.
"Sam... apa kamu tidak jijik kepadaku? Bukankah aku perempuan hina dan kotor?" Tanya Venus menarik perhatian Samudera sehingga berhasil membuat Samudera mengangkat wajahnya kemudian menatapnya dengan sorot yang tak terbaca.
Samudera seolah kehilangan kata, ia sudah tahu kebenarannya dan sudah membuktikannya sendiri. Venus adalah gadis terhormat yang terjaga kesuciannya. Dialah yang telah merusaknya.
"Kamu milikku, Ve. Selamanya akan seperti itu."
"Tapi kita hanya akan terus saling menyakiti, Sam. Kamu membenciku karena dendammu di masa lalu sementara aku membencimu karena semua perlakuan kasarmu kepadaku, atas dasar apa kamu mempertahankan aku di sisimu, Sam?"
__ADS_1
"Karena aku ingin melihatmu menderita seperti penderitaan yang dilalui ibuku. Ibuku menangis siang dan malam meminta perhatian ayah, mengemis cinta dari ayah tetapi itu tidak pernah ia dapatkan dan aku ingin kamu seperti itu."
"Lalu ketika kita punya anak nanti, apa kamu ingin anak kita mengulangi kehidupan yang daddynya lalui?"
Deg...
Hati Samudera seperti tercabik-cabik mendengarnya.
"Aku mungkin bisa bertahan di sisimu sebagaimana ibumu yang terus bertahan, tetapi bagaimana dengan mental anak kita? Apakah kamu sudah memikirkannya? Heuummm?"
"Aku kenal kedua orang tuaku, Sam. Ibuku sangat mencintai ayahku, tidak mungkin beliau menjadi duri di dalam rumah tangga orang tua kamu, percayalah.." Venus berusaha meyakinkan Samudera dengan mencoba menyentuh sisi terdalam dari hati pria itu.
Samudera menggeleng, matanya sudah memerah.
"Kamu salah! Ayah selalu mengabaikan ibu karena cintanya kepada ibumu."
"Bagaimana jika itu adalah cinta sepihak ayahmu? Ayahmu berhak mencintai ibuku, tetapi ibuku juga berhak menentukan kepada siapa ingin menghabiskan hidupnya dan melabuhkan cintanya. Bukankah cinta juga bisa memilih? Memilih salah satu dari beberapa cinta yang menghampiri."
Samudera menegang memikirkan perkataan Venus. Ia tidak akan bisa menerima jika apa yang dikatakan Venus itu benar. Ia menolaknya, akal sehatnya sudah lama hilang setelah semua kepahitan yang dilaluinya.
"Kamu sudah terlalu banyak bicara, Ve. Aku tidak menyukainya. Apalagi kamu hanya membela orang tua sialanmu itu seolah-olah orang tuakulah yang bersalah di sini. Bungkamlah mulutmu atau kalau bisa robek saja mulutmu agar tidak lagi mengatakan omong kosong tentang kedua orang tuaku." Nafas Samudera tiba-tiba memburu, rahangnya mengetat karena tidak terima dengan ucapan Venus.
"Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukan berarti aku tidak punya jawaban, tetapi tak pantas bagi singa meladeni anjing.” pungkas Venus tak kalah sengit.
"Kamu..."
Emosi Samudera yang sedari tadi diredamnya kini meluap ke permukaan.
Ketika amarah dan gairah meledak di waktu yang sama, maka apa lagi yang bisa dilakukan Venus untuk melawannya.
Samudera seperti orang kesetanan, merobek semua apa yang melekat di tubuh Venus, menyentuh dengan kasar setiap jengkal tubuh lemah yang ada dalam penguasaannya.
Meskipun lama kelamaan, sentuhan itu berubah melembut dan penuh pemujaan, memuja keindahan ciptaan Tuhan yang telah ditakdirkan untuk menjadi miliknya seorang.
__ADS_1
Venus yang awalnya melawan sepenuh tenaga pada akhirnya menyerah dan pasrah pada kenikmatan dunia yang ditawarkan Samudera kepadanya.
Dua insan itu tengah dimabuk gairah asmara yang beberapa saat lalu saling mengungkapkan kata saling membenci satu sama lain namun mampu menghadirkan letupan-letupan kebahagiaan yang sempurna dari setiap raihan pelepasan yang mereka dapatkan.