A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 75


__ADS_3

Hujan di pagi hari membuat Samudera semakin nyaman bergelung di dalam selimutnya. Matanya masih berat, perpaduan rasa lelah dan kantuk membuatnya sangat malas bergerak, walau sekedar membelah dua kelopak matanya. Di sana seperti digelantungi ribuan ton beban membuatnya sulit untuk membukanya.


Hanya saja, perlahan-lahan ada yang mulai terasa aneh, pelukannya kosong, ini tidak seperti biasanya.


Tangannya meraba-raba, namun hanya dingin yang menempel di kulit telapak tangannya. Samudera mengabaikannya, pikirnya Venus mungkin sedang di kamar Alea.


Tetapi entah kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang, sesaat bayangan kejadian semalam muncul begitu saja di pelupuk matanya, seperti es yang disiram air panas, matanya langsung membuka terbelalak. Senyumnya merekah, wajahnya menghangat hingga turun ke hatinya. Masih teringat ungkapan cinta Venus semalam.


Samudera buru-buru menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya, memakai asal pakaian yang tersusun rapi di atas nakas, langkahnya langsung bergerak ke kamar Alea.


"Ve...!"


Samudera semakin mendekat masuk ke dalam namun hanya ada bu Wati dan mba Ayu baby sitter untuk Alea di sana yang sedang menenangkan Alea yang menangis di dalam gendongan mba Ayu.


"Venus mana?" Tanya Samudera kepada bu Wati kemudian mengambil alih tubuh Alea dari gendongan baby sitternya.


Bu Wati dan mba Ayu saling pandang sekaligus heran.


Ragu-ragu bu Wati membuka suara, "bukannya non Venus sudah izin?"


"Maksudnya? Izin untuk apa?" Tanya Samudera bingung.


"I-itu pak, kata non Venus, hari ini waktu enam bulannya sudah habis, jadi tadi pagi-pagi sekali non Venus pergi."


Bibir Samudera terkatup, fikirannya tiba-tiba kosong selama beberapa saat.


Sementara bu Wati dan mba Ayu kembali saling melempar tatapan, mereka bingung dengan melihat Samudera yang seperti beku di tempatnya.


"Mbak Ayu!" Panggil Samudera dengan suara dingin.


"I-Iya, pak!"

__ADS_1


"Siapkan semua perlengkapan dan kebutuhan Alea sekarang juga!"


"Ba-baik, pak!"


Samudera langsung berbalik ke kamar miliknya dan tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu di atas meja.


Satu sudut bibirnya tertarik ke atas setelah membaca surat Venus kepadanya.


---


---


Venus berjalan beberapa ratus meter dari kediaman Samudera menuju lokasi tempat dimana dirinya akan dijemput oleh taxi online yang telah dipesannya. Langkahnya terasa berat tetapi tetap ia paksakan untuk melangkah. Ia tidak ingin melihat lagi ke belakang karena ia tahu, sekali berbalik maka tekadnya akan runtuh seketika.


Dirinya memang mencintai Samudera tetapi cintanya yang sepihak itu bukan alasan yang membenarkannya untuk mengingkari janjinya. Berbeda lagi jika Samudera yang membebaskan dirinya dari janji tersebut.


Belum lagi dengan kenyataan rumitnya hubungan mereka di masa lalu.


Venus merasa cintanya salah, ia serupa pengkhianat, anak durhaka. Bukannya seharusnya dirinya menuntut keadilan, tetapi malah menjauh dan membiarkan mereka bebas dan hidup bahagia.


Venus fikir, dirinya sudah ikhlas dan merelakan semuanya, tetapi setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, ternyata sulit. Bukan tentang dendam, tetapi apa pantas atau tidak?


Mengapa harus orang tua Samudera?


Mengapa harus setelah dirinya jatuh cinta dan memiliki Alea? Ini semua rasanya tidak adil.


Venus terus bertengkar dengan fikiran dan berbagai alasan dalam logikanya, hingga akhirnya dirinya sadar kalau mobil taxi online yang membawanya bukan menuju bandara tetapi entah.. ia tidak tahu ini dimana.


Seketika kepanikan melanda, namun ia masih berusaha tetap tenang dan berfikir positif. "Pak, ini kemana yah? Ini sepertinya bukan rute ke bandara." Tanyanya sambil melihat ke kaca spion tengah mobil.


Matanya kini bersitatap dengan supir yang membawanya.

__ADS_1


"Ini kita ambil rute lain mbak, soalnya jalur utama ada pohon tumbang dan tiang listrik yang ikut roboh, dari tadi malam hujan deras dan anginnya cukup kencang, makanya di beberapa titik juga genangan airnya masih cukup tinggi. Ini pun kita bisa lewat jalur sini karena sudah banyak sumur resapannya, jadi airnya cepat surut." Jawab sang supir yang tetap fokus mengendara.


Girimis masih cukup tebal diluar sana sehingga sesekali wiper mobil menyapu pandangan ke depan.


"Menurut bapak, sumur resapan ini efektif gak buat cegah banjir?" Tanya Venus berusaha mengurai ketakutannya.


"Efektif gak efektif sih, mbak. Tapi tetap lebih baik ada daripada tidak ada sama sekali. Kalau kita berfikir logis, sesuai teorinya dan ilmu pengetahuan, logikanya saja, ketika tanah sudah tidak mampu lagi menyerap setetes air hujan, maka sumur ini yang akan menampung kelebihannya. Fungsinya gak jauh beda sih mba sama parit gitu. Kalau urusan kenapa masih banjir, yah itu artinya sumurnya masih kurang, minta tambah. Bayangin aja, kalau satu sumur bisa menampung 2 sampai 3 kubik air, kalau ada 1 juta sumur resapan di Jakarta, kan lumayan bisa menelan 3 juta kubik air yang jatuh dari langit masuk ke dalam tanah. Itu kalau yang sejuta dari pemerintah, apalagi kalau warganya juga mau bikin di rumah masing-masing, wah.. bisa banget tuh efeknya cepat kelihatan, mbak. Tapi tetap saja sih solusi sumur resapan ini tidak akan bisa menghapus banjir di Jakarta." Sudah panjang lebar menjelaskan tetapi ujung-ujungnya nyengir juga si supirnya.


"Mmmm... gitu yah pak? Bapak kok kayak paham betul tentang sumur resapan gitu?" Tanya Venus penasaran.


"Gini-gini mbak saya ini pernah kuliah di teknik sipil, tapi enggak sampai lulus karena terkendala biaya, makanya mentok jadi driver online." Kilah sang supir.


"Tapi beneran loh, mbak. Coba setiap rumah punya 1 aja sumur resapan di rumah, bukan hanya akan mengurangi banjir tetapi itu akan bermanfaat untuk kita juga, kan bisa berfungsi jadi alat penyimpanan air, apalagi yang senang bercocok tanam di pekarangan rumahnya, atau senang memelihara bunga, kan air hujan yang tadi ditampung itu bisa digunakan kembali untuk siram-siram tanamannya.


Mbak pernah gak dengar istilah panen air hujan?"


"Pernah sih pak, tapi enggak ngerti juga."


"Jadi, panen air hujan itu adalah teknik pengumpulan dan penampungan air hujan ke dalam tangki atau waduk. Nah.. Air hujan tadi akan dialirkan melalui pipa penghubung yang dipasang di atap-atap rumah menuju tempat penampungan di bawahnya. Tapi, sebelum masuk ke tangki penampungan, air hujannya disaring dulu pake tabung filter gitu untuk menetralisir kotoran-kotoran yang mungkin terbawa dari atas atap.


Yang begini-begini mantap banget loh mbak, apalagi kalau sudah banyak masyarakat yang tergerak melakukannya karena ini adalah salah satu solusi agar generasi kita selamat dari ancaman krisis air bersih."


"Wah.. memangnya Indonesia bisa juga yah pak kena krisis air bersih? Kirain di Afrika saja. Kalau di kita kan yang sering kejadian itu krisis keuangan." Venus semakin tertarik dengan tema pembicaraan mereka.


"Bisa aja mba, makanya kalau musim hujan kita kebanjiran trus kalau musim kemarau kita kekeringan. Itu karena kita tidak pandai bersyukur dengan memanfaatkan dengan baik berkah yang sudah diturunkan langit.


Coba kalau hujan airnya kita tangkap, yang masuk diserap ke tanah, masuk, yang kelebihan ditampung dulu, bukan hanya masalah ketersediaan cadangan air bersih yang kita punya, tetapi itu secara alami akan menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Tumbuhan dan pohon akan tetap mendapatkan asupan air ketika kemarau, tanah kita sehat, makhluk hidup aman sejahtera."


Venus mengangguk-angguk paham. Typical kita orang Indonesia kebanyakan, sudah tahu hanya ada dua musim, musim kemarau dan musim hujan, tetapi tidak mau belajar bagaimana merespon dua musim tersebut dengan bijak.


Mata Venus melirik dan mengamati sekitar melalui jendela mobil, seperti ada yang aneh menurutnya. Karena keasyikan cerita sama drivernya membuatnya sedikit lengah.

__ADS_1


"Eh.. pak! Ini kok kita sepertinya udah lama banget di jalan, bandaranya masih jauh yah???"


__ADS_2