
"Harus banget gitu yah kita dikawal ama dua brondong kembar ini, Ve? Aku kan jadi berasa tua banget kalo bareng mereka, entar aku dikira emaknya lagi." Protes mba Muthia sesampainya di mall yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Alex dan Max.
"Udah.. kita terima nasib aja mbak, udah syukur dikasi izin." Venus berusaha menenangkan mba Muthia agar tidak terganggu dengan keberadaan Alex dan Max. "Kita cari tempat yang enak buat ngobrol, yuk."
Venus menarik tangan mba Muthia ke salah satu cafe favoritnya yang ada di mall ini.
"Kalian berdua ambil meja sendiri sana!" Ujar Venus saat Alex dan Max berdiri tegap di dekat meja yang dipilih Venus. "Agak jauh dikit kalau bisa, jangan nguping. Ini orang mau curhat masalah cewek." Imbuhnya sambil menunjuk meja kosong yang berjarak tiga meja darinya.
"Tapi, non.."
"Enggak ada tapi-tapian, sana cepetan." Usir Venus gerah melihat Alex dan Max yang enggan beranjak dari tempatnya.
Fiuuuhhhh...
"Akhirnya nurut juga." Ujar Venus membuang nafasnya ke udara setelah berhasil menjauhkan duo bodyguardnya itu.
"Pak Sam udah benar-benar bucin akut sama kamu, Ve. Posesif banget!"
"Bukan bucin, mbak. Dia itu hanya enggak mau apa yang sudah diklaim sebagai miliknya lecet." Lagi-lagi Venus tidak membenarkan penilaian mba Muthia tentang kebucinan Samudera kepadanya.
"Ini mbak mau pesan makan dan minum apa?" Tanya Venus ketika seorang pelayan cafe menghampiri mereka dengan membawa buku menu di tangannya.
"Aku cappucino panas sama lasagna aja." Jawab mba Muthia.
"Tambah mocca floatnya satu sama roti prata yah, mas." Ujar Venus mengembalikan buku menu ke pelayan yang masih setia menunggu mereka memilih menu yang diinginkan.
"So, bagaimana ceritanya sampai kamu nikah diam-diam sama pak Sam?" Mba Muthia sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang butuh segera dilepaskan oleh penjelasan Venus.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, mbak!"
"Memangnya sepanjang apa sih? Memangnya enggak bisa dibuat ringkas gitu macam membuat abstrak saat menyusun skripsi yang ratusan halaman itu?"
Venus nyengir menampakkan gigi-gigi putihnya yang rapi dan bersih.
"Pokoknya adalah sesuatu yang terjadi di antara kami berdua makanya akhirnya Samudera memutuskan kita langsung nikah. Udah, gitu aja!"
"Kalian digrebek warga?" Tangan mba Muthia menggebrak meja, suaranya tiba-tiba saja keras dengan matanya melebar menatap Venus.
Venus mengangkat jari telunjuknya ke bibir sambil meniupnya berharap mba Muthia memelankan suaranya. Melirik kiri kanan, takut pengunjung lain terganggu dengan kehadiran mereka.
"Kok mbak tebaknya ke arah situ sih? Aku gak mungkin berbuat hal-hal yang tidak senonoh sampe harus digrebek warga gitu."
"Lalu karena apa memangnya? Bilang dong biar orang enggak salah faham."Kali ini mba Muthia berusaha menekan suaranya dengan berbicara minim gerakan mulut.
Sebenarnya Venus ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa dia dipaksa menikah dengan Samudera, ia disekap dan diancam. Tetapi Venus merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya.
Venus harus pandai-pandai mencari moment, ia tidak ingin gegabah menyia-nyiakan kepercayaan Samudera kepadanya. Ada nasib bunda Aisyah yang bergantung kepadanya, belum lagi sampai sekarang Venus sama sekali tidak punya informasi bagaimana keadaan beliau saat ini.
"Aku masih bingung..." mba Muthia mengaduk cappucinonya menunggu dingin sedikit. "Maksud kamu kalian sudah dijodohkan sedari kecil gitu?"
"Enggak juga sih mbak, tetapi alasan kami menikah memang salah satunya karena hubungan orang tua kami di masa lalu. Maaf, aku enggak bisa jelasin ke mbak secara detail karena sesuatu dan lain hal, tapi ya udah, kami udah nikah, sah menurut agama dan hukum negara."
"Itu hak kamu kalau memang tidak bisa menceritakan semuanya, mbak hanya mendoakan kamu dan pak Sam, semoga bahagia selalu dan segera dikasi momongan." Ucap mba Muthia tulus mendoakan kebaikan pernikahan Venus dan Samudera.
"Aamiin, terima kasih doanya yah, mba. Tapi bisa tidak doa minta momongannya dipending dulu? Aku kan masih mau pacaran dulu, masih mau puas-puasin waktu berdua saja." Pinta Venus memelas seolah-olah itu keluar dari hatinya.
__ADS_1
"Yaaa...sedikasinya aja lah, Ve. Enggak usah pake KB kabean segala. Rezeki itu jangan ditolak, apalagi rezeki dalam bentuk anak."
"Bukan bermaksud menolak mbak, aku tuh maunya kalau bisa, kalau bisaaa... aku memang masih pengen berdua aja dulu, biar diriku tidak dihantui rasa penasaran pengen melakukan semua hal yang orang-orang lakukan saat pacaran."
Mba Muthia menarik dua sudut bibirnya berdecih kemudian memutar dua bola matanya.
"Yang ada itu pacarannya kalian pasti pacaran bablas. Mana ada ceritanya cuman boleh pegang tangan doang, orang udah halal kok, pak Sam mana tahan?" Ucap mba Muthia berapi-api.
Air muka Venus seketika memerah. Kembali rekaman aktivitas suami istri terbayang di matanya. Venus tersipu malu saat mba Muthia menangkap netranya yang juga sedang memandangnya.
"Enggak usah dibayangin juga kali, Ve. Kasihani aku yang jomblo ini." Imbuhnya lagi setelah melihat Venus yang tampak salah tingkah.
Sekali lagi Venus hanya bisa nyengir memamerkan gigi-gigi putihnya. Apa kelihatan banget yah isi otaknya saat ini?
"Mbak Muth tau aja, iisshh."
Mereka berdua akhirnya larut dalam pembicaraan seputar pekerjaan sambil menikmati hidangan ringan yang tadi mereka pesan.
Dari yang bisa Venus tangkap, staff perencanaan tidak begitu menyukai dengan pola dan ritme pak Andre dalam memimpin mereka.
Venus tidak ingin terlalu menanggapinya karena bagaimanapun, setiap orang, setiap pemimpin punya karakter dan cara mengelola orang-orang yang dipimpinnya masing-masing. Yang paling penting agar setiap anggota bisa diberi kesempatan untuk memaksimalkan potensinya tanpa mematikan potensi yang lain.
Setelah selesai mengisi perut mereka, Venus mengajak mba Muthia ikut berbelanja di supermarket.
Venus ingin membeli beberapa bahan makanan, terutama di bagian bahan frozen karena Venus ingin menyiapkan sarapan dan bekal yang simple-simple saja mengingat dia sudah tidak punya banyak waktu di pagi hari karena sudah harus berangkat ke kantor.
Alex dan Max sendiri hanya mengawasi dari jauh karena sadar istri atasannya tersebut tidak nyaman dengan kehadiran mereka berdua. Mereka pun mengerti bahwa Venus juga butuh waktu untuk dirinya dan teman-temannya.
__ADS_1
Tentu saja kelonggaran pengawasan Alex dan Max tidak lepas atas izin sang atasan.