A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 70


__ADS_3

Robby mendatangi sebuah Villa di wilayah yang cukup terpencil di Lembang. Di sana Samudera sudah menunggunya datang menjemputnya setelah hampir 5 bulan menyendiri dan menyepi di sini.


Tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang terjadi. Samudera tiba-tiba menghilang begitu saja hanya meninggalkan Robby dan beberapa orang kepercayaannya untuk tetap menjalankan perusahaannya.


Hanya Robby seorang yang tahu, bahkan Venus pun bingung sendiri karena setelah hari itu Samudera tidak pernah lagi pulang ke rumah. Bukannya bahagia, itu malah semacam siksaan batin baginya karena merasa Samudera menghindari dirinya. Apakah dirinya sehina itu dimata Samudera hingga ia rela berpisah jauh dari anaknya hanya demi menghindari dirinya?


Setelah mendengar semua fakta yang dibeberkan oleh ibunya, jiwa Samudera terguncang. Sangat sulit menerima semua kebenaran yang telah terungkap. Dirinya merasa hina dan begitu kecil.


Kehidupan macam apa yang telah diberikan oleh orang-orang yang berperan dalam kehadirannya di dunia ini? Dirinya hanyalah anak dari ibu peselingkuh dan seorang ayah biologis tidak bertanggung jawab. Sementara laki-laki yang ia agung-agungkan selama ini ternyata bukanlah siapa-siapanya. Dirinya hanyalah beban bagi laki-laki itu.


Saat itu, mentalnya benar-benar berada di bawah titik nadir. Ia seperti orang yang mengalami delusi, ada ketakutan yang begitu besar menghantuinya dan emosional, amarahnya sulit terkendali setiap kali mengingat kebenaran itu.


Karenanya Samudera merasa membutuhkan waktu untuk sendiri, merenung dan menenangkan jiwanya. Ia memilih datang ke tempat ini karena alamnya yang begitu menyegarkan pandangan, udaranya yang bersih sangat menyegarkan dan di sini tidak ada kebisingan dan tidak perlu bertemu dengan banyak orang.


Pun beberapa terapi dijalaninya, baik dari psikolog, psikiater dan seorang ustadz.


Di sini, Samudera hanya bisa memandangi foto dan Video Alea dan Venus yang dikirimkan Alex kepadanya. Rindunya sudah membuncah dan meluap-luap kepada keduanya. Namun apalah dayanya, ia sangat takut bertemu keduanya, ia takut akan bisa menyakiti bahkan bertindak kasar kepada mereka di dalam mood yang tidak baik.


Samudera memilih meningggalkan mereka untuk sementara waktu, biarlah ia sembuhkan lukanya sendiri, ia tidak ingin menjadi beban bagi siapapun.


Kesempatan 5 bulan ini juga dimanfaatkan olehnya untuk belajar memperdalam ilmu agamanya. Belajar mengaji dan menghafal beberapa surat termasuk bacaan di dalam sholat cukup efektif mengalihkan pikirannya. Bukan hanya pikirannya yang teralihkan, bahkan hampir semua waktunya tersita untuk belajar dan menghafal.


Dirinya yang awalnya kesulitan tidur pada 2 bulan pertama ini, bahkan harus mengkonsumsi obat tidur, perlahan-lahan bisa lepas dari obat-obatan tersebut dan setelahnya hanya sesekali mengalami tidur yang tidak nyenyak.

__ADS_1


Robby memandangi penampilan Samudera yang terlihat berbeda. Rambut gondrong, kumis dan janggut tumbuh lebat meski tertata dengan sangat rapi. Kulitnya sangat bersih, tubuhnya terlihat kurus, nampak dari wajahnya yang cukup tirus.


"Apa tidak ingin bercukur dulu?" Tanya Robby saat mereka sedang menikmati secangkir teh di halaman belakang Villa.


Robby tidak ingin baby Alea nantinya tidak merasa nyaman dengan kumis dan janggut setebal itu. Atau malah bisa jadi Alea akan menjadikannya mainan baru. Robby teringat ketika rambut Max ditarik Alea dan dia tidak mau melepaskannya. Anak itu sangat menggemaskan. Keputusan Samudera untuk kembali sudah benar, karena menurutnya, obat jiwa terbaik adalah keluarga sendiri.


Samudera tersenyum kecut, "kenapa? Apa kamu fikir Venus tidak suka dengan penampilanku yang seperti ini?"


Rupanya Samudera lebih memikirkan penilaian Venus dibanding penilaian putri kecilnya. Bisa dimaklumi, Alea baru berumur seminggu saat Samudera menepi di tempat ini.


"Aku rasa Venus akan tetap menerima kamu bagaimanapun model bentukan kamu. Mau kepala kamu botak dan perut membuncit, aku rasa dia akan lebih memilih kamu karena kamu bapak dari anaknya."


"Sialan, lu!" Samudera mendorong pelan bahu Robby disusul gelak tawa diantara keduanya.


"Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa sudah siap kembali menantang dunia?" Tanya Robby sembari melempar pandangannya kepada padang hijau perkebunan sayuran milik warga sekitar.


Bentuknya yang tera sering, berundak-undak mengikuti kontur lereng, membuatnya semakin indah dipandang mata. Ditambah lagi udara sejuk yang menghalau panas matahari meski waktu sudah beranjak siang.


"Seperti yang kamu lihat, aku tidak mungkin terus-terusan bersembunyi di sini bukan?" Samudera kembali menuang teh dari teko ke dalam cangkirnya. Sedikit-sedikit saja agar bisa dinikmati tetap dalam keadaan hangat.


"Aku terlalu naif, lari dari masalah, bukannya menghadapinya secara baik-baik. Lelah juga seperti ini, apalagi ada Alea yang membutuhkan kehadiran daddynya. Aku tidak ingin kelak Alea mendapatkan kabar bahwa daddy-nya hanyalah seorang pecundang yang lemah. Dia berhak mendapati aku dalam versi terbaikku agar kelak ketika dirinya mulai mengenal laki-laki, ia punya standar dan spesifikasi tertentu saat menjatuhkan pilihannya kepada seseorang. Dan laki-laki itu tentu jauh lebih baik dari aku." Senyum masam terbit di bibir Samudera. Sebrengsek apapun dirinya di masa lalu dan di masa kini, tetap saja sebagai seorang ayah dia berharap Alea kelak mendapatkan laki-laki yang baik.


"Tentu saja, aku pun akan turut memastikan itu." Robby menerawang jauh seolah sedang melihat baby Alea kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Mungkin ia akan sangat sibuk mengawasinya kelak karena sudah menjadi takdirnya memiliki daddy seorang Samudera, Samudera yang posesif.

__ADS_1


Samudera mengayunkan tangannya di depan wajahnya seolah tidak setuju dengan ucapan Robby, "menikahlah dan urusi anakmu sendiri. Kamu sudah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengurusiku, sesekali gunakanlah waktumu untuk dirimu sendiri."


"Apakah anda sudah bosan dengan kinerja saya, pak?" Tanya Robby dalam mode serius, memposisikan dirinya sebagai bawahan dan atasan, bukan seorang sahabat atau seorang kakak kepada adiknya.


Samudera menghela nafas panjang, tampak seperti asap yang menguap keluar dari hidungnya.


"Kamu yang terbaik, Rob. Kamu tau itu. Aku hanya ingin kamu menjalani kehidupan yang normal, menikah dan memiliki anak. Aku hanya tidak ingin kamu terus terlihat seperti seorang pengasuh."


Samudera berdiri kemudian menggeser sedikit ke belakang kursi rotan yang ia duduki sebelumnya yang menimbulkan suara deritan yang cukup nyaring. Tanpa menunggu respon Robby, Samudera berjalan masuk ke dalam Villa untuk beres-beres.


Kepulangannya sudah tidak bisa ia tunda lagi, sadar bahwa yang paling ia butuhkan saat ini adalah keluarga kecilnya.


Entah bagaimana dirinya akan bersikap kepada Venus, dirinya sangat malu dan menyesal. Bertahun-tahun menyimpan dan memelihara dendam kepada orang-orang yang salah. Bahkan jika mengingat bagaimana dirinya menyakiti Venus dengan sikap dan ucapan kasarnya, rasa-rasanya ia pesimis apakah Venus akan memaafkannya nanti.


Samudera menatap wajahnya dengan seksama di cermin, tangannya terangkat untuk meraba wajahnya. Memikirkan saran Robby, dirinya memang sepertinya harus bercukur. Kalau ada orang lain yang melihatnya dengan penampilan seperti saat ini, mungkin  orang-orang akan berfikir dirinya adalah gembel bahkan bisa lebih parah, orang gila mungkin.


Bagaimana dengan Venus, memikirkan tentang istri mungilnya itu sungguh mendebarkan sekaligus membahagiakan. Ada rasa rindu yang diam-diam ia tabung saat perjumpaan nanti.


Selama ini dirinya selalu menahan diri untuk menanyakan kabar dan keadaan Venus secara langsung, rasa bersalahnya sering membuat lidahnya kelu meski hanya untuk menyebut nama ibu dari permata hatinya itu.


Fikirannya bergejelok, bercabang kepada dua kemungkinan, Venus menerima dirinya tidak peduli dengan latar belakang dan masa lalunya atau Venus akan semakin membencinya dan meninggalkannya setelah memgetahui kebenarannya.


Karena dirinya tidak lebih dari seorang anak pembunuh... pembunuh keluarga Venus.

__ADS_1


__ADS_2