
Sudah lama sekali aku tidak mendapati Venus di ruanganku saat membuatkan kopi untukku. Rasa-rasanya mungkin sudah lebih dua bulanan. Akhir-akhir ini aku memang sering datang terlambat dan juga lebih banyak mengunjungi kantor cabang.
Kalaupun bertemu dengan Venus, paling saat ada meeting saja. Selebihnya tidak. Tapi sepertinya dia sedang menghindariku. Sebenarnya sejak awal dia memang sudah lebih sering menghindariku. Alasannya sudah jelas, dia tidak menyukaiku. Tetapi itu bukan masalahku.
Pagi ini aku memutuskan datang lebih awal, sengaja kuminta Robby tidak usah berangkat bersamaku karena aku ingin membawa mobil sendiri. Aku yakin saat ini Venus masih di ruanganku.
Beberapa kali kucek kamera CCTV di dalam ruanganku secara random, aku mulai hafal jam masuknya ke kantor. Saat aku tidak masuk kantor, dia tidak pernah datang ke ruanganku.
Salah satu poin plusnya, dia tidak menggunakan kesempatan alasan membuat kopi untuk mendekatiku atau sok berkuasa karena merasa dekat dengan atasannya.
Di zaman suburnya penjilat demi mencari kesenangan dan ingin dikatakan orang terpandang, Venus memilih jalan yang berbeda. Dia merangkak naik menapaki tangga satu demi satu untuk sampai pada posisinya sekarang ini.
Aku mendorong pintu yang tidak tertutup rapat. Kudapati Venus sedang berdiri dengan punggung sedikit menunduk menatap layar komputer di atas meja kerjaku.
"Apa yang dia lakukan di situ?" Tanyaku dalam hati.
Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku sehingga aktifitasnya sama sekali tidak terganggu.
Aku mendekatinya.
Alangkah terkejutnya aku ketika melihat progress file yang dia pindahkan ke sebuah flashdisk yang tertancap di sana.
Emosiku memuncak, ingin rasanya kuhancurkan dirinya saat itu juga namun akal sehatku masih tertinggal sedikit.
Aku tidak boleh menghancurkannya sebelum tahu apa motifnya melakukan itu. Karena bisa saja dia bekerja sama dengan orang lain.
Dan kemungkinan lainnya, bisa saja dia hanyalah pion di sini sementara rajanya masih bersembunyi.
Setelah melampiaskan kemarahanku padanya dengan mengurungnya di kamar mandi dengan kedua tangan dan kaki terikat, tubuhnya kurendam dengan air bersuhu dingin. Ini sudah tiga jam berlalu. Aku tidak tahu bagaimana kondisinya saat ini. Sungguh, aku enggan melihatnya. Terserah, kalau mau mati, mati saja sekalian.
Namun nuraniku seolah memberontak. Sudah satu bungkus rokok menemaniku di balkon ruangan kerjaku ini selama meninggalkan Venus di dalam kamar mandi.
Kuambil ponsel yang ada di dalam sakuku, "Robby, aku mau dalam 30 menit kamu kosongkan kantor saat ini juga."
Tidak menunggu jawaban Robby, aku langsung memutus sambungan teleponku.
Aku ingin membawa Venus keluar dari sini, tapi itu tidak mungkin kulakukan sekarang karena masih jam kerja. Aku tidak ingin membuat kehebohan, apalagi dengan kondisi Venus saat ini yang kuyakin pasti sudah pucat karena kedinginan.
__ADS_1
Kubuang puntung terakhir rokokku kemudian kuinjak dengan ujung sepatu.
Aku kembali ke kamar mandi mengecek kondisi Venus.
"Merepotkan saja!" Umpatku.
Aku membuka kunci pintu kamar mandi dan kulihat Venus malah tertidur di sana.
Kurang ajar banget! Bisa-bisanya dia tertidur disaat seperti ini.
"Hei.. bangun!!! Enak saja kamu tiduran di sini." Hardikku berharap dia segera bangun.
Tidak ada respon.
"Hei.. bangun!" Aku mengguncang pelan pundaknya. Masih tidak ada respon.
Kutoyor kepalanya yang bersandar di pinggiran bathtup, tubuhnya malah melorot masuk sepenuhnya ke dalam bathtup.
"Sial..."
Kubuka ikatan tangan dan kakinya. Karena panik, entah mengapa membuka simpul ikatannya terasa sangat sulit.
"Sial..sial.. apa yang aku lakukan padanya?" Aku merutuki kebodohanku.
Tanpa berfikir panjang, segera kulepas semua pakaiannya dan menggantinya dengan pakaianku yang ada di lemari.
Meski aku semakin panik, sialnya aku tidak bisa menjaga mataku dari menikmati pemandangan indah yang selama ini berusaha kutolak dan kuhina. Dia sangat indah!
Segera kualihkan wajahku, Venus akan mengamuk jika tahu apa yang kulakukan saat ini kepadanya. Tapi, apa peduliku? Untuk apa aku memikirkan pengkhianat sepertinya?
Benar-benar merepotkan! Aku harus memindahkannya dulu ke sofa setelah memakaikan pakaian kepadanya kemudian mengganti seprei karena sudah basah setelah itu aku kembali memindahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Sementara menunggu dokter datang memeriksanya, aku mondar-mandir seperti setrikaan memikirkan keadaan Venus. Bagaimana kalau dia mati sekarang?
Aku memang kejam, aku tidak segan menggunakan kekerasan kepada orang yang sudah mengganggu dan merugikan hidupku, tapi aku tidak pernah punya niat untuk membunuh.
"Bagaimana keadaannya?" Tanyaku kepada dokter Febby yang tidak lain adalah adik sepupuku sendiri.
__ADS_1
"Kak Sam apakan dia? Kenapa bisa sampai begini?" Tanyanya menatapku kesal.
Aku hanya mengedikkan bahu karena enggan menjawab pertanyaannya.
"Kita harus segera bawa dia ke rumah sakit, aku tidak yakin dia bisa bertahan kalau tidak ditangani dengan benar!" Ucapnya lagi sambil buru-buru merapikan alat kesehatannya.
"Ayok kak, tunggu apa lagi?"
"Tapi dia belum sadar, bagaimana caranya jalan ke bawah?"
"Yaa kak Sam gendonglah, atau aku panggilkan satpam?"
"Ini aku gendong." Ucapku cepat kembali membopong tubuh Venus.
Robby sudah berdiri di samping mobil dengan pintu sudah terbuka. Aku segera masuk dengan Venus yang masih kugendong di pangkuanku.
Febby menyusul masuk diikuti Robby di kursi kemudi. Robby segera memacu mobil dengan sangat cepat.
Aku tidak bisa tenang, bagaimanapun ada sedikit rasa bersalah menyusup di lubuk hatiku.
Apa aku terlalu kasar kepadanya?
Tapi bukankah ini belum sepadan dengan apa yang dirinya lakukan?
Ini tentang rahasian perusahaan dimana hanya aku yang boleh mengetahuinya.
Salahku, kenapa juga aku seperti tertarik kepadanya sejak awal baru mengetahui namanya. Ini gara-gara ingatan masa kecilku yang hingga detik ini belum kembali. Entah kenapa aku merasa dia adalah salah satu bagian masa kecilku sehingga berbagai cara kulakukan untuk membuat dirinya terlibat denganku. Termasuk merubah isi kontrak kerjanya itu.
Jarak dari kantor ke rumah sakit tidak terlalu jauh, tapi dalam suasana genting seperti ini justru terasa sangat jauh.
"Kenapa kamu lambat sekali nyetirnya, Rob?" Tanyaku tidak sabaran.
"Ini juga sudah kencang kak." Robby tidak menanggapi, justru Febby yang menjawab pertanyaanku. "Memangnya dia salah apa sampai kak Sam bikin anak orang pingsan? Kalau dia tidak mau melayani kakak jangan dipaksa, macam tidak ada gadis lain saja." Kesal Febby masih tidak berhenti mengomel kepadaku.
Dia tidak tahu saja apa yang sudah dilakukan Venus. Tapi aku sudah tidak berminat membela diri dengan mengatakan alasan yang sebenarnya. Cukup aku dan Robby yang tahu.
"Apa sudah kamu ambil apa yang aku perintahkan tadi, Rob?" Tanyaku kepada Robby setelah mengingat pesanku kepadanya untuk mengamankan ponsel Venus. Termasuk memerintahkan orang kepercayaanku menggeledah apartemen Venus.
__ADS_1