
Venus menggeliat ketika merasakan ada yang membelai wajahnya. Saat membuka matanya, siapa lagi yang pertama dilihatnya kalau bukan Samudera.
Ah, seharusnya Venus sadar dan mulai terbiasa memandang wajah Samudera dari bangun tidur hingga tidur lagi. Entah kapan semua ini akan berlangsung, namun jauh di dasar hatinya yang paling dalam, Venus benar-benar semua ini segera berakhir agar mereka bisa menjalani dan mencari kebahagiaan masing-masing. Daripada terus bersama tetapi tidak ada cinta dan kebahagiaan di dalamnya.
Samudera tidak menghentikan aktifitas tangannya ketika melihat Venus menatapnya penuh permusuhan.
"Selamat siang, istri!" Sapa Samudera menggoda Venus namun tetap dengan mode muka datarnya.
Setelah melakukan aktifitas panas tadi pagi, mereka berdua melanjutkannya dengan aktifitas tidur.
"Aku membencimu!" Balas Venus jengah. Tangannya menarik selimut yang menutupi tubuh telanjangnya hendak menuju kamar mandi.
Tawa Samudera pecah seketika. Ia fikir Venus sudah luluh dan menyerah dengan pesonanya.
"Bencilah laki-laki ini yang namanya akan terus kamu teriakkan saat berada di puncak kenikmatan dunia, sayang!" Ucap Samudera mengikuti langkah Venus masuk ke kamar mandi.
"Isssshhh.. Kamu ngapain sih ikut-ikut ke sini?" Venus benar-benar jengkel dibuat Samudera. Ia benar-benar sangat malu saat ini. Rasa-rasanya ia sudah tidak punya muka lagi. Dan Samudera begitu menikmati ekspresi Venus yang terlihat sangat menggemaskan saat malu-malu meong seperti ini.
"Yaa mandilah.. memangnya hanya kamu yang mau mandi?" Jawab Samudera acuh, ia memutar kran air untuk mengisi bathup. Tubuhnya terasa sedikit pegal dan lengket.
Venus mengencangkan balutan selimut yang masih melekat menutupi tubuhnya. Ia sibuk berfikir bagaimana caranya agar tidak ada lagi reka ulang kegiatan mandi bersama dengan suami mesumnya itu.
Sembari menunggu bathup penuh, Samudera memusatkan perhatiannya kepada Venus yang jelas terlihat gelisah.
Samudera berjongkok di sisi bathup, memeriksa suhu air yang diinginkannya, tangannya meraih bubble bath kemudian ia tuang secukupnya ke dalam bathup. Seketika aroma jeruk, geranium serta marjoram menguar menyegarkan udara di dalam kamar mandi.
"Ayo masuk." Perintah Samudera saat melirik Venus.
Venus menggeleng dan malah semakin mengeratkan pegangan tangannya di selimut.
"Masuk dengan sukarela atau aku paksa?" Tegasnya tidak ingin dibantah.
Venus menghentakkan kakinya tetapi akhirnya melepas selimutnya lalu ikut bergabung ke dalam bathup bersama Samudera.
"Kamu pemaksa banget, aku enggak suka, benci tau." Ucap Venus kesal memilih duduk di sudut berlawanan dengan suaminya.
__ADS_1
"Kamu makin ke sini makin hafal sifatku, aku suka itu."
Begitulah Samudera, omelan dan umpatan Venus hanyalah angin lalu baginya. Karena yang terpenting baginya adalah Venus yang penurut.
"
"
Setidaknya, Venus butuh waktu selama tiga hari untuk mengistirahatkan dan memulihkan tubuhnya setelah Samudera terus-terusan meminta haknya sebagai suami.
Dan bukan Samudera namanya jika lagi-lagi tidak menghancurkan harga dirinya sebagai seorang perempuan dan juga sebagai seorang istri.
Venus tidak masalah kalau Samudera membencinya, toh dirinya juga membenci Samudera. Tetapi membayar jasanya setelah memenuhi kewajibannya sebagai istri sungguh sangat melukai harga dirinya.
Samudera memperlakukannya serupa perempuan penjaja **** di luar sana.
Mau tidak mau, rela tidak rela, Venus terpaksa menerima semua perlakuan buruk Samudera tersebut.
Namun satu hal yang membuatnya sedikit bernafas lega, Samudera mengizinkan dia untuk kembali bekerja dengan berbagai catatan dan ancaman. Venus tidak bisa berbuat apa-apa, nasib bunda Aisyah taruhannya jika ia mencoba melanggar.
Melanjutkan hobby masak dan semangatnya nge-baking, mengeksekusi semua resep yang sekiranya masuk di akalnya dari aplikasi merah dan akhirnya ketemu chef yang menjadi rujukannya, chef Devina Hermawan. Selain karena cantik dan keibuan, resep-resep yang dibagikan di kanalnya memang anti gagal semuanya. Sepanjang Venus mengeksekusi beberapa resep miliknya, belum ada satu pun yang membuatnya kecewa dan yang pasti semuanya bisa dimakan. Terutama duo cecunguk Max dan Alex.
Bagi Venus, selama masakannya bisa diterima perut duo cecunguk itu, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa masakannya dinyatakan berhasil.
Kali ini, Venus sedang membuat tortilla Skin. Masalahnya, memipihkan adonan memakai roller adonan itu ternyata melelahkan dan penuh perjuangan.
Tidak tega jika meminta bantuan bu Wati meski beliau bersedia, tatapan Venus sekarang menunjuk wajah Max.
Seolah mengerti tatapan itu, Max menunjuk dadanya sebagai konfirmasi juga membulatkan tatapan matanya.
Venus mengangguk kemudian menyerahkan roller adonan itu ke tangan Max.
"Non Venus yakin?" Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lakukan saja, jangan banyak garuk-garuk kepala, aku tidak mau yah adonannya bukannya ditaburi tepung tapi malah ketombe kamu." Ucap Venus memberi tempat kepada Max di depan meja di sisi kompor yang khusus digunakan untuk menggilas adonan.
__ADS_1
Keringat sebesar biji jagung sudah memenuhi sisi wajah Max, namun belum satu adonan pun yang lolos Quality Control versi Venus.
"Ini terlalu tebal, Max...
"Ini kok robek di bagian tengahnya?
"Kenapa gak bulet sih bikinnya?"
Venus terus mengeluh karena belum memenuhi syarat ketebalan dan bulatan tortilla skin yang diinginkannya.
Setelah banyak percobaan, lama-kelamaan hasilnya mulai tidak mengecewakan. Max dan Venus tampak semangat menyelesaikan gilasan adonan yang masih tersisa.
Totalnya ada empat belas adonan yang berhasil mereka bikin. Max yang menggilas adonannya sementara Venus yang memanggangnya dengan api kecil.
"Akhirnya..." Max menghempaskan bokongnya di atas kursi di meja mini bar dekat dapur. Sungguh ini pekerjaan yang melelahkan. Belum lagi tubuhnya yang dibasahi keringat dan dipenuhi tepung. Sungguh perpaduan yang sempurna.
"Thanks, Max! Kapan-kapan kita bikin lagi sekalian 2 kilo tepung biar sekalian ada stock di freezer." Venus sangat bahagia dengan semua kerja keras Max.
Max menelan salivanya kasar, yang benar saja. Lebih baik dia disuruh mengeringkan laut pake tissue daripada menggilas adonan lagi.
"Ampun non, enggak lagi. Sumpah, aku angkat tangan. Ini sangat melelahkan, belum lagi kena omel sepanjang waktu." Tolak Max tanpa tedeng aling.
"Yaaaah.. padahal kamu udah suhu dalam urusan gilas menggilas adonan. Iya kan, Alex?" Tanya Venus mengalihkan atensinya kepada Alex yang sedari tadi seolah mensyukuri kondisi Max.
Alex mengangkat kedua jempolnya ke atas, "betul Non, Max paling jago, udah suhu dia, kita-kita mah cupu semua kalau Max yang dilawan."
Pletak...
Roller adonan melayang ke arah Alex namun gerak refleks Alex patut diacungi jempol karena berhasil menghindar. Bukan Venus pelakunya, tetapi Max.
"Max... "
Itu bukan teriakan Venus atau Alex, tetapi...
Seketika Max, Alex dan Venus menegang. Matilah mereka...
__ADS_1