
Bagi Venus, penting untuk tahu latar belakang dan karakter dari semua orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Oleh karena itu, Venus butuh waktu membaca satu-satu biodata dari 11 orang yang berada di departemennya. Selain untuk bekerja menghidupi dirinya sendiri, kedatangan Venus di perusahaan ini jelas menyandang misi penting demi ketenangan dan keamanan dirinya di masa depan dan juga ketenangan kedua orang tuanya di alam kubur.
Ia tidak boleh gegabah, semua harus tampak senatural mungkin sebagaimana beberapa tahun sebelumnya ia membangun karir dari bawah di kantor cabang.
Bagaimanapun, kedepannya Venus harus mencari sekutu dan orang-orang yang bisa diandalkannya untuk membantunya mengungkap kebenaran yang masih tertutupi.
Mungkin akan butuh yang cukup lama, tapi Venus akan bersabar menunggunya.
Tok tok tok...
"Masuk!" Ujar Venus setelah mendengar beberapa kali ketukan pintu ruangannya. Sedikit kesal karena dia fikir itu adalah Muthia yang sedari awal selalu nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu.
"Selamat pagi ibu Venus, saya Robby asisten pak Samudera." Ucap pria berotot besar yang masuk ke ruangannya dengan wajah cukup sangar menurut pengamatan Venus.
"Oh..iya pak. Silhkan duduk!" Ucap Venus menyambut dengan wajah ramah.
Venus merasa sedikit terintimidasi, belum apa-apa sudah dikirimkan tukang pukul untuk menyambutnya dari sang pemilik perusahaan.
"Terima kasih, saya hanya datang menyampaikan pesan pak Samudera agar ibu Venus datang menghadap beliau setelah jam istirahat nanti. Itu saja, permisi!"
Tanpa menunggu jawaban Venus yang tampak bengong, Robby segera berbalik meninggalkan ruangan Venus.
"Hanya itu!" Gumam Venus mengakhiri keterkejutannya menghadapi sang asisten bos besar yang sudah ia lupa siapa namanya tadi.
"Asisten saja kaku seperti roti kering gitu, gimana bosnya?" Venus berdecak, dia tidak habis fikir dengan kenyataan yang baru dilihatnya. Sekelas asisten, tapi bossy banget.
"Pak Robby ngomong apa?"
"Ah.. bikin kaget aja!" Belum hilang keterkejutan Venus menghadapi Robby, sekarang tiba-tiba Muthia datang entah kapan masuknya berniat kepo.
"Katanya disuruh ke blue ocean habis jam istirahat nanti." Ucap Venus mengangkat kedua bahunya.
"Wow.. selamat!" Ucap Muthia dengan senyum lebar. "Tenang aja, orangnya ganteng kok. Ganteng banget malah, masih single pula, cuman itu, sombongnya minta ampun. Orang seperti kita ini hanya seperti butiran biskuit di matanya."
"Mau butiran biskuit kek, butiran tepung kek atau apa, itu bukan urusan kita, lagian kita di sini buat cari uang, bukan buat cari perhatiannya."
__ADS_1
Prok prok prok...
Muthia tidak bisa menahan tangannya untuk tidak bertepuk.
"Kamu belum lihat aja tampangnya, Ve. Dia adalah defenisi dari ketampanan yang hakiki." Ucap Muthia memuja.
"Aku gak suka cowok ganteng, for your information. Nanti bikin sakit hati, banyak fansnya pasti, bikin hati juga tidak tenang kalau lagi jauhan. Bawaannya pasti nethink terus. Capek deh.."
"Yakin gak suka cowok ganteng? Mau sama cowok jelek?" Tantang Muthia.
"Yah jangan juga jelek-jelek amatlah.. tapi bagi aku, tampang jelek itu bisa terampuni dengan akhlak baik dan luasnya pengetahuan seseorang. Kalau ganteng doang, tapi akhlak minus, otak dibawah standar, dapat serunya di bagian mananya kira-kira?"
"Tapi pak Sam beda, Ve. Gantengnya itu gak ngebosanin, cerdas udah pasti, makanya perusahaan ini bisa semaju sekarang, bentuk tubuhnya pelukable banget. Terlepas sikap arrogant dan sombongnya itu, tapi kan kita tidak tau sifat aslinya bagaimana, bisa jadi kan dia akan bersikap hangat kepada orang-orang yang dia sayangi." Bela Muthia.
"Iya..iya.. pak Sam yang paling ganteng dan terbaik se samudera pasifik dan atlantik. Puas?"
"Apaan sih, Ve? Kok sensitif banget? Udah ah, aku lanjut kerja dulu."
"Nah..itu, kerja..kerja..kerja..!" Venus ngedumel sendiri menyikapi Muthia yang begitu memuja Sam.
"
"
"Ekkhhmmm..." Venus sengaja berdehem kuat agar semua yang ada di ruangan tersebut fokus kepadanya.
Sebenarnya, tanpa diberi kode deheman pun, pada dasarnya orang-orang di ruangan tersebut sudah teralihkan perhatiannya dengan suara derit pintu yang berasal dari ruangan Venus.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Venus dengan sesikit membungkukkan badan.
"Selamat pagi bu!" Jawab mereka secara serentak.
"Perkenalkan, saya Venus, saya yang akan melanjutkan pekerjaan pak Adam yang sebelumnya kepala departemen perencanaan di sini, salam kenal dan mohon kerjasamanya dan juga bantuannya selama saya bekerja di sini. Saya tidak punya acara khusus sebagai tanda perkenalan kita akan tetapi kedepannya silahkan datangi saya jika ada yang terkait dengan pekerjaan. Terima kasih." Ucap Venus tegas dengan pandangan menyapu semua yang ada di ruangan tersebut.
"Maaf, sepertinya kurang 1 orang?" Tanya Venus melihat 1 meja yang kosong.
"Itu..lagi ke toilet, bu!" Jawab salah seorang laki-laki yang berada di dekat meja kosong tadi.
__ADS_1
"Baik, bapak namanya siapa?"
"Irawan, bu."
"Salam kenal pak Irawan." Ucap Venus kemudian berjalan ke arah karyawan yang paling dekat dengannya.
Venus menjulurkan tangan.
"Saya Sita, bu."
Dan seterusnya Venus menghampiri satu-satu orang-orang yang akan bekerja di bawah tanggung jawabnya. Dia menolak ketika ada yang berniat datang menghampirinya.
Tentu ini adalah salah satu cara Venus mengenal lebih dekat orang-orang tersebut. Mulai dari meneliti barang-barang yang terletak di atas meja mereka, apa yang saat ini terlihat dari screen komputernya, seberantakan atau serapi apa atau mungkin bisa saja dia menemukan sesuatu yang aneh di sana.
"Baik, salam kenal semuanya." Ucapnya sekali lagi kepada semua yang ada di dalam ruangan.
Venus kembali menghampiri Muthia karena ingin pamit ke toilet.
Sesampainya di toilet, di sana sudah ada dua perempuan yang usianya tidak terlalu jauh darinya. Ada yang memperbaiki make upnya dan ada juga yang sedang mencuci tangan. Mereka tampak sangat akrab dan larut dalam perbincangan mereka.
Venus sedikit menyunggingkan senyumnya ketika salah satu dari mereka bertemu tatap dengannya lewat kaca, tanpa basa basi Venus melanjutkan langkahnya membuka salah satu bilik di ruangan tersebut.
"Udah kenal atasan baru lo blum, kak Vi?"
"Belum, orangnya ngadem terus di ruangannya sejak tadi pagi." Jawab salah seorang yang dipanggil kak Vi tadi.
"Cewek? Cowok? Bapak-bapak atau ibu-ibu?"
"Denger-denger sih masih cewek, cuman gak tau juga, belum pasti."
"Wah.. kalau masih cewek berarti saingan kamu nambah dong buat deketin pak Sam."
"Gue kagak ngaruh kali, Er. Udah..ah, gue mau balik ke ruangan dulu, dicariin bos baru bisa tamat riwayat gue kalo sampe dapat bos emak-emak pms."
"Keder juga lo kak Vi, kirain lo gak ada takut-takutnya sama atasan lo."
"Ya bedalah, Er. Yang ini kan cewek, psikologinya beda, perempuan itu lebih suka bersaing pake perasaan pula, gak pake otak. Gue masih sayang kerjaan gue, gue juga masih mau lihat wajah pak Sam."
__ADS_1
Kedua perempuan itu pun terkikik hingga suara mereka hilang setelah pintu toilet tertutup.
Venus kembali tersenyum mengingat potongan-potongan percakapan mereka tadi. Ternyata benar, Sam punya banyak fans.