
Kupegang pundak Venus, kudorong tubuhnya hingga terpojok di dinding. Kurangkum dagunya dengan telapak tanganku kuat-kuat lalu kukakatakan padanya,
"Sekarang kamu pilih, menjadi budak nafsuku yang sah secara agama yang kamu anut dan hukum negara atau menjadi jalangku sampai aku bosan dan melepaskanmu?"
Cuih... satu lepehan air liurnya meluncur bebas ke wajahku membuatku benar-benar murka tetapi masih berusaha kuredam.
"Aku sangat membencimu hingga ke tulang-tulang, aku tidak akan pernah sudi menikah dengan laki-laki bajingan sepertimu!"
Ternyata dia masih belum menyerah, malah semakin menantangku. Tatapan matanya sungguh menggambarkan kebencian yang begitu nyata.
Kutarik tubuhnya kemudian kuhempaskan hingga dia terjatuh di lantai.
"Bawa dia ke kamar, pastikan penjagaan di rumah ini diperketat dan jangan biarkan dia kabur!" Perintahku kepada dua orang bodyguard yang sejak awal menjaga Venus di rumah sakit.
Alex dan Max adalah saudara kembar yang direkrut Robby untuk menjadi bodyguard Samudera sejak satu tahun yang lalu. Mereka juga adalah mantan anggota TNI yang terkena masalah indisipliner dan pada akhirnya memilih mundur.
Suatu hari mereka bertemu Robby di salah satu site di Kalimantan dan akhirnya mereka dibawa langsung oleh Robby ke Jakarta.
Para pengawal itu pun menyeret Venus ke lantai atas dimana di situ sudah disiapkan sebuah kamar khusus untuknya.
Apalah daya Venus, mau sekuat tenaga apapun dirinya melawan, tetap saja bukan masalah bagi Alex dan Max.
Tentu Alex dan Max tidak akan menyakiti Venus, bukan hanya pekerjaan, bahkan nyawa mereka akan menjadi taruhannya kalau sampai Venus lecet sedikit.
"Lepasin!!! Aku bisa jalan sendiri." Venus menggertak kedua pengawal itu yang mengangkatnya seperti anak kecil.
Max di lengan kanannya sementara Alex di lengan kiri. Tinggi badan mereka yang hampir mencapai 190 cm sedang Venus hanya setinggi 155 cm menjadikan dirinya tampak seperti kurcaci yang merengek dibebaskan oleh terkaman raksasa. Kedua kaki Venus bahkan sampai melayang berusaha menggapai-gapai lantai.
Tubuh Venus akhirnya mendarat sempurna di atas kasur setelah dilepas oleh Alex dan Max.
"Kami tidak akan menyakiti nona kalau tidak melawan atau mencoba kabur, kami orang baik kok." Ucap Max tersenyum memamerkan gigi-giginya yang putih.
"Kalau kalian orang baik, mana mungkin menculik saya ke sini?" Sewot Venus yang mulai merasa frustasi.
__ADS_1
"Itu perintah atasan, sebagai bawahan yang baik, tentu harus patuh." Giliran Alex yang mencoba memberi Venus pemahaman.
"Atasan sama bawahan sama saja, sama-sama sinting!" Umpat Venus.
Alex dan Max hanya bisa berdecak dan menggeleng melihat Venus yang begitu saja mengumpat mereka beserta atasannya.
"Kami permisi nona, jika butuh sesuatu, tekan saja tombol merah yang ada di sisi kiri ranjangnya. Nanti akan ada pelayan perempuan yang akan memenuhi keperluan nona selama berada di sini."
Karena tidak ada tanggapan dari Venus, akhirnya mereka berdua memilih meninggalkan Venus.
"Oh yah, nama saya Max dan rekan saya ini namanya Alex." Ucap Max sesaat sebelum menutup pintu kamar Venus.
Venus mendesah kasar dan *******-***** sebuah bantal ke dalam genggamannya. Ia kemudian berjalan mondar-mandir demi mencari celah yang memungkinkan dirinya untuk kabur.
Merasa frustasi, namun kepalanya belum mau berhenti memikirkan cara untuk bebas dari sini. Sesekali Venus memainkan tangannya pada daun pintu berharap dua laki-laki yang membawanya tadi ke sini khilaf dan tidak mengunci pintu. Tapi semua sia-sia.
Venus menghempaskan seluruh bobot tubuhnya ke atas tempat tidur, bukan kepalanya yang ada di atas bantal, akan tetapi bantallah yang sekarang menutupi wajahnya.
Ini gila, Venus tidak bisa membayangkan jikalau Samudera benar-benar menikahinya. Bagaimana bisa? Menikah dengan Samudera ibarat mempercepat datangnya siksa neraka kepadanya. Venus masih ingin hidup tenang, ingin punya rumah tangga normal layaknya pasangan lain pada umumnya.
"10 menit 30 detik!" Tiba-tiba sebuah suara menjeda tangis Venus. "Sudah 10 menit aku di sini dan kamu belum juga berhenti menangis! Apa kamu tidak capek? Telingaku saja pening mendengar suara jelekmu itu." Omel Samudera tidak menghiraukan keterkejutan Venus melihatnya.
"Kalau tidak suka kenapa didengerin?" Bentak Venus sambil melayangkan pukulan dengan bantal ke wajah Samudera. Ia tidak tahu sejak kapan Samudera masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya seperti saat ini.
"Kamu yah...!" Sam mengetatkan rahangnya menangkap bantal yang dipegang Venus beralih ke dalam penguasannya.
"Apa? Mau marah? Mau pukul aku? Kenapa tidak bunuh aku saja sekalian?"
Ucapan Venus kini betul-betul terdengar lirih di telinga Samudera, sedikit ada rasa iba mencubit hatinya namun ia kembali tersadar, ia tidak boleh lemah melihat air mata perempuan yang ada di hadapannya itu.
"Kau tidak boleh mati tanpa seizinku, kau harus merasakan penderitaan yang pernah aku rasakan!"
Venus memicingkan matanya, apa maksud Samudera?
__ADS_1
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu mulai mengingat sesuatu, baby Ve!" Samudera sengaja menyebut nama kesayangan Venus saat masih kecil dulu.
Venus melebarkan kedua matanya, kedua tangannya membungkam mulutnya sendiri, ia bergerak mundur namun sudah tertahan kepala tempat tidurnya.
"Ka..kamu?"
"Yaa.. kenapa? Kaget? Apa kamu fikir aku tidak mengenali kamu sejak awal? Kontrak itu, ya.. itu karena itu kamu, baby Ve!"
"Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini? Aku minta maaf kalau aku sudah memukul kamu saat itu, aku tidak bermaksud melukaimu, sungguh... aku benar-benar tidak sengaja melakukannya." Venus menangkup kedua tangannya di dadanya, memohon maaf atas perbuatannya di masa lalu.
Prok prok prok...
Samudera bertepuk tangan namun wajahnya begitu mengetat menatap nyalang kepada wajah tak berdaya Venus.
"Kenapa baru meminta maaf sekarang? Kamu kemana saja selama ini menghilang?"
Tubuh Venus bergetar mendengar suara Samudera yang meninggi bergema di dalam ruangan ini.
"Aku sudah berusaha meminta maaf, tapi ibumu mengusir kami. Tidak lama setelah itu kedua orang tuaku mengalami kecelakaan dan aku dibawa pergi jauh dari sini. Aku.. aku benar-benar minta maaf."
Ini informasi yang baru di dengar Samudera, selama ini ia berfikir tidak ada itikad baik dari keluarga Venus untuk meminta maaf kepadanya dan ibunya tidak pernah membahas masalah ini kepadanya. Samudera tidak bisa percaya begitu saja.
Samudera mendekati Venus kemudian mencengkeram kedua pundak Venus dengan tangan kokohnya
"Kamu jangan coba-coba menjelek-jelekkan ibuku karena ibumu sang perempuan penggoda itu tidak lebih baik dari ibuku sialan!!!" Suara Samudera bergetar menahan amarahnya.
Venus memgepalkan kedua tangannya, ia membalas tatapan Samudera yang tak kalah nyalang dengannya.
"Kamu boleh merendahkan aku, tapi tidak ibuku bajingan sialan!"
"Kenapa? Tidak terima? Ibumu yang selalu menggoda ayahku membuat ibuku selalu menangis sepanjang waktu melihat suaminya mencintai perempuan lain, perempuan yang sudah menikah dengan sahabatnya sendiri--" Samudera menyunggingkan senyum devil, "luar biasa sekali ibumu itu, saat ia sudah menikah dengan ayahmu, tetapi dia tidak juga melepaskan ayahku!" Sarkas Samudera.
Venus menggeleng..
__ADS_1
"Itu tidak benar. Ibuku tidak seperti itu. Ibu dan ayahku saling mencintai, ayahmulah yang tidak bisa melupakan ibuku. Maka, salahkan ayahmu dan salahkan ibumu yang tidak bisa membuat ayahmu jatuh cinta kepadanya!"
Ya, Venus pernah mendengar kisah orang tuanya dan orang tua Samudera oleh bunda Aisyah.