
Pagi sekali Venus sudah bangun untuk menyiapkan semua keperluannya di kantor nanti. Mulai dari beres-beres lalu menyiapkan sarapan dan juga bekal untuk makan siangnya.
Venus begitu antusias melihat isi kulkasnya yang masih terisi penuh dengan bahan-bahan makanan, sayang jika tidak diolah. Bukannya Venus tipe orang pelit dalam hal makanan, dia hanya berusaha menjaga pola makannya dan makan menu makanan yang disukainya.
Di kantin kantor memang menyediakan makanan sehat, namun kebetulan kemarin menu yang tersedia bukan seleranya karena itu dia meminta Muthia pesan makanan dari luar.
Setelah memastikan semuanya sudah beres, tidak ada yang tertinggal, kompor sudah dimatikan, tidak ada keran air yang terbuka, pendingin ruangan sudah mati dan lampu sudah dipadamkan semua, Venus pun bergegas berangkat ke kantor.
Dia akan memulai mengerjakan hukumannya membuat kopi untuk Samudera. Bukan tanpa alasan Venus tidak menolak hukumannya, karena itu berarti dia akan memiliki akses masuk ke ruangan Sam di pagi hari. Waktu paling aman dimana bisa digunakan untuk mencari apapun di ruangan Sam yang mungkin bisa menjadi petunjuk baginya.
Saat hendak menuju tempat mobilnya terparkir di basement apartemen, kembali dia bertemu lagi dengan laki-laki yang kemarin kecelakaan sepeda.
"Eh..ketemu lagi kita mba!" Sapa laki-laki itu ramah.
"Iya mas!" Jawab Venus dengan sedikit senyum tanpa menghentikan langkahnya menuju mobilnya.
Laki-laki itu berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Venus.
"Kenalkan, saya Bintang."
Venus menoleh sedikit mendongak menatap wajah laki-laki yang mengaku namanya Bintang itu.
"Venus!" Ucap Venus singkat namun tetap dengan senyum manisnya.
Venus menekan remot mobilnya sehingga mengeluarkan bunyi bip bip di sana.
"Saya duluan yah mas, lagi buru-buru ini." Pamit Venus menoleh sebentar ke Bintang kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya.
Bintang hanya bisa menggosok tengkuknya, sedikit malu karena mengajak Venus kenalan di waktu yang tidak tepat. Padahal Bintang sudah sangat pede saat melihat Venus tadi mengingat sikap ramah Venus kemarin kepadanya. Menurutnya, Venus adalah tipe perempuan yang ramah dan mudah diajak berteman.
Bintang menatap mobil Venus hingga menghilang dari jangkauan penglihatannya, ia kemudian menuju motornya, kali ini ia akan memakai motor karena sepedanya masih di bengkel.
Setibanya di kantor, Venus menyapa dua orang resepsionis yang sudah standby di meja kerjanya yang cukup panjang namun tampak begitu elegan.
__ADS_1
"Selamat pagi mba," sapa Venus ramah.
"Selamat pagi ibu Venus." Ucap serentak kedua resepsionis tersebut membalas sapaan Venus.
Venus hanya melempar senyum dan sedikit menggukkan kepala kepada beberapa orang yang ditemuinya di lobby dan sepanjang jalan menuju lift.
"Siapa? Baru yah?" Tanya seorang pria yang tadi berdiri di depan meja resepsionis kepada salah satu resepsionis di sana.
"Ibu Venus, pengganti pak Adam." Jawab Nada.
"Masih muda yah, cantik pula." Ucap pria itu antusias.
"Woi... ingat pacar, mata itu dijaga. Lihat yang cantik dikit sudah jelalatan." Giliran Kiara rekan Nada yang mengomentari dengan sinis.
"Yah..kali aja rezeki aku." Tawa pria itu pun bergema kemudian melangkah pergi meninggalkan meja resepsionis.
Nada dan Kiara hanya bisa menggelengkan kepala.
"
Venus memasuki ruangan Sam setelah berbicara dengan office boy yang bertanggung jawab membersihkan dan menyiapkan kopinya.
Tentu Venus membutuhkan arahan dari sang OB tersebut mengingat Venus belum tahu selera Kopi yang disukai Sam.
Sebenarnya, kalau mau jahat, Venus bisa saja tidak peduli dengan selera Sam. Hanya saja dia tidak ingin membuat masalah lagi dengannya. Belum lagi dirinya belum tahu sampai kapan batas waktu hukumannya berlaku.
Anggap saja keihklasannnya menjadi pembuat kopi untuk Sam sebagai penebus dosanya di masa lalu. Meski demikian, Venus masih tidak terima dengan kata-katanya yang merendahkannya.
Venus memang bukan seorang alim yang setiap kata dan perilakunya sudah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pengetahuan agamanya sangat minim, dia bukanlah jebolan pesantren atau sekolah berbasis agama. Akan tetapi, baginya menutup aurat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.
Tidak semua perempuan yang menutup aurat itu baik perilaku dan baik ilmunya, namun bisa dipastikan bahwa perempuan yang berusaha menutup auratnya adalah orang-orang yang ingin berubah menjadi lebih baik lagi.
Venus juga bukanlah hijaber yang sudah sempurna cara menutup auratnya. Ia masih lebih sering memakai celana meski longgar, ia juga masih biasa bersentuhan dengan lawan jenis saat berjabat tangan. Venus belum sebaik itu.
__ADS_1
Beruntung bagi Venus, alat coffee makernya ada di dalam ruang kerja Samudera. Tidak butuh waktu lama untuk meracik dan menghidangkan kopinya di atas meja kerja Samudera.
Venus tersenyum sendiri, ia merasa bangga bisa menyelesaikan tugas pertamanya dari Samudera. Masih ada sedikit waktu sebelum jam kerja dimulai. Tanda-tada kedatangan Samudera juga belum ada. Venus tidak ingin membuang-buang kesempatan.
Tidak ingin gegabah, Venus hanya menggunakan matanya untuk bekerja saat ini. Tidak tertutup kemungkinan ada kamera tersembunyi yang mengintai siapa saja di dalam ruangan ini.
Sengaja Venus memusatkan perhatiannya pada kopi, padahal sudut matanya menelisik ke segala panjang kali lebar meja kerja Samudera. Venus ingin memastikan, apakah ada celah baginya jika besok-besok memungkinkan dirinya meretas komputer Samudera.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tiba-tiba saja sebuah suara bariton mengagetkan Venus.
Venus menarik nafas, berusaha tampak tidak terkejut dan bersikap biasa-biasa saja. "Bukankah bapak meminta saya membuatkan kopi sebagai hukuman atas keterlambatan saya kemarin?" Tanya Venus mengingatkan.
Sam menatap curiga pada Venus, melihat Venus yang bersikap manis tidak sebar-bar kemarin. Sam meletakkan tasnya di atas meja kemudian duduk. Ia menarik cangkir kopi itu kemudian menyesapnya.
"Tidak buruk!" Gumamnya dalam hati. Namun tidak mungkin ia memuji kopi buatan Venus. Haram baginya memuji orang lain.
"Bagaimana pak? Apa sudah sesuai dengan selera bapak?" Tanya Venus menunggu Samudera memberikan reviewnya untuk kopi buatannya.
"Hemmm.." Jawab Sam.
"Itu saja?" Gumam Venus dalam hati. Ia mengerutkan kedua alisnya.
"Ngomong-ngomong!" Venus kembali membuka suara, kedua tangannya saling meremas karena sedikit gugup dan takut. "Sampai kapan saya harus membuatkan bapak kopi? Maaf kalau saya lancang bertanya." Imbuhnya.
Samudera mengaitkan kedua tangannya di dadanya, menatap lurus kepada Venus dengan wajah datarnya.
"Sampai saya bosan dengan kopi buatanmu. Sekarang keluarlah!" Jawabnya dengan nada sombong.
Venus hanya bisa membola mendengar jawaban ketus dari Sam sambil mengulang kalimat itu di dalam hatinya.
"Sampai bosan? Enak saja, memangnya saya pembantunya apa? Dasar bos tidak ada akhlak." Umpat Venus dalam hati.
"Kalau ingin mengumpatku, jangan hanya sampai di ujung lidah. Suarakan saja dengan lantang!" Sindir Samudera yang berhasil membuat Venus kehilangan kata.
__ADS_1
Venus pun menggeleng, meminta pamit dengan bahasa tubuh dan akhirnya berlalu keluar kembali ke ruangannya.