
Sudah tiga hari berlalu semenjak usahanya gagal mengusir Venus menjauh dari kehidupan Samudera, sejak saat itu pikirannya tidak bisa tenang. Ketakutannya di masa lalu perlahan muncul kembali.
Wajah yang dimiliki oleh menantunya itu benar-benar mirip dengan orang-orang di masa lalunya.
Jeny berjalan lalu lalang mengitari jendela kamarnya, otaknya terus berfikir mencari benang merah yang masih tampak kusut itu.
Ketenangannya mulai terusik, ia tidak bisa membiarkannya. Di satu sisi, dia sama sekali tidak ingin lagi menjalin komunikasi dengan beberapa orang di masa lalunya, namun ia juga tidak bisa menepiskan rasa penasarannya.
Jika benar Venus adalah putri Aryan Sanjaya, sahabat suaminya, berarti mayat siapa yang ikut terbakar dalam ledakan mobil tersebut?
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Apa mungkin ada orang lain selain dirinya yang bermain di belakang Aryan?
Saat itu, setelah semua berkas kepemilikan perusahaan berpindah ke atas nama suaminya, Aryan berjanji akan segera meninggalkan Indonesia. Tetapi kejadian naas itu malah lebih dulu menimpa keluarga tersebut.
Meski tidak sesuai dengan rencananya, tetapi hal tersebut justru sangat menguntungkan baginya.
Lalu, jika sekarang anak Aryan tiba-tiba muncul di dalam kehidupan keluarganya, apa mungkin Venus datang untuk menuntut balas?
Jeny memijit kepalanya, perlahan mengatur nafasnya. Ia tidak ingin stress, ia tidak ingin terlalu banyak berfikir saat ini, ia hanya butuh seseorang untuk kembali mempertanyakan kebenaran yang sesungguhnya.
"
"
Venus memilih menyibukkan diri di kantor selama ditinggal Samudera ke Makassar. Andai boleh tidak pulang ke rumah, maka Venus akan memilih menginap di kantor atau di apartemennya lantaran malas bertemu dengan ibunya Samudera.
Perang dingin masih terus berlangsung diantara mereka, malah sepertinya lebih parah. Tatapan sinis seakan ingin membunuhnya hidup-hidup tampak jelas di mata perempuan tua itu.
Sering Venus bergidik ngeri sendiri, tidak anak tidak ibu, dua-duanya menyimpan sisi manakutkan.
Venus duduk sambil berputar-putar di kursi kerja Samudera. Otaknya sangat ribut dengan berbagai macam pikiran yang datang bertumpuk-tumpuk di kepalanya.
__ADS_1
Setelah usahanya untuk mengungkap kasus kematian orang tuanya menemui jalan buntu, mungkin jalan terakhir yang akan ditempuhnya adalah melalui Samudera.
Venus sangat yakin, jika orang yang terlibat dalam dengan kecelakaan orang tuanya masih ada di sekitarnya, tentu mereka akan muncul saat mengetahui jati dirinya.
Melihat Samudera yang masih sangat menginginkan dirinya tetap di sisinya, bolehkah dirinya berharap bahwa Samudera akan melindunginya dari orang jahat tersebut.
Ah, mengingat Samudera. Sudah beberapa hari kepergiannya tetapi sama sekali tidak memberi kabar. Entah sesibuk apa dirinya di sana, atau memang karena dirinya bukanlah prioritas utama dalam hidup Samudera hingga semenit pun dalam tiga kali dua puluh empat jam waktunya sekalipun tidak mengingatnya.
"Katanya jangan lupa rindukan aku, tapi dia sendiri yang mengabaikan aku." Bibir Venus lemas saja mengeluhkan suaminya itu.
Venus membenamkan wajahnya di atas meja, ketiadaan Samudera memang membuatnya barulah merasakan arti adanya Samudera saat ini. Seperti ada yang hilang, ibarat burung, maka seperti dia kehilangan satu sayapnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, buru-buru dia angkat berharap itu adalah Samudera namun ternyata bukan.
Venus menggeser tombol hijau tidak semangat.
"Iya mbak."
"Aku tunggu di lobby, kita makan siang di tempat biasa. Tidak ada penolakan."
Venus menatap layar ponselnya, mba Muthia tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Padahal ia sangat malas keluar karena sedang datang bulan, lagi banyak-banyaknya jadi tidak nyaman kalau harus kemana-mana.
Meski malas-malasan, Venus akhirnya bergegas menuju lobby.
Benar saja, di sana sudah ada mba Muthia sedang menunggunya di depan meja resepsionis.
"Itu muka kusut amat?" Tegur Muthia yang melihat Venus tidak bersemangat.
"Biasa, ada tamu bulanan."
"Kirain karena jarang dibelai." Ledek Muthia kemudian menarik lengan Venus untuk mengikuti langkahnya.
"Ini pada mau kemana nih?" Tiba-tiba datang sesosok laki-laki mengejar langkah mereka berdua.
__ADS_1
Venus dan Muthia menoleh ke asal suara dan benar saja, itu adalah Bintang.
"Eh, mas Bintang." Sapa Venus terseyum.
"Ini lagi girls day out, pak!" Jawab Muthia sembari melanjutkan langkahnya ke kafe yang ada di samping kantor. Tidak perlu jauh-jauh, Muthia hanya ingin mengajak Venus aja biar tidak sumpek di kantor.
"Oh, gitu yah? Kirain pada mau makan siang." Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu dia maksudnya, mas. Kami duluan yah..." Venus tersenyum kemudian sedikit menarik tangan mba Muthia agar segera pergi dari sana.
Bagaimanapun Venus harus menjaga sikap dan lingkungan pergaulannya. Ia tidak ingin lagi terlihat bersama laki-laki lain, Samudera adalah suaminya, harga diri dan kehormatan suaminya harus ia jaga, tidak boleh lagi seenaknya bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
Suasana kafe tampak ramai, mereka harus mengedarkan pandangan ke setiap sudut untuk mencari tempat duduk. Syukurnya masih ada yang kosong di paling pojok dekat kasir.
Beberapa saat setelah pesanan mereka datang, tiba-tiba Venus merasa benar-benar harus ke toilet untuk mengganti pembalutnya. Ia sudah tidak nyaman, rasanya tidak bisa ditunda lagi.
"Mbak, aku ke toilet dulu yah." Muthia hanya mengangguk, Venus segera bergegas ke toilet.
Sudah menjadi kebiasaan Venus membawa kantong plastik di dalam sakunya, bahkan di dalam tas tangannya selalu ada stock kantongan plastik di dalamnya. Semua itu untuk memudahkannya menyimpan sampahnya sementara di dalam tas atau sakunya jika tidak menemukan tempat sampah. Apalagi jika itu sampah pembalut, karena tidak mungkin baginya mencucinya terlebih dahulu jika itu di toilet umum, maka ia baru akan merasa lebih nyaman dan tenang jika sampahnya itu ia bungkus terlebih dahulu lalu dibuang ke tempat sampah.
Terkadang beberapa teman Venus merasa heran melihat Venus yang sering menyimpan sampahnya di dalam tasnya, tetapi kemudian banyak yang terinspirasi dan mengikuti jejaknya agar tidak membuang sampah sembarangan.
Tidak ingin membuat mba Muthia terlalu lama menunggunya, gegas Venus menyelesaikan urusannya di toilet.
Venus masih mengibas-ngibaskan tangannya yang masih sedukit basah saat keluar dari toilet, kebetulan sekali tissue toiletnya habis. Ia tidak terlalu memperhatikan sekitarnya dan berjalan sedikit menunduk karena melihat jilbabnya yang ternyata sedikit terkena cipratan air.
Venus tersentak karena sangat terkejut saat tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
Venus memekik namun dengan cepat bibirnya dibungkam sebuah tangan besar. Ia ditarik ke sisi belakang toilet yang sepi dengan satu tangan ditarik ke belakang sementara mulutnya dikunci. Sekuat tenaga ingin melepaskan diri namun kekuatannya kalah.
Di tengah rasa panik dan ketakutan yang melanda, tubuhnya didorong merapat ke sisi dinding yang sedikit tersembunyi.
"Jangan melawan, aku hanya ingin bicara sebentar!"
__ADS_1
Suara itu...
Venus bisa mengenalinya.