A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 49


__ADS_3

Venus mengurai tangannya yang sedari tadi memeluk Samudera setelah merasa perasaannya sudah mulai membaik, meski sesekali dia masih menarik ingusnya agar tidak terjatuh dari hidungnya.


"Maaf, baju kamu kotor karena ingus aku." Venus mengusap dan menepuk-nepuk kemeja Samudera yang tampak basah karena ulahnya seolah kegiatannya itu bisa membersihkannya.


"It's Ok!"


Venus terkadang bingung dengan sikap Samudera, ada kalanya ia sangat kejam, tetapi di lain waktu dia akan bersikap lembut dan menjadi orang yang paling baik memperlakukannya di dunia ini.


Venus menatap lamat-lamat wajah Samudera. "Sebenarnya apa mau kamu, Sam?"


Samudera menaikkan kedua bahunya lalu berfikir sejenak, "bergantunglah kepadaku dan cintai aku. Itu saja mauku!" Ucap Samudera pelan namun terdengar begitu mengintimidasi.


"Untuk apa? Bukankah kamu tidak butuh dicintai?"


"Iya, kamu benar. Tapi aku maunya itu, aku mau kamu cinta sama aku karena itu kamu, hanya aku pria di dunia ini yang boleh kamu lihat, hanya kepada aku cintamu itu kamu habiskan tanpa sisa lagi buat pria manapun di dunia ini, hanya aku yang boleh menjadi tempat bergantung dan berlindung kamu setelah Tuhanmu, pokoknya hanya aku yang boleh menjadi pusat duniamu. Dan satu lagi, jangan pernah mencoba pergi dariku karena aku pasti mendapatkan kamu meski kamu sembunyi di lubang semut sekalipun." Lembut suara Samudera seperti angin berhembus pelan yang seolah mampu menyihir kesadaran Venus.


"Lalu, setelah aku melakukan semuanya, apa yang akan aku dapatkan?"


"Kemewahan, kedudukan sosial, fasilitas, uang dan tubuhku..."


"Hatimu?" Tanya Venus penuh harap.


Samudera menggeleng, "kecuali itu."


Venus tersenyum miring, "kamu egois, Sam. Maaf, aku tidak bisa, aku tidak bisa mempercayakan hidupku kepada orang yang tidak mencintaiku."


"Apa sepenting itu cinta bagimu?"


"Sangat penting, untuk apa bersama kalau benci? Seperti kita!"

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau melepaskan kamu, kamu itu milikku sampai kapanpun." Kembali Samudera menegaskan rasa kepemilikannya.


"Tapi aku ingin pisah!" Suara Venus tercekak, entah mengapa menyebut kata perpisahan sekarang mulai terasa menyakitkan.


"Kamu mau pisah?" Tanya Samudera merapatkan gigi-gigi gerahamnya. "Oke, aku kabulkan." Mata Venus kembali menatap mata Samudera tidak percaya. Apa semudah itu?


Tangan Samudera menggapai satu pisau dapur di sana. "Tapi yang memisahkan kita hanya kematian." Ucapnya kemudian memindahkan pisau itu ke dalam genggaman Venus.


Samudera menarik tangan Venus yang memegang pisau itu ke arah dadanya dengan ujung pisau menempel tepat di jantungnya. Samudera mengambil tangan Venus yang bebas ikut memegang gagang pisau tersebut.


"Lakukanlah, ini kesempatan pertama dan terakhir kamu kalau ingin pisah dariku."


Venus tersentak saat Samudera memberinya bantuan menekan pisau itu semakin menusuk ke dada Samudera. Kemeja putih yang dipakainya mulai dirembesi darah. Tangan Venus bergetar. Air matanya kembali membanjiri wajahnya.


Reflek Venus menarik kedua tangannya lalu melemparkan pisau itu.


"Kamu gila, Sam???" Teriak Venus di wajah Samudera.


Entah dorongan darimana, satu tangan Venus menarik tengkuk Samudera kemudian meraup bibir Samudera yang memerah menahan amarah.


Samudera menyambutnya dengan penuh semangat dan rakus seolah takut ada yang ingin mengambilnya darinya.


Tangan Samudera meraih kedua paha atas Venus kemudian mengangkatnya sehingga reflek Venus melingkarkan kedua kakinya di pinggang Samudera. Begitupun dengan kedua tangannya yang sudah mengalung di leher Samudera.


Ciuman mereka semakin panas dan menuntut, mereka semakin terbakar oleh h*srat yang berkobar-kobar.


Samudera melepas pertautan bibir mereka setelah keduanya hampir kehabisan nafas. Jantung mereka bertalu-talu, dada dan hidung bergerak kembang kempis, tatapan mereka masih saling mengunci. Tanpa melepas Venus yang masih menggantung di perutnya.


"I want you, now!" Suara serak dan berat itu keluar dari mulut Samudera.

__ADS_1


Tanpa menunggu persetujuan Venus, Samudera kembali menyerang bibir Venus. Ia kemudian berjalan menekan salah satu dinding di dapur yang ternyata adalah pintu yang tersamarkan, ia terus merangsek masuk hingga membawa mereka sampai ke ruang pribadi Samudera.


Maka terjadilah serangan bibir Samudera, menginvasi setiap jengkal tubuh Venus, membuat Venus tidak mampu menahan suara-suara lucknut keluar dari bibirnya.


Dan ketika tiba pada inti permainan mereka, lima menit kemudian Samudera harus berkali-kali memohon maaf kepada Venus karena ia terlalu cepat keluar saking semangatnya.


Samudera merasa bersalah karena istrinya yang juga sudah dikuasai oleh hasrat yang Samudera perkirakan sudah berada diujung tanduk, mungkin tinggal butuh satu kali hentakan dan meledak sementara Samudera sudah tidak mampu lagi dan memutuskan secara sepihak untuk meledak duluan di dalam ruang rahasia istrinya itu.


"Sabar sebentar yah, sayang. Biarkan adikku istirahat dulu." Bisik Samudera dengan suara tersengal karena nafasnya masih memburu setelah pelepasannya.


Venus tidak menanggapi, ia memilih memunggungi Samudera. Entah kenapa Samudera terlihat sangat lucu di mata Venus saat ini. Baru kali ini Venus mendapati Samudera seolah tidak percaya diri dan menyesal.


Ingin rasanya Venus tertawa terbahak-bahak, ternyata ada juga sesuatu yang bisa membuat seorang Samudera Biru merasa tidak berdaya.


"Hei... jangan marah!" Ucap Samudera menarik pundak Venus agar berbalik menghadap kepadanya.


Venus berbalik sambil tersenyum geli melihat tampang Samudera yang berantakan dan meringis memintanya bersabar sedikit lagi.


"Apaan sih, Sam. Aku enggak apa-apa. Sumpah!"


"Tapi kan kamu gantung!" Ucapnya dengan wajah sendu.


'Yaa ampun... ini Samudera apa bukan sih?' Batinnya. Venus benar-benar tidak menyangka sisi manja Samudera yang seperti anak kecil itu.


"Heiii.. kenapa merasa bersalah begitu? Catet yah, bagi kami perempuan, **** itu adalah urutan ke-sepuluh setelah sekian banyak hal di dunia ini. Perempuan itu beda sama laki-laki, kalau enggak tuntas bukan masalah besar. Bohong besar tuh kalau setiap kali bercinta si perempuan pasti dapet, apalagi sampe berkali-kali. Mungkin ada yang begitu, tapi hanya satu diantara sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan perempuan di dunia ini. Justru kalau lakinya terlalu lama dapat malah membuat perempuan bisa mikir yang bukan-bukan, apa dia gagal membuat suaminya bergairah? Apa dia sudah tidak menarik lagi? Apa jangan-jangan suaminya tertarik dengan perempuan lain makanya susah keluar karena feelnya udah hilang sama istrinya?" Ucap Venus panjang lebar berusaha membuat Samudera tenang.


Samudera melongo mendapatkan penjelasan Venus. "Apa memang seperti itu? Kamu tau darimana?"


"Yaa dari jurnal-jurnal penelitian tentu saja, bukan dari novel-novel khusus 21+++." Jawab Venus asal, padahal dia juga hanya menjawab asal apalagi mengenai angka yang dia sebutkan tadi.

__ADS_1


Tapi melihat Samudera yang mulai tenang, Venus merasa tidak bersalah lagi karena sudah mengarang bebas untuk suaminya.


__ADS_2