A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 73


__ADS_3

"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah mengambil keputusan?" Tanya Robby kepada Samudera setelah membahas urusan pekerjaan di ruang kerja Samudera yang letaknya berada di depan kamar tidurnya.


Samudera menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar di sandaran kursinya, kedua sikunya bertumpu di atas meja dengan telapak tangan mengapit hidung dan mulutnya.


"Aku tidak tau bagaimana memulainya. Semuanya terasa berat, aku takut Venus kecewa, aku takut Venus marah dan semakin membenciku. Aku paksa nikah aja sampe sekarang belum dimaafin, kalau tambah masalah ini lagi, aku seperti hilang harapan." Samudera menghela nafas kasar lalu menunduk, satu tangannya memijit pelipisnya.


"Itu adalah konsekuensi dari sebuah kejujuran. Cepat atau lambat, Venus akan tau. Tetapi alangkah baiknya jika dia taunya langsung dari mulut kamu, bukan dari orang lain. Kalau dari orang lain, bisa lebih bisa kurang informasinya dan itu disampaikan berdasarkan subjektifitasnya, aku rasa itu lebih beresiko." Ucap Robby memberi pandangan. Ia tidak ingin melihat Samudera terlalu lama memenam masalahnya sendiri karena itu berefek ke psikologisnya.


"Jadi... harus dari mana memulainya? Apa mulai dari asal usulku yang bukan anak kandung ayah? Atau mengatakan bahwa ibu Venus tidak salah sama sekali tetapi yang salah adalah ibuku... ibuku yang murahan, bukan ibunya... atau langsung ke topik utamanya bahwa yang membunuh kedua orang tua Venus adalah selingkuhan ibuku yang tidak lain adalah adik kandung ayahku.. ah bukan... pembunuh itu adalah ayah biologisku..." sesak sekali rasanya mengungkapkan semua itu.


Arrggghhhh...


Samudera menjambak rambutnya dengan kedua tangannya yang mengepal kual. Rahangnya mengeras dengan gigi-gigi saling menekan. Dadanya naik turun menahan gemuruh di dalam sana. Ia menelungkupkan wajahnya menempel di atas meja, air matanya membanjir di sana. Tangannya memukul-mukul permukaan meja, menyalurkan semua kesakitan dan kekecewaannya.


"Aku malu, Rob!" Ucapnya lirih kemudian membuang punggungnya bersandar di kursi.


Robby memejamkan matanya, meraup udara sebanyak-banyaknya masuk ke dalam saluran pernafasannya dan menghembuskannya perlahan. Ia tahu betapa hancur dan kecewanya Samudera dengan kenyataan menyedihkan sekaligus memalukan itu. Ditambah lagi hubungan dan keterkaitannya dengan Venus. Semua itu menambah bebannya.


Robby pun tidak bisa menduga-duga bagaimana reaksi Venus setelah ini, karena Venus bisa berada di titik ini sampai saat ini karena rasa ingin tahunya akan kebenaran yang sesungguhnya.


"Tenangkan dirimu, Sam. Ingat, ada Alea diantara kalian. Pikirkan masa depan dan kebahagiaan anakmu, Venus juga dan yang terpenting adalah kebahagiaanmu sendiri.


Jika kamu yakin dengan Venus, jujurlah dan berjuanglah.


Mungkin Venus akan marah dan kecewa diawal, tetapi itu tidak akan lama karena kamu adalah suaminya, ayah dari anaknya. Aku bisa melihat ada binar-binar cinta yang besar di matanya saat memandangmu. Percayalah! Hati perempuan itu sangat lembut, meski sekeras batu sekalipun, pada akhirnya akan luluh juga jika terus diberi tetesan-tetesan yang menyentuh."

__ADS_1


Samudera tertarik dengan kalimat terakhir Robby, wajahnya mendongak menelisik dalam ke mata Robby, mencari kebenaran di sana.


"Apa kamu yakin?"


"Aku sangat yakin, justru yang aku ragukan itu adalah dirimu. Apakah kamu mencintainya?" Tanya Robby menatap lekat ke dalam netra tajam Samudera.


"Aku..." Mulut Samudera terbungkam karena merasakan denyut jantungnya yang tiba-tiba berpacu kencang. Tangannya meraba-raba dadanya yang terasa sakit dan berbunga-bunga diwaktu yang sama.


"Ini... di sini..." Samudera menunjuk jantungnya. "Dia selalu menggila setiap kali ada di dekat Venus. Di dekatnya, laksana telaga surga sudah di depan mata. Sentuhannya selalu membangkitkan getaran beribu-ribu volt dari ujung kaki hingga ujung kepalaku. Saat jauh, itu neraka! Yang ada hanya siksaan."


"Maka katakanlah yang sesungguhnya dengan sebenar-benarnya! Kamu tidak akan pernah tau perasaan Venus selama kamu tidak mencobanya. Lakukanlah dan terima resikonya dengan gentle!"


Samudera dan Robby masih saja terus melanjutkan pembahasan mereka tanpa tahu bahwa ada seseorang yang sedari tadi tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.


Pikirannya sudah mengabur setelah mendengar Samudera mengatakan siapa pembunuh kedua orang tuanya. Dirinya sudah tidak bisa lagi mencerna ucapan-ucapan Samudera dan Robby di dalam sana. Ia terlalu shock mendengarnya.


Venus berjalan bagai mayat hidup kembali ke kamar Alea. Bahkan ketika Alea menangis, butuh waktu beberapa menit baginya untuk membawa kesadarannya agar fokus kepada Alea.


Tangis Venus ikut pecah seiring dengan tangis Alea yang melengking meminta perhatiannya.


"Maafin mommy, sayang... maaf. Kamu mau susu, ayo sini sama mommy!" Ucap Venus dengan tangis masih berderai di wajahnya.


Venus memandangi wajah Alea intens, memindainya dengan sedetail mungkin ke dalam memori terdalamnya.


"Apapun yang terjadi, Alea harus tau kalo mommy sangat menyayangimu, sangat!" Venus meletakkan telapak tangannya di dada kiri Alea, mengelusnya dengan lembut dan penuh sayang.

__ADS_1


"Ingatlah di sini, simpan nama mommy selalu!" Venus menciumi seluruh wajah Alea dengan sayang.


Beberapa jam kemudian, tidur Venus terganggu karena merasakan berat di atas perutnya. Sempat kaget namun ketika hidungnya memindai aroma yang disukainya entah kapan itu membuatnya sedikit tenang. Itu Samudera.


Jika beberapa malam terakhir ia sering bermimpi ada Samudera yang memeluknya, kini ia dalam keadaan sadar dan menemukan Samudera ada di sana.


Pelan-pelan Venus bergerak memutar tubuhnya menghadap Samudera.


Venus meneliti maha karya sempurna Tuhan yang tercetak di wajah suaminya itu. Tidak cukup dengan matanya saja, tangan kanan Venus pun tidak mau kalah ingin menikmati dan menyentuhnya.


Mata Venus membulat lebar ketika tangan Samudera sigap menangkap jarinya. Matanya tajam menyorot Venus lalu kemudian perlahan tatapan itu berubah teduh dan hangat.


Netra mereka saling mengunci dan tidak ada yang ingin mengalah, seperti ada tarikan gravitasi yang membuat deru nafas mereka terasa semakin dekat hingga kedua pasang bibir itu saling berpadu menautkan dua hati yang telah lama sudah begitu merindu.


Samudera sudah tidak bisa lagi menahan dirinya, tidak ada yang bisa menghalanginya kali ini untuk menghabiskan semua tabungan rindu dan hasratnya yang bergelora kepada perempuan yang sudah memenuhi hati dan pikirannya selama ini.


Samudera bergerak cepat naik ke atas tubuh Venus tanpa melepas tautannya meski nafas mereka berdua memburu berkejaran mengambil udara di sekitar mereka. Tidak ingin berat tubuhnya menyiksa istri mungilnya itu, semua bobotnya ia tumpukan pada kedua siku dan lututnya.


Bibir mereka masih sama-sama enggan berpisah menghadirkan suara-suara decapan yang basah dan syahdu.


Venus mengerang hingga tidak sadar menggigit bibir Samudera ketika satu tangan Samudera yang hangat dan besar menyapu dan menekan kuat dadanya. Ditambah lagi dengan bukti gairah suaminya yang terasa berdenyut menekan perutnya.


Ciuman mereka terlepas, nafas pun saling memburu dan netra mereka masih saling mengunci yang sama-sama menyimpan kabut gairah di sana.


Tidak ingin berlama-lama, Samudera kembali meraup bibir Venus dengan lebih intens, lebih menuntut dan penuh gairah.

__ADS_1


__ADS_2